C. MASALAH SOSIAL KEKRISTENAN

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar ketiga (KD 3), yaitu mahasiswa dapat menyelidiki masalah-masalah sosial dalam kehidupan kekristenan. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Menyelidiki masalah-masalah sosial kekristenan dengan konsep-konsep sosiologis. (2) Menyelidiki masalah penyimpangan-penyimpangan sosial dalam kekristenan. (3) Menyelidiki masalah konflik-konflik sosial dalam kekristenan.

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini pada dasarnya adalah penerapan dari konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami masalah-masalah sosial dalam kehidupan kekristenan. Dengan konsep-konsep itu mahasiswa dibantu untuk mengkritisi masalah-masalah kekristenan yang sedang terjadi yang sering tidak dipedulikan.

MATERI

Pendahuluan

Sebagai suatu masyarakat yang sangat heterogen – terdiri dari banyak aliran, kelompok, organisasi, dst – kekristenan sebenarnya mengalami banyak masalah. Namun para pemimpin sering menutup-nutupi masalah-masalah itu. Sementara kebudayaan internal yang ada tidak mendorong orang-orang Kristen untuk bersikap kritis. Membicarakan masalah-masalah seperti itu dirasa tabu karena dianggap mempermalukan diri sendiri. Adapun konsep-konsep sosiologi ini membantu menyingkapkan dan menganalisa secara kritis masalah-masalah kekristenan.

Masalah-masalah Sosial Kekristenan

Bertolak dari konsep-konsep yang telah dipelajari (Category B), masalah-masalah kekristenan yang akan dibahas mencakup soal-soal proses sosial, kelompok sosial, lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, kebudayaan, perubahan sosial, serta kekuasaan dan wewenang. Supaya lebih praktis akan dibahas kasus-kasus di bawah ini.

Kasus 1

Berikut adalah laporan George Ottis tentang perkembangan gereja-gereja di kota Cali, Kolombia (1999, hal 36-36). Awalnya kota Cali dikenal sangat bobrok, kriminal, dan menjadi pusat perdagangan obat bius. Prihatin karena masalah itu, pendeta Julio yang menggembalakan di gereja di Cali sejak 1978 ingin menggalang kesatuan gereja-gereja untuk berdoa bersama dan bertindak bersama merubah kehidupan kota Cali. Bertahun-tahun setelah usahanya menggalang kesatuan itu, terjadi gerakan kesatuan antar gereja. Pada Mei 1995, diadakan acara doa bersama yang diikuti 25.000 orang Kristen dari berbagai gereja. Akibatnya, terjadi mujizat, di mana pemerintah secara luar biasa berhasil menangkap raja-raja obat bius di sana. Namun, pendeta Julio kemudian dibunuh oleh para penjahat. Kematian Julio ternyata justru menggerakkan para pendeta dari berbagai gereja di Cali – yang dulunya tidak bisa bersatu – kemudian bersatu. Setelah gereja-gereja bersatu dan bekerjasama, pertumbuhan kekristenan di sana pun meningkat pesat.

Kasus di atas berkaitan dengan masalah ”proses sosial” sebagai berikut

  • Persatuan gereja-gereja di Cali terjadi karena pendeta Julio yang memelopori kesatuan itu melakukan interaksi (kontak dan komunikasi) dengan kekristenan di sana. Julio melakukan kontak langsung dengan hidup di Cali. Julio juha mengkomunikasikan pesan-pesan untuk mempersatuan para pemimpin di Cali.
  • Apa yang terjadi dalam kehidupan Kristen di Cali adalah proses kerjasama (cooperation) yang nyata antar gereja-gereja yang ada. Wujudnya adalah kegiatan doa dan ibadah bersama.
  • Gereja-gereja di Cali juga melakukan proses conciliation, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan  untuk mencapa persetujuan bersama. Dalam konteks Cali, masalah bersama (musuh bersama) yang dihadapi mendorong gereja-gereja di sana untuk bersatu. Visi untuk membawa perubahan masyarakat mendorong mereka untuk bekerjasama.
  • Tetapi, proses asosiatif gereja-gereja di Cali tidak mengarah kepada asimilasi atau penyatuan dalam arti peleburan menjadi satu. Sama seperti kekristenan di berbagai tempat lain, gereja-gereja Kristen di Cali tetap terorganisir dalam berbagai aliran dan denominasi yang berbeda-beda. Namun, beda dengan dulu, sekarang terjalin kerjasama di antara kepelbagaian itu.

Kasus 2

Robert Nio Tjoe Siang alias Mang Ucup menulis sindiran tentang ”Gereja Cyber” (2004, 75-77). Sekarang gereja-gereja sudah memanfaatkan teknologi internet sehingga jemaat bisa mengikuti renungan, pelajaran Alkitab, dan saat teduh vis internet. Di gereja cyber, kita bisa ikut ibadah tanpa terganggung orang lain. Secara imajinatif digambarkan bahwa kebaktian Minggu dimulai dengan klik ”here” atau ”klik di sini”. Persembahan bisa dilakukan ala e-comerce dengan menggunakan kartu kredit. Doa dikirim via e-mail.

Kasus itu berkaitan dengan masalah proses sosial sebagai berikut:

  • Gereja adalah persekutuan orang percaya yang berarti harus ada interaksi (kontak dan komunikasi) antar anggotanya.
  • Kontak dan komunikasi bisa saja dilakukan secara sekunder dengan media. Namun menurut Alkitab, kontak antar orang percaya harus dilakukan secara primer (langsung), terlihat dari perintah supaya jangan meninggalkan persekutuan dan ibadah.

Kasus 3.

Berikut adalah laporan dari Larry Stockstill yang meneliti gereja lokal yang dikelola dengan sistem “gereja sel” (1998, hal 7). Pada 1993, saya masuk di sebuah gereja Kristen di Singapura. Gereja itu terdiri dari 400 kelompok sel dan 6.000 anggota. Ada kantor-kantor distrik yang tersebar secara geografis untuk menjaga pusat-pusat sel di mana seorang “gembala distrik” dan beberapa “gembala area” mengawasi satu wilayah geografis.

Kasus itu menunjukkan bahwa kekristenan merupakan masalah kelompok sosial

  • Gereja telah mengalami evolusi dari bentuknya yang semula hanya menekankan ibadah raya menjadi pembagian dalam kelompok-kelompok kecil (small group)
  • Kelompok sel pada dasarnya merupakan bentuk primary group yang bersifat gemeinchaft, menekankan kebersamaan, keintiman, dan kekeluargaan yang kental.
  • Dalam gereja bersistem sel ini keanggotaan sangat ditekankan (membership group). Tidak seperti gereja biasa yang jemaatnya bisa datang dan pergi. Dalam gereja sel setiap jemaat harus “tertanam” kuat.
  • Akibatnya, in-group feeling mereka sangat kuat. Ini menjadi biang fanatisme terhadap gereja mereka sendiri dan memperkuat rasa out-group sehingga – sekali pun sesama Kristen – namun karena bukan dari gerejanya, dianggap sebagai orang lain. Akibatnya lebih jauh, terjadi perpecahan antar orang-orang Kristen yang berbeda gereja.
  • Gereja dengan sistem sel berbasis wilayah sehingga merupakan sebuah community. Akibatnya, sebuah wilayah di dalam sebuah kota misalnya, bisa “diperebutkan” oleh beberapa gereja yang berbeda.

Kasus 4.

Berikut adalah catatan pengamatan lapangan oleh Dr. Aritonang tentang ibadah sebuah gereja Karismatik di AS (1996, hal 194-195). “…. Kebaktian diawali dengan serangkaian lagu pujian dan penyembahan yang dipimpin beberapa biduan, diiringi separangkan band. Setiap lagu pujian diulang 5-10 kali, sebagian bernada riang dan sebagian lagi bernada romantis penuh perasaan. Lagu-lagu dilantunkan sambil semuanya bangkit berdiri selama tidak kurang 45 menit terus-menerus. Sambil bernyanyi banyak pengunjung yang bertepuk, atau mengacungkan tangan, atau menari berputar-putar, atau melipat tangan dengan tubuh bergetar dan bibir komat-kamit, atau merintih, bagaikan kesurupan ataupun sedang mencapai puncak kenikmatan, tergantung pada jenis lagu dan pada penghayatan masing-masing. Yang tak tahan berdiri dan bergerak terus-menerus, bebas duduk kembali. Juga bebas minum-minum. Pokoknya santai dan tidak bersuasana resmi. Sementara itu beberapa pasang muda-mudi di bagian belakang ruangan berangkulan mesra sambil tetap mengikuti acara. Sementara acara “pemanasan” itu berlangsung, pendeta seniornya duduk santai di barisan paling belakang, mengenakan pakaian biasa (tidak pakai jubah atau toga)…. Sementara kotbah, pengunjung bebas meninggalkan ruangan (kalau bosan atau merasa acara terlalu panjang).Setelah berlangsung lebih 2 jam, acara ditutup dengan doa dan nyanyian. Sebelum acara berakhir, hampir setengah pengunjung sudah pulang lebih dulu.”

Masalah ibadah gereja Kristen Karismatik itu merupakan masalah agama sebagai sebuah lembaga kemasyarakatan (social institution).

  • Ibadah Kristen gaya Karismatik pada kasus di atas menunjukkan kurangnya penegakan norma-norma yang terkait dengan kedisiplinan (kesucian), terlihat dari bebasnya orang berpacaran pada saat ibadah berlangsung.
  • Tetapi di sisi lain, ibadah itu menunjukkan sebuah usaha untuk membebaskan kekristenan dari belenggu norma-norma keagamaan yang kaku. Pada agama-agama tertentu, semuanya serba diatur ketat, sampai pada tataran cara bertindak (usage), kebiasaan (folkways), dan tata kelakuan (mores). Misalnya cara makan dan cara berpakaian. Kristen karismatik berusaha melepaskan semua belenggu keagamaan itu supaya bisa lebih menghayati hal-hal kerohanian secara emosional dan ekspresif.
  • Jika ditinjau dari Alkitab, Paulus juga menekankan pentingnya norma-norma dalam beribadah seperti dikatakan Paulus sebagai berikut (1 Kor 14:26-40): ”Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi – baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi tunduk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”

Kasus 5.

Pada gereja-gereja Kristen tertentu, posisi sebagai pemimpin (pendeta, gembala) tidak bisa diperoleh begitu saja. Jika seorang pendeta mangkat, akan diteruskan oleh istrinya, dan kemudian anaknya. Sekalipun ada orang lain yang lebih berpotensi di gereja itu, tidak bisa menggeser posisi anak pendeta begitu saja. Jika ada jemaat yang ingin menjadi pendeta maka ia harus membuat gereja baru di luar gereja di tempat mana ia berjemaat.

Kasus ini merupakan kasus yang berkaitan dengan konsep stratifikasi sosial

  • Gereja tersebut memiliki sitem pelapisan sosial yang tertutup (closed social stratification) di mana sulit terjadi mobilitas sosial vertikal seperti dalam sistem kasta.
  • Status sebagai pendeta (pemimpin rohani) dianggap sebagai sebuah ascribed status yaitu status yang dimiliki secara keturunan seperti halnya menjadi raja karena anak seorang raja. Padahal di dalam Alkitab dikatakan bahwa pemimpin adalah pilihan Tuhan, diangkat oleh Tuhan sendiri.

Kasus 6.

Berikut adalah catatan Larry Stockstill tentang sebuah gereja bersistem sel (gereja sel) di Bogota (1998, hal 83-84).  Cesar dan Claudia Castellanos memulai pelayanan kecil mereka, Mision Charismatica Intenational di Bogota, Kolombia [ada 1983. Setelah beberapa tahun, gembala kaum muda mereka, Cesar Fajardo, memulai proses yang serupa dengan yang dilakukan Maiwa’azi Dan Daura, yaitu dengan memuridkan 12 remaja. Kedua belas remaja itu pada gilirannya ditugaskan untuk mencari 12 anak muda lain (umur 16-25) untuk dimuridkan dan dilepaskan ke dalam pelayanan sebagai asisten mereka. Struktur piramida hubungan pelayanan yang sangat besar itu sekarang telah mencapai tiga ”generasi dua belas”. sebagian di antaranya sedang bekerja untuk mengembangkan generasi ke empat.

Kasus itu jelas menggambarkan masalah stratifikasi sosial dalam gereja

  • Pengembangan gereja dilakukan seperti dalam bisnis MLM (multi level marketing) di mana seseorang pemimpin mempunyai beberapa downline yang terus berkembang ke bawah sehingga terbentuklah sebuah ”struktur piramida”.
  • Sistem ”struktur piramida” seperti itu menempatkan setiap orang pada level ”generasi”-nya sendiri-sendiri. Anggota baru jelas akan lebih rendah ketimbang anggota lama yang sudah lebih dulu masuk dan menjadi pemimpin.
  • Sistem pembinaan jemaat seperti itu, diperkuat dengan istilah seperti ”bapak rohani”, ”anak rohani”, ”cucu rohani”, dan seterusnya jelas membangun sebuah sistem stratifikasi yang relatif tertutup yang tidak memungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal.

Kasus 7.

Aimee Semple McPherson (1890-1944) adalah seorang pendeta wanita yang mendirikan gereja besar dan denominasi besar Foursquare. Gedung gereja megah yang dibangunnya dan diberinya nama Angelus Temple menyajikan layanan ibadah yang merupakan perpaduan kebudayaan yang kompleks (Liardon, 1998, hal 178-180). Aimee menyusun paduan suara dan grup musik dengan alat-alat musik terbuat dari kuningan. Para pemusik dan penyanyi mengenakan kostum-kostum khusus. Dekorasi ditata rapi dengan sentuhan seni yang artistik. Ia pernah mendisain kotbahnya seperti sebuah pertunjukan sirkus. Itulah sebabnya pelayanan ibadah Aimee menarik perhatian para selebritis Hollywood untuk mengikuti kebaktian-kebaktian itu. Namun beberapa pendeta lain mengkritik dan bahkan menentang metode pelayanan Aimee tersebut.

Kasus itu merupakan masalah kebudayaan

  • Kebudayaan mencakup hasil karya (teknologi, benda materi), rasa (seni), dan cipta (iptek) manusia. Ibadah yang dikembangkan di gereja itu terlihat memadukan unsur-unsur kebudayaan tersebut.
  • Namun kehadiran gereja Aimee ternyata dianggap tidak lazim, tidak sesuai dengan ”budaya induk” (budaya kekristenan) yang ada. Gereja itu dianggab sebagai sub culture dan bahkan dianggap sebagai counter culture walau sebenarnya bersifat inovatif.

Kasus 8.

Menurut catatan John Naisbitt kekristenan mengalami kemunduran dan sekaligus kebangkitan besar pada era 1990-an (1990, hal 257-258). Di satu sisi kekristenan arus utama (mainstream) mengelami kemerosotan tajam. Misalnya United Metodist Church menurun dari 11 juta anggota pada 1965 kini tinggal 9,2 juta anggota. Juga Presbyterian Church di AS kehilangan 1 juta anggotanya. Tiga denominasi Lutheran juga kehilangan lebih dari setengah juta anggotanya. Sementara itu, gereja-gereja Kristen yang bersifat fundamentalis dan spiritualis – aliran Pentakosta dan Karismatik – mengalami kebangkitan yang luar biasa. Gerakan Kristen karismatik sebelum 1990-an saja sudah mencakup 300 juta anggota di seluruh dunia.

Kemunduran Kristen arus utama dan kebangkitan aliran Pentakostal-Karismatik yang lebih fundamentalis dan spiritualistik merupakan bentuk perubahan sosial:

  • Perubahan kekristenan itu pada dasarnya merupakan perubahan pola-pola kehidupan seperti dikatakan Samuel Koenig. Menjadi Pentakosta-Karismatik merupakan perubahan pola-pola hidup rohani (pertobatan, menjalani pola hidup ”lahir baru”, ketekunan ibadah dan doa, hidup beriman, dst). Dalam gereja-gereja arus utama (Protestan) biasanya kurang ditekankan kehidupan rohani yang militan. Kekristenan Pentakosta-Karismatik jauh lebih bersifat fundamental, spiritualistik, puritan, dan militan.
  • Perubahan dari kekristenan ”tradisional” menuju Pentakostal-Karismatik sering merupakan proses revolutif yang tak jarang dibarengi dengan gerakan ”revolusi” seperti kasus ”perpindahan gereja” dan ”perpecahan gereja”.
  • Perkembangan Pentakosta-Karismatik tidak lepas dari peran para agent of change. Aliran baru ini mempunyai dan menampilkan banyak pengkotbah karismatik yang sangat giat. Mereka, tidak seperti gereja tradisional yang konvensional, giat mengadakan kampanye-kampanye penginjilan dan kebaktian-kebaktian kebangunan rohani akbar untuk menarik banyak anggota baru.
  • Pembaruan Pentakosta-Karismatik membawa disorganisasi (disintegrasi) pada kelompok-kelompok Kristen arus utama, terbukti dari merosotnya jumlah kuantitas mereka. Beberapa gereja tradisional kemudian melakukan adjustment dengan mereorganisasi diri dengan menerima nilai-nilai baru yang diajarkan oleh arus baru tersebut.

Kasus 8.

William Marion Branham (1909-1966) adalah seorang penginjil-pengkotbah kesembuhan illahi dan pemimpin Kristen yang kontroversial (Liardon, 1998, hal 74-117). Kampanye-kanpanye penginjilannya sering disertai mujizat-mujizat kesembuhan yang ajaib. Perkataan-perkataan Branham berkualitas ”nubuat” (pesan Tuhan yang bersifat supranatural). Sayangnya, pada paroh pelayanannya, Branham mengusir Gordon Lindsay – pendampingnya yang adalah seorang ahli teologia. Ia merasa bisa berjalan sendiri karena diberi kekuatan (urapan) oleh Tuhan. Namun karena tidak adanya kontrol dari Lindsay, pengajaran Branham menjadi sesat. Ia bahkan mengajarkan bahwa wanita itu bukan ciptaan Tuhan melainkan benih dari ”si ular” (setan). Wanita harus dihukum, sedangkan pria boleh berpoligami dengan bebasnya. Meskipun sudah sedemikian sesat, para pengikutnya tetap setia dan fanatik. Walau sudah meninggal pada 29 Desember 1965, jasadnya tidak segerak dikuburkan karena para pengikutnya yakin kalau Branham akan bangkit kembali menjelang Paskah 1966. Bahkan mereka yakin bahwa pada saat Branham bangkit nanti akan terjadi juga pengangkatan (rapture) orang-orang percaya ke sorga. Akhirnya, karena tidak juga bangkit, Branham dikuburkan pada 11 April 1966. Sampai 1980-an para Branhamites itu tetap selalu mengadakan ibadah Paskah khusus di mana sebagian dari mereka menantikan kebangkitan sang nabi pujaan tersebut.

Kasus Branham dan Branhamites itu merupakan masalah kekuasan dan wewenang:

  • Kekuasaan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga si penguasa mempunyai pengikut banyak. Branham bukan hanya pengkotbah namun juga pemimpin (penguasa) rohani yang mempunyai banyak pengikut setia yang militan.
  • Kekuasaan terjadi karena ada unsur rasa cinta, rasa takut, kepercayaan, dan pemujaan. Dalam kasus Branhamites, unsur-unsur itu terjadi dan berkembang secara ekstrem.
  • Wewenang yang dimiliki Branham adalah wewenang karismatis di mana para pengikutnya percaya bahwa Branham mempunyai wahyu dan orotitas supranatural dari Tuhan. Hal itu sama seperti kasus penduduk desa di Jawa percaya kepada kepala desanya yang telah menerima pulung dari langit sehingga ditetapkan Tuhan sebagai pemimpin atas mereka.

Penyimpangan-penyimpangan dalam Kekristenan

Kebudayaan adalah sistem norma yang memberi petunjuk kehidupan (design for living) karena berisi aturan-aturan tentang pola-pola perilaku masyarakat (pattern of bevaior). Sistem norma itu ada beberapa tingkatan: (1) cara [usage] yaitu suatu bentuk perbuatan, (2) kebiasaan [folksways] yaitu perbuatan yang sama yang diulang-ulang, (3) tata-kelakuan [mores] yaitu kebiasaan yang dianggap baik dan benar, (3) adat-istiadat [custom] yaitu tata cara yang jadi panutan yang kalau dilanggar diberikan sanksi tegas. Meskipun demikian banyak orang sering melanggar norma-norma itu (perilaku menyimpang, social deviation) sehingga masyarakat harus melakukan pengendalian sosial (social control) dan memiliki orang-orang secara khusus diberi tugas untuk menegakkan norma-norma itu.

Kasus 9.

Meski homoseks merupakan perilaku menyimpang, beberapa aliran gereja Kristen masa kini justru mendukung dan mengesahkan perilaku tersebut (Herlianto, 1995, hal 61-67). Pada 1972, di United Church of Christ di San Francisco seorang gay diangkat menjadi pendeta. United Methodist Church dalam Sidang Pemuda (1974) memberikan resolusi agar “homoseksualitas tidak dijadikan penghalang bagi mereka yang mau melayani”. Troy Perry adalah pendeta gay yang mempunyai pengikut (jemaat) kaum gay. Troy mengatakan, “Allah mengasihi setiap orang, termasuk kaum homoseks. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Ia juga menciptakan kaum homoseks.Karena itu homoseksualitas merupakan pemberian Allah.”

Gejala itu merupakan masalah penyimpangan social sebagai berikut

  • Bagi masyarakat Kristen secara umum, nilai-nilai dan norma-norma kesucian dijunjung tinggi. Dengan demikian orang-orang Kristen homoseks adalah orang-orang yang dianggap berperilaku menyimpang. Kalau ada kelompok Kristen homoseks, mereka dianggap sebagai counter culture yang bertentangan dengan ”budaya induk” Kristen.
  • Munculnya kaum gay Kristen menunjukkan kurangnya control social (social control) di dalam kekristenan. Hal itu terjadi karena komunitas Kristen bersifat heterogen dan tidak ada sistem kepemimpinan hirarki seperti dalam Katolik.
  • Di sisi lain, fenomena homoseksialitas dalam Kekristenan di atas menunjukkan telah terjadinya perubahan social yang merupakan perubahan pada norma-norma (lembaga kemasyarakatan). Telah muncul sistem norma baru tentang seksualitas yang kini dikenal sebagai ”Teologi Gay”. Hadirnya kebudayaan baru itu menyebabkan proses disorganisasi gereja sehingga terjadi pertentangan/pertikaian yang kadang berujung perpecahan dan munculnya aliran-aliran Kristen baru.

Konflik-konflik dalam Kekristenan

Di dalam interaksi sosial sering terjadi proses-proses yang bersifat disosiatif seperti persaingan, kontravensi, dan pertikaian/pertentangan (social conflict). Persaingan mempunyai nilai positif untuk mendorong orang berprestasi, misalnya persaingan dalam dunia pendidikan dan ekonomi. Namun tak jarang persaingan terjadi dengan tidak sehat dan cenderung menjadi kontravensi yang akhirnya menjadi konflik. Hal-hal seperti itu sering juga terjadi di dalam kekristenan.

Kasus 10

Berikut adalah kejadian di sebuah kota. Di kota itu sudah ada cukup banyak gereja. Tiba-tiba, tanpa melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap gereja-gereja dan para pemimpin Kristen yang ada di kota itu, seorang pendeta asal luar kota datang, tinggal, dan mendirikan gereja baru. Dengan kekuatan modalnya yang sangat besar, gereja baru itu langsung mempunyai fasilitas (gedung, sound system, musik, dll) yang sangat bagus. Lalu, tim dari gereja itu berusaha untuk mendapatkan pengikut (jemaat) dengan cara merebut jemaat-jemaat yang sudah menjadi anggota gereja-gereja yang sudah ada di kota itu. Tim gereja baru itu bahkan memberi fasilitas antar jemput dan makan-minum bagi mereka yang mau menjadi anggota gereja baru itu. Alhasil dalam waktu setahun saja gereja baru itu sudah mempunyai banyak pengikut (jemaat). Akibatnya, gereja-gereja lain menjadi marah karena merasa dirugikan (jemaatnya dicuri). Apalagi gereja baru itu berani membayar (menggaji) mahal para aktivis yang sudah bekerja (melayani) di gereja-gereja lain namun mau berpindah bekerja di gereja baru tersebut. Kotbah-kotbah di gereja baru itu senantiasa memprovokasi bahwa gereja baru itulah yang terbaik dan gereja-gereja lain tidak baik. Hal itu menumbukan sikap fanatik jemaat gereja baru itu sehingga tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen di luar gerejanya. Kejadian nyata ini ternyata juga terjadi di berbagai kota lain.

Secara sosiologis, kasus di atas merupakan proses yang bersifat disosiatif yang terjadi dalam interaksi masyarakat Kristen.

  • Masyarakat Kristen pada dasarnya heterogen. Pada Buku Data dan Statistik Keagamaan Kristen Protestan tahun 1992, dicatat ada 275 organisasi gereja dan 400 yayasan Kristen (Aritonang, 1996, hal 1). Heterogenitas itu menimbulkan suasana persaingan antar gereja. Apalagi jika setiap gereja berorientasi pada pertumbuhan jumlah jemaat, kemungkinan untuk saling berebut anggota sangatlah besar. Setiap gereja berlomba-lomba memberikan layanan terbaik untuk menarik pengikut baru. Persaingan mendorong setiap gereja untuk maju.
  • Persaingan menjadi tidak sehat manakala bersifat saling menjatuhkan. Apalagi ketika ”kapitalisme” diterapkan dalam pengelolaan gereja. Gereja kaya akan menggilas gereja kecil karena mereka bisa memberikan fasilitas jauh lebih baik dan menggaji para pegawai dengan gaji yang tinggi. Tidak jarang para pegawai/pekerja (pelayan) gereja-gereja lemah berpindah kerja ke gereja-gereja besar dan kaya. Kasus di atas merupakan bukti konkrit bahwa ”hukum rimba” terjadi dalam masyarakat Kristen.
  • Persaingan (competition) menjadi kontravensi manakala ada unsur-unsur negatif seperti menjelek-jelekkan, mendiskreditkan, dan manyalahkan. Gereja-gereja yang bersaing terkadang saling mendiskreditkan satu sama lain. Menganggap dirinya paling benar dan gereja lain salah atau bahkan sesat.
  • Proses akomodasi antar gereja yang bersaing atau berkontravensi dan bertikai terkadang sulit karena tidak adanya pihak-pihak yang mendamaikan (tidak ada mediator dan arbiter). Hal itu terjadi karena masing-masing gereja merasa setara atau sejajar sehingga tidak mau saling menundukkan diri.

Kasus 11

Jemaat (gereja) di kota Korintus pada jaman para rasul adalah contoh orang-orang Kristen yang dilanda perselisihan. Berikut adalah catatan rasul Paulus mengenai kehidupan di sana (surat 1 Kor 3:1-9): ”Dan, aku saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani tetapi hanya dengan manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu bukanlah makanan keras sebab kamu belum dapat menerimanya dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya karena kamu masih manusia duniawi. Sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata aku dari dari golongan Paulus dan yang lain berkata Aku dari golongan Apolos bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? Jadi apakah Apolos? Apakah Paulus, pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam , Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram sama dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri karena kami adalah kawan sekerja Allah, kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Kasus jemaat Korintus itu menunjukkan adanya masalah sosiologis sebagai berikut.

  • Paulus mengajarkan prinsip bahwa komunitas Kristen (jemaat, gereja) merupakan sebuah sistem (kesatuan utuh yang terdiri dari beberapa unsur yang saling terkait satu sama lain). Bahkan, Paulus – pada bagian lain – mengajarkan prinsip Tubuh Kristus yang berarti bahwa komunitas Kristen merupakan sebuah sistem seperti halnya organisme biologis.
  • Terlihat bahwa Paulus menjelaskan kondisi ideal komunitas Kristen sebagai kehidupan harmonis yang antar unsur-unsurnya terjadi gerakan saling mendukung dan bekerjasama satu sama lain.
  • Tetapi di dalam jemaat Korintus, seperti ditegur Paulus, terjadi perselisihan dan iri hati yang berarti bukan lagi persaingan namun sudah menuju ke arah terjadinya kontravensi dan pertikaian yang merusak keseimbangan sistem.
  • Perselisihan itu bagi Paulus merupakan tindakan yang tidak ideal karena disebut olehnya sebagai perilaku yang tidak rohani namun duniawi. Hal itu menunjukkan bahwa ”kesatuan” (Kesatuan Tubuh Kristus) merupakan nilai-nilai dan norma-norma ideal yang harus ditaati dan diamalkan.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Herlianto. AIDS dan Perilaku Seksual. Bandung: Kalam Hidup, 1995.

Liardon, Roberts. Mengapa Mereka Sukses dan Beberapa di Antaranya Gagal. Jakarta: Metanoia, 1998.

Naisbitt, John; Aburdene, Patricia. Megatrend 2000. Jakarta: Binarupa Aksara, 1990.

Stockstill, Larry. Gereja Sel. Jakarta: Metanoia, 1998.

Ucup, Mang. Gereja Duit versus Gereja Allah. Yogyakarta: Kairos, 2004.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah bagaimana cara menggunakan konsep-konsep Sosiologi untuk memahami masalah-masalah sosial yang terjadi?

PERTANYAAN KUNCI

(1) Berikan contoh masalah proses sosial!, (2) Berikan contoh masalah kelompok sosial!, (3) Berikan contoh masalah lembaga kemasyarakatan!, (4) Berikan contoh masalah stratifikasi sosial!, (5) Berikan contoh masalah kebudayaan!, (6) Berikan contoh masalah perubahan sosial!, (7) Berikan contoh masalah kekuasaan dan wewenang!, (8) Berikan contoh masalah penyimpangan sosial!, (9) Berikan contoh masalah konflik sosial!

Kunci Jawaban (1) Contoh proses sosial adalah proses asosiatif yang berupa kerjasama dan kesatuan antar gereja-gereja lokal di sebuah kota. Seringkali kerjasama itu sulit terjadi karena masing-masing gereja harus melakukan pendekatan untuk mempertemukan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan yang sama. Yang sering terjasi adalah proses disosiatif yaitu persaingan, kontravensi, dan konflik antar gereja-gereja. (2) Gereja lokal pada dasarnya merupakan sebuah kelompok sosial. Gereja lokal juga merupakan sebuah ”komunitas” karena merupakan kelompok yang berbasis pada wilayah tertentu. Gereja dengan sistem sel merupakan kelompok sosial dengan ”in group feeling” yang sangat kuat. (3) Ibadah Gereja merupakan sebuah contoh lembaga kemasyarakatan karena merupakan sistem norma-norma yang berpusat pada tujuan tertentu. Ada ibadah-ibadah Kristen yang dilakukan dengan penegakkan norma-norma yang ketat, misalnya pola ibadah yang bersifat liturgis dalam gereja-gereja tradisional. Namun ada ibadah-ibadah gereja yang sifatnya lebih santai tanpa aturan-aturan yang ketat seperti yang dilakukan di gereja-gereja aliran Karismatik. (4) Gereja-gereja Kristen tertentu mempunyai stratifikasi sosial yang sangat tegas di mana sistem kepemimpinannya bersifat hirarkis piramidal. Bahkan ada gereja yang sistemnya ”closed social stratification” di mana tidak memungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal, yang bisa menjadi pendeta misalnya, hanyalah keturunan (anak) dari pendeta yang berkuasa (ascribed status system). (5) Gereja pada dasarnya merupakan sebuah sistem kebudayaan di mana di dalamnya ada berbagai unsur seperti teknologi/peralatan (gedung, alat, musik, sound system, dll), seni (pujian, lagu, musik), sistem kepercayaan (doktrin, ajaran, teologi), bahasa (komunikasi, penggunaan bahasa dalam ibadah), sistem mata pencaharian (ada pendeta, pegawai, karyawan), sistem sosial (ada kelompok sel, ada panitia, ada pertemuan, dll), dan sistem pengetahuan (teologi). (6) Contoh perubahan sosial adalah perkembangan yang terjadi dalam tren kekristenan saat itu di mana aliran arus utama yang berciri Protestan berubah/berkembang menjadi bercorak Pentakostal/Karismatik yang bersifat fundamentalistik-spiritualistik. Perubahan itu mencakup perubahan pola-pola hidup, khususnya praktek kehidupan beragama. (7) Contoh masalah kekuasan dan wewenang adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang pendeta untuk mempengaruhi jemaat atau pengikutnya. Seringkali kepemimpinan Kristen bersifat wewenang karismatik di mana pengikutnya percaya bahwa sang pemimpin itu diberi otoritas supranatural dari Tuhan. Karena itu terjadilah proses kultus individu yang dipraktekkan secara emosional. (8) Contoh penyimpangan sosial dalam kekristenan adalah pengembangan ajaran dan praktek hidup yang tidak suci (misalnya homoseksualitas). Dalam ajaran Kristen jelas ditegaskan bahwa kesucian merupakan pola hidup yang utama. Praktek kehidupan yang tidak suci terjadi karena kurangnya kontrol sosial atas perkembangan ajaran dan praktek kepemimpinan yang berkembang sekarang. (9) Hubungan-hubungan disosiatif yang sering terjadi antar gereja-gereja lokal terkadang merupakan bentuk konflik yang parah. Pertentangan terjadi sehingga permusuhan antar pendeta dan gereja tidak terelakkan. Bahkan ada gereja lokal yang besar mengalami perpecahan sehingga terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang kecil.

TUGAS

(1) Buatlah analisis tentang masalah apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan gereja lokal Anda. (2) Buatlah analisis tentang masalah-masalah apa saja yang krusial yang sedang melanda hubungan antar beberapa gereja lokal di kota Anda.

~ by mujizatajaib on October 21, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: