E. PELAYANAN & KEPEMIMPINAN KRISTEN

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar pertama (KD 5), yaitu mahasiswa dapat memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan pelayanan dan kepemimpinan Kristen (1) Memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan pelayanan Kristen (2) Memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan kepemimpinan Kristen

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini membimbing kepada penajaman analisa sosiologis atas kegiatan-kegiatan pelayanan dan kepemimpinan Kristen. Sama seperti pada bab sebelumnya, pelajaran ini merupakan tinjauan atas aspek-aspek sosiologis dari kegiatan kekristenan, dalam hal ini kegiatan pelayanan dan kepemimpinan. Sedangkan aspek teologinya merupakan kajian pada mata perkuliahan teologi.

MATERI

Pendahuluan

Pelayanan Kristen pada dasarnya terus berkembang dengan keberagamannya. Dalam bab ini hanya akan dibahas tentang pelayanan pujian-penyembahan (ibadah) dan pelayanan pendidikan (pemuridan) di dalam gereja. Sedangkan kepemimpinan Kristen yang dibahas adalah kepemimpinan yang terkait dengan urusan internal (ke dalam lingkup masyarakat Kristen, gereja) dan urusan eksternal (ke luar, ke masyarakat luas).

Pelayanan Kristen

Untuk mendefinisikan konsep pelayanan Kristen perlu dikaitkan dengan fungsi gereja. Menurut Chris Marantika, fungsi gereja mencakup tiga hal. Pertama fungsi rohani, yaitu ibadah, pemuaan, pujian, dan doa. Kedua, fungsi ke dalam yaitu persekutuan, pendidikan, pembinaan, dan pendisiplinan para anggota. Ketiga, fungsi ke masyarakat, yaitu penginjilan, pelayanan, pengajaran, dan peneguran.

Menurut Peter Wagner, pelayanan Kristen mencakup kegiatan rohani yang sangat luas karena mencakup kemampuan-kemampuan yang diberikan Tuhan supaya orang-orang Kristen (anggota gereja) bisa memberi kontribusi bagi pembangunan kehidupan rohani jemaat (2000, hal 11). Wagner mengidentifikasi minimal ada 27 karunia rohani yang berarti bisa mengembangkan minimalnya 27 jenis pelayanan (belum termasuk pelayanan-pelayanan yang bersifat gabungan, kombinasi, atau modifikasi). Beberapa bentuk pelayanan itu antara lain pelayanan mengajar, pelayanan nubuat, pelayanan memberi nasihat (konseling dan sejenisnya), pelayanan membagi berkat (bantuan sosial), pelayanan pendidikan (pengetahuan), pelayanan penyembuhan illahi, pelayanan doa mujizat, pelayanan kerasulah, pelayanan pemberian pertolongan, pelayanan administrasi (kepengurusan, organisasi), pelayanan penggembalaan (pembinaan umat), pelayanan menjadi misionaris, pelayanan doa syafaat, pelayanan pengusiran setan (pelepasan), dan sebagainya.

Dalam aktifitas kegerejaan, pelayanan Kristen lazim disebut sebagai ministry (ministries). Ministry diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan keagamaan yang dalam konteks Kristen merupakan bentuk pelayanan yang diberikan gereja. Menurut Concise Oxford English Dictionary, ministry is the work, vocation, or office of a minister of religion. spiritual service to others provided by the Christian Church. Karena itu berkembanglah berbagai istilah seperti worship ministry (pelayanan ibadah/penyembahan), teaching ministry (pelayanan pengajaran), prayer ministry (pelayanan doa), deliverance ministry (pelayanan pelepasan/pengusiran setan), pastoral ministry (pelayanan penggembalaan/pembinaan umat/jemaat). Bahkan sekarang ada istilah creative ministry (pelayanan kreatif yang biasanya menunjuk pada pelayanan anak-anak muda yang bersifat kreatif).

Meskipun pelayanan-pelayanan itu berhubungan dengan hal-hal rohani yang bersifat ”vertikal” (berkaitan dengan hal ketuhanan), pastilah mempunyai dimensi sosial (horizontal, hubungan antar manusia). Hal itu terjadi karena setiap pelayanan tersebut berkaitan dengan pembinaan dan penggalanga aktifitas umat (jemaat).

Dengan demikian, setiap pelayanan Kristen mempunyai aspek sosiologis dan berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Hal itu yang di satu terkadang kurang diperhatikan oleh orang-orang Kristen. Mereka hanya memikirkan aspek kerohaniannya saja. Namun di sisi lain aspek-aspek sosial dari pelayanan itulah yang sering dimanfaatkan orang-orang Kristen untuk mencapai tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan tertentu yang ”tidak rohani”. Untuk pengkajian lebih detil bisa dipelajari kasus-kasus sebagai berikut.

Kasus 1

Ibadah Kristen telah mengalami perubahan demi perubahan. Pada gereja-gereja Kristen aliran Protestan, ibadah dijalankan secara liturgis dan bersifat seremonial. Sedangkan dalam gereja-gereja aliran Pentakostal-Karismatik, ibadah bersifat lebih santai dengan lagu-lagu rohani bernuansa populer yang membawa emosi jemaat. Dalam konsep Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), pelayanan pujian-penyembahan dalam ibadah didisain bagaikan sebuah atraksi panggung (seni pertunjukan) lengkap dengan pemimpin utama (song leader, worship leader), para penyanyi, pemain tamborin, penari latar (dancer), pembawa bendera-bendera (flag) dan tim musik lengkap. Masing-masing gereja dan aliran Kristen mempunyai alasan teologis Alkitabiah sendiri-sendiri untuk melegitimasi pola atau desain pelayanan pujian-penyembahan mereka. Robert Nio Tjoe Siang memberikan komentar agak miring mengenai trend pelayanan pujian-penyembahan gereja-gereja Kristen masa kini (2004, hal 50-53). Menurut pengamatan Robert, saat ini gereja tidak bisa dibedakan dengan cafe. Mulai dari rap, rock, disco, soul, sampai dangdut, semuanya ada. Kita tidak lagi bisa membedakan antara rock music show dengan acara KKR. Apalagi banyak sekali artis atau penyanyi sekuler yang terjun dalam pelayanan pujian-penyembahan meskipun tidak memenuhi kualifikasi kerohanian seperti kesucian hidup dan komitmen di dalam pelayanan.

Kasus perkembangan pelayanan pujian-penyembahan seperti di atas dapat dijelaskan secara sosiologis sebagai berikut:

  • Pengembangan pelayanan pujian-penyembahan yang bernuansa pop culture seperti itu berkaitan dengan usahan gereja masa kini untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Injil ke masyarakat modern dan juga ke kalangan generasi muda. Supaya terjadi in tune maka ibadah Kristen didisain sesuai selera masyarakat (komunikan, penerima pesan) sehingga direspon dengan positif. Bahkan ada beberapa penyanyi ibadah Kristen yang menampilkan gaya panggung (showmanship, stage act) persis seperti gaya sekuler (memakai anting, menorehkan tatto, dan berpakaian anak muda). Tujuannya adalah menarik perhatian dengan cara menyesuaikan dengan selera yang ada.
  • Di sisi lain, kasus di atas bisa jadi menunjukkan telah terjadinya pergeseran nilai-nilai dan norma-norma Kristen. Ibadah yang dulu dimaknai sebagai sesuatu yang sakral (maka berkembang istilah ”sakramen”) kini dimaknai sebagai sesuatu yang profan. Nilai dan norma kesucian tidak lagi diutamakan. Bahkan artis dan musisi yang tidak berkualifikasi rohani pun (misalnya hidup puritan) diperbolehkan ikut mengambil bagian dalam pelayanan.
  • Penampilan fisik seringkali menjadi simbol status (status symbol) kelas tertentu. Musik populer, entertainment, dan penampilan pupuler lengkap dengan segala ”budaya materi” pendukungnya dianggap sebagai simbol status kelas menengah ke atas. Mungkin, kasus pelayanan di atas berkaitan dengan usaha mendongkrak dan mencitrakan kekristenan sedemikian rupa sehingga diminati masyarakat yang ingin menaikkan citra dan selera dirinya.
  • Gaya pelayanan di atas semula merupakan sub kultur karena lahir dari aliran baru (Pentakosta-Karismatik) yang bukan merupakan arus utama. Tetapi sekarang, sejalan dengan merebaknya aliran baru itu, gaya pelayanan ibadah seperti itu mulai mendominasi dan bahkan menjadi arus utama yang besar.
  • Kurangnya kontrol sosial juga menyebabkan merebaknya gaya pelayanan yang berbau entertainment dan profan seperti itu. Para pemimpin dan gereja kurang memberi masukan-masukan kritis yang bersifat evaluatif.
  • Kasus di atas juga merupakan masalah perubahan sosial. Bisa jadi itu merupakan proses ”westernisasi” atau difusi dan akulturasi budaya Barat. Padahal, pelayanan pujian penyembahan sebenarnya bisa saja dikemas dalam budata ”eastern” misalnya dengan musik-musik tradisional khas Indonesia. Proses westernisasi itu juga dipercepat oleh peran para agents of change seperti para musisi, para pencipta lagu rohani populer, para penggerak pelaanan itu sendiri, dan para bisnisman yang memanfaatkan peluang bisnis lewat pelayanan ini.

Kasus 2

Pemuridan merupakan salah satu bentuk pelayanan Kristen yang penting. Ada gereja-gereja yang kurang memperhatikan pelayanan ini. Namun ada banyak gereja yang mengembanglan pelayanan pemuridan ini dengan begitu baik. Gereja membuat seminar-seminar yang bersifat pengajaran, dengan mengangkat topik-topik terkini yang praktis. Jemaat juga diajar dalam pembinaan melalui kelompok-kelompok kecil yang disebut kelompok sel (cell group). Setiap kelompok sel itu ada pemimpin yang sekaligus pengajar. Tugas pemimpin itu bukan hanya mengajar namun juga membimbing orang-orang di dalam kelompoknya supaya mengalami perkembangan kerohanian. Untuk mempercepat proses pemuridan, gereja lokal menerbitkan bahan-bahan ajar yang lengkap dan menarik. Ada juga semacam pendidikan khusus yang lazim disebut SOM (Sekolah Orientasi Melayani).

Secara sosiologis, pelayanan pemuridan itu dapat dipahami sebagai berikut

  • Pemuridan pada dasarnya merupakan proses pendidikan yang merupakan proses penanaman nilai-nilai atau norma-norma (proses sosialisasi dan enkulturasi). Pendidikan merupakan proses pewarisan kebudayaan. Dalam hal ini adalah penanaman dan pewarisan doktrin-doktrin agama Kristen.
  • Metode pendidikan itu dilakukan di dalam kelompok sosial (komunitas gereja). Ada beberapa gereja yang melakukan pemuridan itu dalam kelompok-kelompok kecil (small group). Ini lebih intensif karena suasana di dalamnya bersifat gemeinschaft sehingga penanaman nilai-nilai itu tidak terasa sebagai sebuah pemaksaan.
  • Karena pendidikan itu dilakukan dalam kelompok maka peran pemimpin (penguasa) sangat penting. Jika ada pemimpin yang dianggap memiliki kewenangan karismatis maka para anggota akan memiliki ketaatan yang sifatnya lebih emosional. Seringkali yang terjadi adalah proses imitasi di mana para anggota mengikuti ajaran dan gaya hidup persis seperti pemimpinnya. Proses itu bertambah kuat manakala si pemimpin melakukan intimidasi.
  • Pemuridan yang merupakan proses transfer pengajaran berkaitan dengan sistem pengetahuan. Pelajaran agama Kristen pada dasarnya merupakan sistem pengetahuan yang terus berkembang. Proses percampuran dengan pengetahuan-pengetahuan lain di luar pengetahuan teologi Kristen bukan tidak mungkin terjadi sehingga ajaran yang ada sekarang seringkali merupakan pencampuradukan antara berbagai pengetahuan yang ada. Karena itu ada sebagian aliran Kristen yang secara kaku membatasi ajarannya, yaitu hanya bersumber pada Alkitab. Sementara yang lain bebas menarik masuk pengetahuan-pengetahuan sekuler untuk memperkaya wawasan.

Kepemimpinan Kristen

Alkitab memberikan porsi tersendiri bagi pengajaran tentang kepemimpinan. Tuhan Yesus memberikan ajaran-ajaran-Nya yang khas tentang kepemimpinan itu. Misalnya Ia mengatakan bahwa siapa yang hendak menjadi pemimpin haruslah ia menjadi pelayan atau hamba (Mat 20:26). Rasul Paulus mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu bukan hanya harus berkapasitas namun bisa menjadi teladan dan pembina sebagai seorang “bapa rohani” (1 Kor 4:15-16).

Menurut LeRoy Eims, kepemimpinan Kristen terlihat dari kekhasannya dalam bersikap terhadap orang lain (2001, hal 73, 113). Pertama, ia haruslah seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, memimpin dengan hati dan sikap melayani/sebagai hamba (Mat 20:25-28). Kedua, memiliki kepedulian social yang tinggi, istimewa terhadap kehidupan orang-orang yang menderita (Mrk 8:1-3). Ketiga, memberi dampak positif kepada para pengikut dan orang-orang lain dengan menunjukkan kapasitas, integritas, dan semangat juang yang tinggi.

Jerry C. Woffrod juga menekankan bahwa kepemimpinan Kristen sebagaimana mengacu pada Yesus Kristu sebagai modelnya, adalah kepemimpinan yang berdampak kepada kehidupan orang-orang lain (2001, hal 14-27). Pertama, kepemimpinan Yesus membawa perubahan kehidupan banyak orang, menjadikan kehidupan manusia lebih baik. Yesus adalah Sang Agen Pembaharu yang selalu menentang status quo. Kedua, Yesus adalah Pribadi pemimpin yang kapasitas-Nya diakui para pengikut-Nya. Ketiga, pemimpin yang mengayomi sebagai seorang Gembala. Keempat, Yesus adalah pemimpin yang melayani banyak orang. Kelima, Yesus adalah pemimpin yang menjadi model, teladan bagi banyak orang. Dengan kelima kapasitas itulah Yesus adalah Pemimpin yang mengubahkan kehidupan masyarakat.

Secara sosiologis masalah kepemimpinan berkaitan dengan masalah kekuasaan dan wewenang. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, kepemimpinan akan efektif jika memiliki basis social (social basis) yang kuat (Soerjono Soekanto, 1990, hal 325). Tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah (1) memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi para pengikutnya, (2) mengawasi, mengendalikan, menyalurkan perilaku para pengikutnya, (3) bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpinnya itu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 326). Adapun metode memimpin bisa beragam, misalnya memimpin secara otoriter atau secara demokratis. Pemimpin otoriter selalu mengembil keputusan dan menentukan kebijakan secara sepihak. Sedangkan pemimpin yang demokratis mengutamakan musyawarah.

Kasus 3

Para pemimpin Kristen tertentu sangat menekankan prinsip “penundukan diri” di dalam kehidupan gerejanya. Ia sering mendasarkan prinsip itu pada contoh-contoh di dalam Alkitab. Misalnya contoh dari tokoh Daud, yang tetap tunduk dan menghormati raja Saul sekalipun raja itu jahat. Pemimpin Kristen ini juga menolak bentuk-bentuk kritik yang dilontarkan kepada dirinya. Alasannya adalah karena sikap mengkritik itu merupakan bentuk pemberontakan. Bahkan sikap senang mengkritik itu merupakan sikap yang bersifat satanis (disebut sebagai “roh kritik”).

Kasus itu dapat dipahami secara sosiologis sebagai berikut

  • Kepemimpinan semacam itu merupakan jenis kepemimpinan yang orotiter yang ciri-cirinya (1) menentukan segala kegiatan kelompoknya secara sepihak, (2) tidak mengajak kelompoknya untuk ikut serta merumuskan tujuan-tujuan bersama, (3) pemimpin itu terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut proses interaksi dalam kelompok itu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 327).
  • Pemimpin sering menggunakan pengajaran, nilai-norma tertentu, atau ideology tertentu untuk melegitimasi wewenangnya. Pemimpin agama terkadang menggunakan ajaran-ajaran agama tertentu untuk melakukan pembenaran diri dan pembenaran atas kepemimpinannya.
  • Hal lain yang sering dipakai untuk melegitimasi kekuasaan dan wewenang seorang pemimpin agama adalah mencitrakan diri sebagai orang yang diberi wewenang karismatis. Misalnya dengan mengatakan bahwa dirinya mendapat wahyu kusus dari Tuhan atau dirinya memiliki karunia supranatural secara khusus.
  • Pemimpin sering menggunakan metode-metode intimidatif untuk menakut-nakuti pengikutnya sedemikian rupa sehingga para pengikutnya itu hanya bisa taat begitu saja.

Kasus 4

Berikut adalah cuplikan dari buku “Panggilan menjadi Agen-agan Transformasi” (Haryadi Baskoro, 2009, hal 29). Seorang pendeta Kristen hanya dibekali pelajaran teologi di kampus atau seminarinya. Ia kurang belajar bidang-bidang lain. Sehingga, ketika ada masalah politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain yang terjadi di masyarakat, ia tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia tidak bisa memberi pemikiran-pemikiran originalnya. Ia juga tergagap-gagap untuk mengkomunikasikan pesan Firman Tuhan kepada masyarakat. Tidak tahu bagaimana cara membawa teologi ke ranah publik. Sebaliknya, kaum awam Kristen yang bekerja di dunia sekuler kurang dibekali kemampuan teologi praktis untuk bisa menjadi saksi Kristus di marketplace. Akibatnya, mereka bekerja hanya untuk mencari uang. Kekristenan hanya dijadikan sarana untuk mendapatkan pertolongan Tuhan sehingga pekerjaannya sukses (teologi kemakmuran). Mereka tidak diajarkan bagaimana menjadi agen pembaharu Kristen di dunia kerja. Kaum muda Kristen tidak mempunyai semacam idealisme untuk bangsa dan negara. Pelajaran-pelajaran Alkitab dan seminar-seminar kepemudaaan Kristen cenderung berkisar pada pembahasan masalah siklus kehidupan. Misalnya bagaimana pacaran yang baik, bagaimana mempersiapkan pernikahan, bagaimana menjadi pria sejati dan wanita bijak. Itu sudah sangat bagus karena meningkatkan kualitas kerohanian. Tetapi, tidak cukup hanya itu. Kaum muda Kristen harus dimotivasi dan dibekali untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan sehingga dapat misalnya, berdampak di parlemen, berdampak di dunia pendidikan, berdampak di dunia hukum, dan seterusnya. Dan, hal itu membutuhkan pembinaan multi kompetensi yang bukan melulu kompetensi rohani. Dalam hal multi kompetensi, orang Kristen perlu belajar dari Katolik. Perhatikan saja misalnya Romo Mangunwijaya. Dia bukan hanya seorang pastur (rohaniawan), tetapi dikenal luas sebagai arsitek, budayawan, novelis, dan pejuang sosial. Karya-karya dan aksi-aksinya menyentuh kehidupan kaum papa, mengentaskan nasib mereka dan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Romo Mangun bisa melancarkan dampak seperti itu karena ia memiliki multi kompetensi, bukan hanya kompetensi rohani dan tologia.

Masalah tersebut dapat dipahami secara sosiologis sebagai berikut:

  • Kepemimpinan yang dijalankan belum tuntas karena salah satu tugas utama pemimpin adalah mewakili kelompok yang dipimpinnya ke dunia di luar kelompok itu. Jika para pendeta hanya bisa menjadi “jago kandang” sebenarnya ia belum menjalankan tugas tersebut.
  • Pemimpin serusnya menjalankan tugas sebagai agen pembaharu masyarakat yang mana untuk tugas itu diperlukan beberapa kompetensi karena harus bisa berkontak dan berkomunikasi dengan masyarakat luas.
  • Orang yang bisa memimpin kelompok sendiri belum tentu mangkus untuk berdampak ke dunia yang lebih luas. Apalagi jika orang-orang yang dipimpinnya itu berada dibawah kendali penuh di tangannya yang otoriter. Melalui proses “pembodohan” para pemimpin bisa mengendalikan orang-orang yang dipimpinnya. Namun untuk berdampak keluar, di tengah masyarakat yang cerdas, kritis, dan demokratis, seorang pemimpin harus memiliki multi kompetensi dan ketrampilan memimpin yang lebih berkualitas.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Baskoro, Haryadi. Panggilan menjadi Agen-agen Transformasi. Yogyakarta: Pena Persada, 2009.

Eims, LeRoy. Jadilah Pemimpin Sejati. Batam Centre, Gospel Press, 2001.

Wagner, Peter. Manfaat Karunia-karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja. Malang:Gandum Mas, 2000.

Wofford, Jerry C. Kepemimpinan Kristen yang Mengubahkan. Yogyakarta: ANDI, 2001.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini  adalah bagaimana cara memahami masalah pelayanan Kristen dan kepemimpinan Kristen dari sudut pandang sosiologis.

PERTANYAAN KUNCI

(1) Jelaskan pengertian pelayanan Kristen secara sosiologis. (2) Jelaskan kepemimpinan Kristen secara sosiologis

Kunci Jawaban

(1) Pelayanan Kristen merupakan pelaksanaan fungsi gereja (komunitas Kristen) sebagai sebuah kelompok sosial. Pelayanan itu mencakup kegiatan-kegiatan rohani yang bersifat ”vertikal”, pembinaan umat atau jemaat, dan pelayanan yang bersifat kemasyarakatan. Meskipun pelayanan-pelayanan itu berhubungan dengan hal-hal rohani yang bersifat ”vertikal” (berkaitan dengan hal ketuhanan), pastilah mempunyai dimensi sosial (horizontal, hubungan antar manusia). Hal itu terjadi karena setiap pelayanan tersebut berkaitan dengan pembinaan dan penggalanga aktifitas umat (jemaat). (2) Secara sosiologis masalah kepemimpinan berkaitan dengan masalah kekuasaan dan wewenang. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, kepemimpinan akan efektif jika memiliki basis social (social basis) yang kuat (1990, hal 325). Tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah: memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi para pengikutnya; mengawasi, mengendalikan, menyalurkan perilaku para pengikutnya; bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpinnya itu.

TUGAS

(1) Daftarkan lebih banyak aspek-aspek sosial yang dihadapi dan dialami dalam pelayanan Kristen (2) Daftarkan lebih banyak aspek-aspek sosial yang dihadapi dan dialami dalam kepemimpinan Kristen. (3) Rancangkanlah sebuah pelayanan Kristen (pelayanan gereja) yang berdampak bagi masyarakat luas (non Kristen). (4) Buatlah model kepemimpinan pendeta Kristen yang berdampak luas kepada masyarakat umum

About these ads

~ by mujizatajaib on October 21, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: