A. SOSIOLOGI

•October 21, 2009 • Leave a Comment

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar pertama (KD 1), yaitu mahasiswa dapat mengidentifikasi Sosiologi sebagai salah satu ilmu sosial. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Mengidentifikasi kekhususan  sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, (2) Mengidentifikasi perkembangan (sejarah) sosiologi dalam ilmu pengetahuan, (3) Mengidentifikasi kegunaan sosiologi

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini memberikan pengenalan dasar mengenai sosiologi sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial. Untuk memberikan gambaran umum mengenai sosiologi akan dibahas tentang kekhususan keilmuannya, sejarah perkembangan ilmu ini, dan kegunaan atau manfaat sosiologi.

MATERI

Pendahuluan

Manusia dan kehidupanya merupakan masalah yang sangat kompleks. Setiap kajian atas setiap dimensi kehidupan manusia itu telah menumbuhkan sebuah disiplin ilmu tersendiri. Masalah manusia dan kejiwaannya, misalnya, menumbuhkan psikologi. Masalah manusia dan kekuasaan menumbuhkan ilmu politik. Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji masalah manusia dan kehidupan sosialnya atau masyarakat. Tentu saja tidak sesederhana itu.

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah sistem pengetahuan manusia yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, merupakan bagian dari pengetahuan manusia. Kedua, pengetahuan itu bersifat rasional dengan mendasarkan pada penggunaan logika (Ilmiah). Ketiga, pengetahuan itu bersifat sistematis. Keempat, pengetahuan itu daoat dibuktikan kebenarannya oleh orang lain.

Secara umum, ilmu pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi empat macam (Soerjono Soekanto, 1990, hal 1). Pertama, Ilmu Matematika. Kedua, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempelajari gejala-gejala alam yang bersifat hayati (biologi) maupun gejala-gejala alam non hayati (fisika, kimia). Ketiga, Ilmu Perilaku (behavoiral science). Keempat, Ilmu Pengetahuan Kerohanian (agama, teologi).

Ilmu perilaku mencakup dua kajian. Pertama, ilmu perilaku hewan (animal behavior). Kedua, ilmu perilaku manusia (human behavior). Ilmu perilaku manusia ini disebut juga Ilmu Pengetahuan Sosial karena mengkaji perilaku-perilaku manusia pada ummnya. Dari sini berkembang berbagai cabangnya. Ilmu yang mempelajari perilaku kejiawaan manusia disebut psikologi. Yang mempelajari perilaku kekuasan manusia disebut ilmu politik. Yang mempelajari perilaku manusia yang mengembangkan mata pencaharian disebut ilmu ekonomi. Yang mempelajari perilaku manusia dan kebudyaaannya disebut antropologi.

Sosiologi merupakan sebuah ilmu pengatahuan karena memenuhi syarat-syarat ilmu pengetahuan seperti di atas (pengetahuan, rasio, logika, sistematis, teruji kebenarannya secara ilmiah). Disamping ciri-ciri itu, ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah menurut Harry M Johnson adalah sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 15). Pertama, bersifat empiris, yaitu berdasar pada observasi terhadap kenyataan, bukan spekulatif. Kedua, teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil obsrvasi. Ketiga, kumulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk di atas teori-teori yang sudah ada (memperbaiki, mengembangkan teori-teori yang sudah ada). Keempat, non-etis, artinya tidak mempersoalkan masalah baik buruk (moral) tetapi hanya bertujuan untuk menjelaskan fakta secara analitis.

Mengenai definisi sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, beberapa ahli memberikan penekanan yang berbeda-beda sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 20-21). Pertama, menurut Patirim A. Sorokin, sosiologi adalah ilmu yang (1) mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dan agama, antara keluarga dan motal, (2) mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala non sosial seperti gejala biologis, geografis, alam, dan sebagainya, (3) mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. Kedua, menurut Roucek dan Waren, sosiologi mempelajari hubungan antar manusia yang ada di dalam kelompok-kelompok. Ketiga, menurut J.A.A. van Doorn dan C.J. Lammers, sosiologi mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial. Kelima, menurut Selo Soemardjan, sosiologi mempelajari struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial.

Karena sosiologi merupakan ilmu yang luas cakupannya, dan definisi pastinya juga tidak bisa ditentukan secara sempit, maka bahan ajar ini mengacu pada pemahaman yang diberikan oleh sosilog Soerjono Soekanto dalam buku ”Sosiologi Suatu Pengantar”. Pada dasarnya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari dimensi-dimensi sosial masyarakat, yaitu: (1)   proses-proses Sosial, (2) Kelompok Sosial, (3) Lembaga Kemasyarakatan, (4) Stratifikasi Sosial, (5) Masyarakat dan Kebudayaan, (6) Perubahan Sosial, (7) Kekuasaan dan Wewenang.

Adapun masyarakat didefinisikan dengan serangkaian penjelasan sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 26-27). Pertama, sekelompok manusia yang hidup bersama. Kedua, mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama. Ketiga, mereka sadar jika mereka merupakan satu kesatuan. Keempat, mereka menjadi sebuah sistem yang hidup bersama.

Mengacu pada definisi di atas, masyarakat mempunyai komponen-komponen sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 28-29). Pertama, populasi, yaitu manusia-manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Kedua, kebudayaan, yaitu hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Ketiga, hasil-hasil kebudayaan material. Keempat, organisasi sosial, yaitu jaringan hubungan antar warga-warga masyarakat yang mencakup unsur-unsur seperti (1) status dan peran (2) kelompok-kelompok sosial, (3) stratifikasi sosial.

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu sosial yang relatif masih muda karena baru berkembang setelah tokoh bernama Auguste Comte (1798-1853) mengembangkan pemikiran-pemikirannya (Soerjono Soekanto, 1990, hal 31). Dengan demikian perkembangan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai sosiologi sebelum Auguste, sosiologi Auguste Comte, dan sosiologi sesudah Auguste Comte.

Pada era sebelum Auguste Comte, sosiologi belum terbentuk sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Pada periode itu baru berkembang pemikiran-pemikiran filosofis tentang kehidupan sosial (masyarakat). Para filsuf yang banyak memberi kajian masalah-masalah sosial adalah sebagai berikut:

Plato (429-37 SM) Menurutnya, masyarakat adalah refleksi dari kehidupan manusia secara perorangan yang memiliki tiga unsur (nafsu, semangat, intelegensia). Masyarakat pada dasarnuya merupakan kesatuan yang menyeluruh (sistem).

Aristoteles (384-32 SM)Masyarakat yang merupakan sebuah sistem dapat dianalogikan dengan organisme biologis manusia. Basis masyarakat adalah moral.

Ibn Khaldun (1332-1406).Masyarakat merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh perasaan solidaritas. Faktor solidaritas menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan bersama antara manusia.

Pemikiran zaman Renaisans (1200-1600).Thomas More mengemukakan ide tentang bentuk masyarakat yang ideal. N. Machiavelli menekankan masalah kekuasaan dalam masyarakat dan bagaimana mempertahankan kekuasaan itu.

Thomas Hobbes (1588-1679). Menurutnya, manusia secara alamiah  mempunyai keinginan-keinginan mekanis yang membuat mereka bisa saling berkonflik. Tetapi, manusia juga mempunyai pikiran untuk hidup damai sehingga menciptakan masyarakat berdasarkan perjanjian atau kontrak antara para warganya (kontrak sosial).

Pemikiran abad ke-18. John Locke (1632-1704) dan J.J. Rousseau (1712-1778) mengembangkan konsep “kontrak sosial” dari Thomas Hobbes. Kontrak antara warga masyarakat degan fihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor pamrih.

Saint Simon (1760-1825). Menurutnya, manusia harus dipelajari dalam konteks kehidupan berkelompok. Sejarah manusia adalah seperti sebuah ”fisika sosial”.

Auguste Comte (1798-1853) adalah ilmuan yang pertama-tama menggunakan istilah ”sisiologi” dan yang pertama-tama memberikan definisi ilmu tersebut sehingga membedakan ruang lingkupnya dengan ilmu-ilmu lainnya (Soerjono Soekanto, 1990, hal 34). Comte bertolak dari pemikirannya bahwa perkembangan intelektual manusia melewati tiga tahap. Pertama, tahap teologis atau fiktif, yaitu manusia menafsirkan dunia ini sebagai dunia gaib yang dikendalikan roh dewa-dewa semata. Kedua, tahap metafisika, yaitu pandangan bahwa setiap gejala yang ada pada akhirnya akan bisa diungkapkan atau dipahami. Pengungkapkan itu akan membuat manusia bisa menemukan hukum-hukum alam.Ketiga, tahap ilmu pengetahuan positif.

Menurut Comte, sosiologi adalah ilmu pengetahuan positif yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran kehidupan manusia secara ilmiah. Hirarki atau tingkatan ilmu-ilmu pengetahuan menurut tingkat pengurangan generalitas dan penambahan kompleksitasnya adalah, (1) matematika, (2) astronomi, (3) fisika, (4) ilmu kimia, (5) biologi, (6) sosiologi. Bagi Comte, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang paling kompleks.

Auguste Comte membeadakan sosiologi menjadi dua. Pertama, sosiologi statis, yaitu sosiologi yang mempelajari hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Ini semacam studi tentang ”anatomi sosial” yang mempelajari aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam sistem sosial. Kedua, sosiologi dinamis, mempelajari perkembangan atau pembangunan kehidupan masyarakat.

Perkembangan sosiologi setelah Auguste Comte banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lainnya sehingga menunculkan berbagai aliran atau mazhab yang bersifat khusus (Soerjono Soekanto, 1990, hal 37-47).

Mazhab Geografi dan Lingkungan. Mazhab ini melihat hubungan sangat erat antara kehidupan masyarakat dengan keadaan tanah dan lingkungan alam. Sebagai contoh adalah pemikiran sosiologi Edward Buckle dari Inggris (1821-1862) yang  menyimpulkan bahwa perilaku bunuh diri adalah akibat dari rendahnya penghasilan karena kondisi alam yang buruk.

Mazhab Organis dan Evolusioner Sosiologi pada mazhab ini banyak dipengaruhi oleh teori-teori ilmu biologi. (1) Herbert Spencer (1820-1903) misalnya, melihat masyarakat seperti sebuah organisme biologis. Menurut Spencer, sama seperti evolusi mahluk hidup, masyarakat akan berkembang dari bentuk organisme yang sederhana menuju bentuk organisme yang kompleks. Masyarakat yang kompleks mempunyai sistem pembagian kerja yang kompleks yang bersifat heterogen. (2)  Pemikiran Spencer mempengaruhi W.G. Summer (1840-1910). Menurut Summer, kompleksitas masyarakat terlihat dari sistem norma yang mengatur kehidupan mereka. Semakin kompleks sebuah masyarakat, semakin rumit pula sistem aturan kehidupan sosial yang berkembang. (3) Menurut Soerjono Soekanto, Emile Durkheim (1855-1917) bisa digolongkan sebagai sosiolog mazhab organis ini karena dia membahas kehidupan masyarakat yang juga dianggapnya seperti sebuah organisme. Menurut Durkheim, unsur baku dalam masyarakat adalah solidaritas. Pertama, solidaritas mekanis, yaitu solidaritas yang mengikat masyarakat sederhana yang belum mempunyai diferensiasi dan pembagian kerja yang kompleks. Pada masyarakat sederhana, kepentingan dan kesadaran antar warganya relatif sama. Kedua, solidaritas organis, yaitu solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks yang memiliki diferensiasi dan pembagian kerja yang rumit seperti halnya masyaraka industri. (4) Tokoh lain dari mazhab ini adalah Ferdinand Tonnies dari Jerman (1855-1936), membedakan antara masyarakat ”paguyuban” dan masyarakat ”patembayan”. Paguyuban (gemeinchaft) adalah kehidupan masyarakat yang sederhana yang bersifat karib, akrab, menekankan hubungan perasaan, simpati pribadi, dan kepentingan bersama. Patembayan (gesselschaft) adalah kehidupan masyarakat kompleks yang menekankan kepentingan-keentingan dan ikatan-ikatan rasional

Mazhab Formal. Mazhab ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dan filsafat Immanuel Kant. (1) Georg Simmel (1858-1918) mengatakan bahwa elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antar elemen-elemen itu. Sosiologi bertugas mengidentifikasi proses terjadinya kesatuan tersebut. (2) Leopold von Wiese (1876-1961) mengatakan bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antar manusia tanpa mengaitkan dengan tujuan-tujuan maupun kaidah-kaidah. Sosiologi harus mulai dengan pengamaan terhadap perilaku-perilaku konkrit. (3) Alfred Vierkandt (1867-1953) mengatakan bahwa sosiologi justru harus menyoroti situasi-situasi mental yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara insivisu-individu dan kelompok-kelompok dalam sebuah masyarakat.

Mazhab Psikologi. Pada mazhab ini, sosiologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dan teori-teori psikologi. (1) Gabriel Tarde (1843-1904) dari Perancis mengembangkan sosiologi dari pemikiran bahwa gejala-gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi jiwa-jiwa individu. Dengan demikian gejala-gejala sosial harus dijelaskan dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang. (2) Albion Small (1854-1926) dan beberapa sosiolog Amerika Serikta menekankan bahwa sosiologi harus mempelajari reaksi-reaksi  individu terhadap individu maupun kelompok terhadap kelompok. (3) Richard Horton Cooley (1864-1924) menekakan bahwa individu dan masyarakat itu saling melengkapi. Dalam kelompok primer (primary group), hubungan antar pribadi dari para warganya sangat erat. Inilah kehidupan sosial yang paling mendasar. (4) L.T. Hobhouse (1864-1929) mengatakan bahwa psikologi dan etika harus menjadi kriteria untuk mengukur perubahan sosial.

Mazhab Ekonomi. Mazhab ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran di bidang ekonomi. (1) Karl Marx (1818-1883) mengembangkan pemikiran tentang perubahan masyarakat yang disebabkan karena faktor ekonomi. Ketika masyarakat masih terdapat stratifikasi sosial maka akan terdapat kelas-kelas sosial yang saling bertikai. Kelas sosial yang berkuasa akan menindas kelas sosial yang rendah seperti halnya masyarakat buruh dan kaum miskin (golongan proletar). Kondisi ini akan mendorong kelas bahwa itu melakukan pemberontakan dan memenangkan kekuasaan sehingga akhirnya tumbuh suatu jenis masyarakat baru yang tanpa kelas. (2) Max Weber (1864-1920) menjelaskan bagaimana perilaku individu-individu dalam masyarakat. Weber membedakan perilaku individu sebagai berikut: (1) aksi yang bertujuan, yaitu aksi-aksi individu yang dilakukan untuk mencapai hasil-hasil tertentu secara efisien, (2) aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yaitu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, (3) aksi tradisional, yaitu perilaku untuk melakukan aturan yang bersanksi, (4) aksi emosional, yaitu perilaku yang menyangkut perasaan seseorang. Jenis-jenis aksi itumenimbulkan hubungan-hubungan sosial yang beragam di dalam masyarakat.

Mazhab Hukum. Mazhab sosiologi ini dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran di bidang hukum. (1) Emile Durkheim.Sosiologi mempelajari hubungan antara hukum dan jenis-jenis solidaritas dalam masyarakat. Pada amasyarakat sederhana yang berolidaritas mekanis, terdapat kaidah-kaidah hukum yang bersifat represif. Pada masyarakat kompleks bersilidaritas organis, terdapar kaidah-kaidah hukum yang bersifat restitutif. Hukum represif menekankan pemberian sanksi pidana yang berat, yang sering merampas kehormatan dan masa depan serta memberikan penderitaan pada terpidana. Sedangkan hukum restitutif memberikan sanksi sedemikian rupa untuk mengembalikan pada keadaan semula sebelum terjadi keguncangan akibat pelanggaran kaidah hukum itu. Karena itu dalam masyarakat modern, disamping terdapat hukum pidana terdapat pula hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi, dan hukum tata negara. (2) Max Weber. Menurutnya ada 4 jenis hukum: (1) hukum irasional dan materiil yang dasar keputusannya bersifat emosional tanpa kaidah, (2) hukum irasional dan formal di mana ada undang-undang dan hakim namun dasarnya adalah kaidah-kaidah di luar akal yang dianggap sebagai wahyu, (3) hukum rasional dan materiil, keputusan para pembentuk undang-undang dan hakik menunjup pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksanaan penguasa atau ideologi, (4) hukum rasional dan formal, hukum yang dibentuk berdasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum. Menurut Weber, hukum rasional dan formal merupakan dasar dari negara modern

Menurut Soerjono Soekanto, beberapa tokoh Indonesia asli sudah memikirkan masalah-masalah sosiologi (Soerjono Soekanto, 1990, hal 56). Ajaran Wulang Reh dari Sri Paduka Mangkunegoro IV misalnya, membahas hubungan sosial antar golongan sosial. Ki Hadjar Dewantoro juga mengkaji masalah sosiologis berkenaan dengan kepemimpinan dan kekeluargaan.

Sebelum Indonesia merdeka, sudah ada percikan-percikan pemikiran sosiologis. Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoben, Ter Haar, Duyvendak, dan lain-lain telah menghasilkan karya-karya tulis sosiologis. Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta juga mengajarkan sosiologi pada mahasiswa-mahasiswanya.

Setelah Indonesia merdeka, sosiologi berkembang pesat di Indonesia, meski awalnya hanya dianggap sebagai ilmu bantu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 58-60).

  • Pada 1948, Soenario Kolopaking mulai mengajar sosiologi di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (kemudian menjadi Fakultas Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada).
  • Sejak 1950, beberapa mahasiswa Indonesia belajar sosiologi di luar negeri.
  • Djody Gondokusumo menulis buku sosiologi pertama berjudul ”Sosiologi Indonesia”.
  • Hasan Shadily, lulusan Cornell University, menulis buku ”Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia”.
  • Selo Soemardjan, lulusan Cornell University menerbitkan disertasinya berjudul “Social Changes in Yogyakarta” (1962)
  • Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi menulis buku ”Setangkai Bunga Sosiologi” (1964)
  • Mayor Polak, seorang warga Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda yang telah belajar sosiologi di Leiden (Belanda) menulis buku ”Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum, dan Politik” (1967)
  • Beberapa Universitas Negeri mengajarkan sosiologi (Universitas Gadjah Mada, Univerisitas Indonesia, Universitas Padjajaran, dan lain-lain)
  • Sejalan dengan perkembangan dan pergolakan masyarakat Indonesia, analisis-analisis, riset-riset dan buku-buku sosiologi semakin merebak. Demikian juga para sosiolog bermunculan di Indonesia.

Kegunaan atau Manfaat Sosiologi

Sosiologi memberikan manfaat secara praktis melalui penelitian ilmiah (kegiayan ilmiah yang didasarkan pada proses analisis dan konstruksi) (Soerjono Soekanto, 1990, hal 457). Tujuan penelitian adalah mengungkapkan kebenaran dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian, misalnya, kita bisa mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial atau penyimpangan sosial. Selanjutnya informasi itu menjadi masukan untuk mengambil keputusan atau kebijakan untuk pembangunan masyarakat.

Manfaat penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, penelitian murni bermanfaat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara teoritis. Kedua, penelitian yang berpusat pada masalah bermanfaat untuk memecahkan masalah yang timbul dalam perkembangan teori. Ketiga, penelitian terapan bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi (oleh masyarakat atau pemerintah).

Melalui penelitian sosiologis kita dapat memahami kebenaran masalah-masalah sosial seperti masalah-masalah proses sosial, kelompok sosial, stratifikasi sosial, lembaga kemasyarakatan, kekuasan dan wewenang, dan perubahan sosial. Hasil-hasil penelitian sosiologis dapat dimanfatkan oleh ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal ini disebabkan karena penelitian sosiologis memusatkan perhatiannya pada masyarakat, yang merupakan wadah kehidupan bersama yang mencakup aspek-aspek: (1) fisik, (2) biologis, (3) politis, (4) ekonomis, (5) sosial, (6) budaya, (7) kesehatan, (8) pertahanan-keamanan, (9) hukum.

Sebagai contoh adalah manfaat penelitian sosiologis dalam proses pembangunan. Dalam merencanakan pembangunan, selalu dibutuhkan data-data akurat tentang perkembangan masyarakat, misalnya mengenai perkembangan proses sosial, kelompok-kelompok sosial, kebudayaam, lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan lain-lain. Melalui penelitian sosiologis, data-data itu diperoleh dan menjadi masukan-masukan yang penting.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Poespoprodjo, W. Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu. Bandung: Remaja Karya, 1987.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan,1990

Suseno, Franz Magnis. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke PerselisihanRevisionisme. Jakarta: Gramedia, 2000.

Weber, Max. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah: Jelaskan sosiologi sebagai sebuah ilmu pengatahuan yang mempunyai ciri khusus yang membedakan dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya!

PERTANYAAN KUNCI

(1) Jelaskan posisi sosiologi dalam ilmu pengetahuan sosial! (2) Jelaskan sejarah perkembangan sosiologi dalam ilmu pengetahuan! (3) Jelaskan kegunaan sosiologi!

Kunci Jawaban (1) Sosiologi adalah sebuah ilmu sosial yang secara khusus mempelajari hubungan manusia dengan kelompoknya (Roucek dan Warren), mempelajari masalah interaksi sosial dan hasil-hasilnya (W.F. Oghburn), dan mempelajari struktur dan proses-proses sosial (Selo Soemardjan). (2) Sejarah sosiologi diklasifikasi sebagai berikut. Pertama, perkembangan sosiologi sebelum Aguste Comte: (1) filsafat sosial Plato, Aristoteles, Hobbes, (2) pemikiran sosial abad 17, (2) pemikiran sosial abad 18, (3) pemikiran sosial abad 19. Kedua, sosiologi Aguste Comte (1789-1857). Ketiga, sosiologi sesudah Aguste Comte yang berkembang dalam berbagai mazab seperti mazab geografi dan lingkungan, mazab organis dan evolusioner, mazab formal, mazab psikologi, mazab ekonomi, dan mazab hukum. (3) Sosiologi sebagai ilmu murni berguna untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah sosial. Dari masukan sosiologi dapat dibuat perencanaan sosial untuk solusi dan perbaikan.

TUGAS

(1) Buatlah tabel perbandingan yang menunjukkan perbedaan kekhususan antara sosiologi dan beberapa ilmu sosial lainnya seperti antropologi, psikologi, dan ilmu politik. (2) Untuk masuk dalam pelajaran selanjutnya, cobalah mendaftarkan beberapa istilah yang sering anda dengar berkaitan dengan kehidupan sosial, misalnya interaksi sosial dan konflik. Daftarkan beberapa istilah itu dan masing-masing berilah penjelasan singkat sejauh yang anda ketahui.

B. KONSEP-KONSEP SOSIOLOGI

•October 21, 2009 • Leave a Comment

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar kedua (KD 2), yaitu mahasiswa dapat menjelaskan konsep-konsep dasar dalam Sosiologi. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Menjelaskan konsep tentang proses-proses sosial, (2) Menjelaskan konsep tentang kelompok-kelompok sosial, (3) Menjelaskan konsep tentang lembaga kemasyarakatan (institusi sosial), (4) Menjelaskan konsep tentang stratifikasi sosial, (5) Menjelaskan konsep tentang masyarakat dan kebudayaan, (6) Menjelaskan konsep tentang perubahan sosial, (7) Menjelaskan konsep tentang kekuasaan dan wewenang.

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini memberikan pemahaman-pemahaman dasar yang dipakai dalam kajian Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sosial. Konsep-konsep dasar itu mencakup masalah-masalah proses sosial, kelompok sosial, lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, masyarakat dan kebudayaan, perubahan sosial, serta kekuasaan dan wewenang.

MATERI

Pendahuluan

Di dalam menganalisa masalah-masalah diperlukan konsep-konsep. Pada dasarnya konsep (concept) merupakan gagasan atau gambaran mental tentang kelompok atau kelas suatu obyek yang disusun dengan mengkombinasikan aspek-aspeknya (idea or mental picture of a group or class of objects, formed by combining all their aspects) (Concise Oxford English Dictionary). Sebagai contoh, konsep tentang ”stratifikasi sosial” adalah gagasan atau gambaran tentang apakah yang dimaksud dengan stratifikasi sosial itu dengan cara menunjukkan aspek-aspek mengenai masalah tersebut. Berikut ini adalah beberapa konsep dasar yang dikembangkan dalam Sosiologi dalam melakukan analisis tentang masalah-masalah masyarakat, sebagian besar mengacu pada buku ”Sosiologi Suatu Pengantar” karya sosiolog Soerjono Soekanto.

Proses-proses Sosial

Proses sosial pada dasarnya adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika para individu dan kelompok-kelompok di dalam masyarakat saling bertemu dan menentukan pola hubungan di antara mereka. Dengan demikian proses sosial mencakup masalah yang luas.

Untuk membatasi masalah proses sosial itu, sosiolog Soerjono Soekanto membatasi proses sosial sebagai masalah interaksi sosial. Pada dasarnya, interaksi sosial adalah hubungan antar individu atau kelompok dalam masyarakat yang prosesnya mencakup dua hal: (1) kontak, (2) komunikasi (Soerjono Soekanto, 1990, hal 115). Kontak itu dapat bersifat primer (bertemu muka dengan muka) dan sekunder (lewat alat seperti telepon, media, dan sebagainya). Komunikasi adalah proses menyampaikan pesan (message) kepada orang lain. Pemberi pesan disebut komunikator dan penerima pesan disebut komunikan.

Sosiolog George Simmel menekankan masyarakat sebagai sistem interaksi (Johnson, 1986, hal 251). Masyarakat merupakan kumpulan dari manusia-manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Interaksi sosial itu selalu bersifat timbal balik.

Menurut Soerjono Soekanto, berdasar pada pandanga Gillin dan Gillin serta Kimball Young, masalah interaksi sosial dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk proses-proses sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 79, 97). Pertama, proses yang bersifat asosiatif yang mencakup proses-proses (1) kerjasama [cooperation] (2) akomodasi [accomodation], (3) asimilasi (assimilation). Kedua, proses yang bersifat disosiatif (oppositional processes) yang mencakup proses-proses (1) persaingan [competition], (2) kontravensi [contravention], (3) pertentangan atau pertikaian [conflict].

Proses kerjasama (cooperation) mencakup paling tidak lima bentuk: (1) kerukunan seperti gotong-royong, (2) bargaining, pelaksanaan perjanjian pertukaran barang-barang, (3) kooptasi [cooptation], yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menjaga stabilitas organisasi tersebut, (4) koalisi [coalition], yaitu penggabungan dua organisasi atau lebih untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama, (5) join venture, kerjasama usaha untuk proyek-proyek tertentu.

Proses akomodasi (accomodation) adalah usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan dan mencapai kestabilan. Akomodasi bisa juga menunjuk pada suatu keadaan di mana terjadi keseimbangan dan kestabilan. Akomodasi mencakup tindakan-tindakan seperti (1) coercion, stabilitas yang diadakan dengan pemaksaan-pemaksaan tertentu, misalnya penekanan yang dilakukan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, (2) comprimise, akomodasi dengan cara fihak-fihak bertikai saling mengurangi tuntutan  sehingga tercapai kerharmonisan hubungan, (3) arbitration, penyelesaian pertentangan dibantu oleh pihak ketiga yang lebih tinggi dari kedua belah pihak yang bertikai, misalnya dalam perselisihan perburuhan, (4) mediation, mirip dengan arbitration, pihak ketiga bersifat netral yang bertugas mendamaikan, (5) conciliation, usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan bersama, (6) toleration atau tolerant-participation, usaha menghindarkan diri dari perselisihan dengan menghargai dan mengakomodir perbedaan, (7) stelemate, proses di mana pihak-pihak yang bertentangan mempunyai kekuatan seimbang sehingga berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan itu, (8) adjudication. Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

Asimilasi adalah proseds akomodasi tahap lanjut di mana kemudian terjadi kesatuan baru. Menurut antropolog Koentjaraningkat, asimilasi terjadi bila: (1) ada kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda kebudayaannya, (2) yang saling bergaul dalam waktu yang lama, (3) sehingga masing-masing kebudayaan itu berubah dan saling menyesuaikan diri (Koentjaraningrat, 1955, hal 146).

Persaingan  (competition) biasanya terjadi karena individu-individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat berebut keuntungan. Persaingan masih sehat bila tidak menggunakan unsur-unsur ancaman dan kekerasan. Contohnya adalah persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan dan peranan, dan persaingan ras. Fungsi persaingan adalah (1) menyalurkan keinginan-keinginan yang bersifat kompetitif, (2) menyalurkan kepentingan dan nilai-nilai, (3) menjadi alat seleksi sosial, (4) menjadi alat penyaring untuk menghasilkan sistem pembagian kerja yang efektif (Soerjono Soekanto, 1990, hal 101).

Kontravensi (contravention) adalah persaingan (competition) yang sudah cenderung menuju ke pertentangan/pertikaian (conflict). Ciri-cirinya adalah adanya (1) sikap-sikap penolakan dan perlawanan, (2) penyangkalan, fitnah, cercaan, (3) hasutan, (4) pengkhianatan, (5) tindakan mengejutkan lawan (Soerjono Soekanto, 1990, hal 104). Contohnya adalah antahgonisme keagamaan, kontravensi parlementer yang berkaitan dengan golongan mayoritas dan minoritas, kontravensi intelektual, dan sikap oposisi moral.

Pertentangan/pertikaian (conflict) terjadi jika perbedaan-perbedaan sangat tajam dan saling berbenturan. Bentuk konflik yang parah adalah peperangan. Akibat konflik (1) tambahnya solidaritas masing-masing kelompok, (2) kesatuan masyarakat retak, (3) perubahan kepribadian para individu, (4) kerugian harta benda dan korban jiwa, (5) terjadi akomodasi dominasi dan takluknya salah satu pihak (Soerjono Soekanto, 1990, hal 112-113).

Kelompok-kelompok Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial (social group) adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama dan terdapat hubungan-hubungan di dalamnya (Soerjono Soekanto, 1990, hal 182). Syarat terjadinya kelompok sosial adalah adanya, (1) kesadaran para anggota bahwa mereka adalah bagian dari kelompok itu, (2) ada hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya, (3) ada faktor pemersatu, misalnya tujuan yang sama, kepentingan yang sama, ideologi yang sama, dll, (4) memiliki struktur tertentu. Kelompok-kelompok sosial dapat diklasifikasikan berdasar kriteria-kriteria: (1) besar kecilnya jumlah anggota, (2) derajat interaksi sosial, (3) kepentingan dan wilayah, (4) berlangsungnya suatu kepentingan, (5) derajat organisasi, (6) kesadaran akan kesamaan, misalnya sama dalam tujuan.

Dalam menganalisis masalah kelompok sosial, Soerjono Soekanto menyodorkan beberapa konsep terkait sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 183).

  • In-group, yaitu kelompok sosial dengan mana individu mengidentifikasi dirinya.
  • Out-group, kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan dari in-group-nya.
  • Kelompok primer (primary group) atau face to face group, adalah pandangan CH Coley tentang kelompok paling sederhana di mana para anggotanya saling kenal dan berhubungan erat.
  • Kelompok sekunder (secondary group), adalah pandangan CH Coley tentang kelompok besar terdiri dari banyak orang, antar anggota tidak begitu saling kenal dan tidak ada hubungan-hubungan yang bersifat pribadi
  • Paguyuban (gemeinchaft) adalah pandangan Ferdinand Tonies tentang suatu kehidupan bersama yang para anggotanya mempunyai hubungan batin erat dan penuh rasa cinta kasih.
  • Patembayan (gesselschaft) adalah pandangan Ferdinand Tonies tentang ikatan kebersamaan yang berdasar pikiran dan jangka pendek saja.
  • Formal group, kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggota untuk mengatur hubungan internal mereka.
  • Informal group, kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu, sifatnya tidak resmi.
  • Membership group, adalah kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggotanya.
  • Reference group, adalah kelompok-kelompok yang menjadi acuan bagi seseorang untuk membentuk kepribadian dan perilakunya.
  • Komunitas (community) adalah kelompok sosial atau masyarakat yang berdomisi di wilayah tertentu secara geografis dengan batas-batas wilayah tertentu. Contohnya adalah masyarakat desa (rural community) dan masyarakat kota (urban community).
  • Small group, kelompok kecil yang paling sedikit terdiri dari 2 orang.
  • Kerumunan (crowd) adalah kelompok sosial yang tidak teratur yang sekedar meripakan individu-individu yang berkumpul sementara secara kebetulan pada waktu dan tempat yang sama. Macamnya adalah (1) kerumunan yang berartikulasi dengan stuktur sosial seperti penonton resmi [formal audience] dan kelompok ekspresif yang direncanakan [planned expressive group], (2) kerumunan sementara [casual crowds] seperti kerumunan yang tidak menyenangkan [inconvenient aggregations] dan kerumunan panik [panic crowd], serta kerumunan penonton [spectator crowd], (3) kerumulan yang melawan norma [lawless crowds] seperti kerumunan emosional [acting mobs] dan kerumunan imoral [immoral crowd].

Lembaga Kemasyarakatan

Karena masih simpang-siurnya konsep ini, Soerjono Soekanto menegaskan konsep lembaga kemasyarakatan atau pranata sosial atau social institution ini sebagai himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kebudupan masyarakat, di mana wujud konkritnya adalah berupa asosiasi (assosiation) (Soerjono Soekanto, 1990, hal 245). Contohnya, ”universitas” adalah suatu lembaga kemasyarakatan, sedangkan ”Universitas Sebelas Maret” adalah suatu asosiasi (wujud konkrit dari lembaga kemasyarakatan itu). Fungsi lembaga kemasyarakatan itu adalah (1) memberikan pedoman perilaku kepada masyarakat, (2) menjaga keutuhan masyarakat, (3) memberikan pegangan untuk pengendalian sosial [social control]. Dengan demikian, lembaga kemasyarakatan itu berkaitan erat dengan norma-norma. Adapun norma-norma itu sendiri ada bermacam-macam. Berdasar kekuatannya, Soerjono Soekanto membedakan norma-norma sebagai berikut: (1) cara [usage] yaitu suatu bentuk perbuatan, (2) kebiasaan [folksways] yaitu perbuatan yang sama yang diulang-ulang, (3) tata-kelakuan [mores] yaitu kebiasaan yang dianggap baik dan benar, (3) adat-istiadat [custom] yaitu tata cara yang jadi panutan yang kalau dilanggar diberikan sanksi tegas (Soerjono Soekanto, 1990, hal 246). Norma-norma yang kuat itu kemudian dilembagakan oleh masyarakat sehingga berkekuatan untuk mengendalikan masyarakat (berkekuatan untuk kontrol sosial).

Menurut Gillin dan Gillin sebagaimana dikutip Soerjono Soekanto (1990, hal 248). lembaga kemasyarakatan mempunyai beberapa ciri umum: (1) merupakan organisasi pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud lewat aktivitas-aktivitas sosial, (2) mempunyai tingkat kekekalan tertentu, (3) mempunyai tujuan-tujuan tertentu, (4) mempunyai alat-alat perlengkapan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuannya, (5) mempunyai sistem lambang-lambang, (6) mempunyai tradisi lisan dan tertulis.

Untuk memahami lebih mudah, lembaga kemasyarakatan diklasifikasi sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 249). Dari sudut perkembangannya dibedakan: (1) coercive institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang paling primer seperti agama dan perkawinan, (2) enacted institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu misalnya lembaga pendidikan dan lembaga perdagangan. Dari sudut nilai-nilai yang diterima masyarakat dibedakan: (1) basic institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang penting untuk memelihara ketertiban masyarakat seperti sekolah, negara, keluarga, (2) subsidiary institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang kurang penting seperti rekreasi. Dari sudut penerimaan masyarakat dibedakan: (1) approved atau social sanctioned-intitution yaitu lembaga kemasyarakatan yang diterima masyarakat seperti sekolah dan perusahaan, (2) unsanctioned institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang ditolak masyarakat seperti kelompok penjahat, kelompok pemeras, dan kelompok teroris. Dari sudur penyebarannya dibedakan (1) general institution yaitu lembaga kemasyarakatan yang diterima semua masyarakat misalnya lembaga agama, (2) restricted instituion yaitu lembaga kemasyarakatan yang dianut oleh masyarakat-masyarakat tertentu, misalnya agama Kristen, agama Islam, agama Budha, dan lain-lain. Dari sudut fungsinya dibedakan (1) operative institution yaitu lembaga kemasyarakatan dengan tujuan tertentu yang spesifik misalnya lembaga industri, (2) regulative institution yaitu lembaga kemasyarakatan untuk  mengawasi adat istiadat atau norma-norma dari lembaga itu sendiri, misalnya dalam lembaga hukum ada lembaga-lembaga kejaksaan dan pengadilan.

Telah ditulis di atas bahwa tujuan lembaga kemasyarakatan adalah untuk mengendalikan masyarakat (kontrol sosial). Jika perilaku masyarakat terkendali dengan baik maka terjadilah keadaaan conformity. Sedangkan perlilaku yang menyimpang lazim disebut deviasi sosial (social deviation).

Stratifikasi Sosial

Menurut Patirim A Sorokin sebagaimana dikutip Soerjono Soekanto, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis) di mana itu menunjukkan perbedaan hak, kewajiban, tanggungjawab dan nilai-nilai dalam masyarakat (Soerjono Soekanto, 1990, hal 253). Ada sistem lapisan masyarakat yang bersifat tertutup (closed social stratification) di mana orang sulit berpindah dari lapisan yang satu ke lapisan yang lainnya, baik ke atas ke lapisan yang lebih tinggi maupun ke bawah ke lapisan yang lebih rendah. Namun ada sistem lapisan masyarakat yang terbuka (open social stratification) di mana masyarakat berkesempatan untuk naik lapisan.

Sistem kasta (varna) pada masyarakat India merupakan sistem lapisan yang tertutup. Ada empat varna yang bersifat hirarkis (Koentjaraningrat, 1967, hal 174). yaitu (1) kelas Brahmana, kasta tertinggi yaitu golongan pendeta, (2) kasta Ksatria, bangsawan dan tentara, (3) Vaicya, kaum pedagang, (4) kasta Sudra, rakyat jelata.

Ada juga golongan Paria, yaitu masyarakat India yang tidak berkasta. Dalam stratifikasi sosial muncul istilah kelas sosial (social class, class system). Itu menunjuk pada lapisan-lapisan dari stratifikasi tersebut. Setiap kelas mempunyai sistem sosial-budaya tersendiri termasuk di dalamnya gaya hidup (life style). Kelas sosial sering juga dipakai untuk menunjukkan lapisan secara ekonomi.

Dasar stratifikasi sosial bisa bermacam-macam, misalnya (1) ukuran kekayaan, ada kelas kaya, menengah, dan miskin, (2) ukuran kekuasaan, penguasa menduduki kelas atas, (3) ukuran kehormatan, misalnya dalam masyarakat tradisional, (4) ukuran ilmu pengetahuan, ada kelas terpelajar dan kelas tidak terpelajar (Soerjono Soekanto, 1990, hal 263).

Sosiolog Soerjono Soekanto menunjukkan bahwa stratifikasi sosial memiliki unsur kedudukan (status) dan peranan (role) sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 265-267). Kedudukan sosial (social status) pada dasarnya adalah tempat seseorang dalam kerangka kehidupan bermasyarakat yang jika dipisahkan dari individu bersangkutan maka kedudukan merupakan kumpulan dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Istilah-istilah terkait dengan status sosial ini adalah sebagai berikut:

  • Ascribed status, status sosial yang diperoleh karena kelahiran, misalnya status kebangsawanan.
  • Achieved status, status sosial yang diperoleh karena usaha-usaha yang disengaja.
  • Assigned status, status sosial yang diberikan. Kelompok atau golongan tertentu memberikan status yang lebih tinggi kepada seseorang yang dinilai berjasa.
  • Status conflict adalah pertentangan-pertentangan yang terjadi dalam diri individu karena ia mempunyai banyak status dalam masyarakat.
  • Status symbol adalah ciri-ciri tertentu yang melekat pada status tertentu dalam kehidupan sehari-hari, termasuk gaya hidup, gaya berpakaian, gaya bergaul.
  • Civil effect adalah perbaikan atau peningkatan kedudukan seseorang. Status symbol tertentu bisa menyebabkan civil effet, misalnya gelar sarjana menyebabkan status sosial naik.
  • Social position yaitu posisi seseorang dalam masyarakat yang merupakan unsur statis yang menunjukkan status orang itu dalam masyarakat.

Adapun peranan (role) adalah aspek dinamis dari status sosial (social status). Orang melakukan peranan tertentu bilamana menjalankan hak dan kewajiban yang sesuai dengan statusnya. Istilah-istilah yang terkait antara lain:

  • Role facilities, fasilitas yang diberikan untuk seseorang menjalankan perannya.
  • Conflict of role, pertentangan peran yang terjadi karena adanya status conflct
  • Role distance, pemisahan antara individu dengan peranannya yang sesungguhnya harus dilaksanakannya.
  • Social circle atau lingkaran sosial adalah kelompok sosial di mana seseorang mendapat tempat dan kesempatan untuk melaksanakan perannya.
  • Set of role adalah seperangkat peranan tertentu

Stratifikasi sosial  dalam organisasi formal seringkali merupakan sebuah sistem atau struktur yang sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal itu berkaitan dengan system pembagian kerja dan keteraturan organisasi yang diperlukan demi terlaksananya kegiatan-kegiatan yang diemban. Namun juga tidak pernah lepas dari kepentingan para penguasa dan pemilik modal untuk memantapkan status mereka.

Gerak social (social mobility) yang terjadi di seputar system stratifikasi dapat berupa gerak social horizontal (berpindah dari status satu ke status lain yang sama levelnya) atau gerak social vertical (berpindah dari status satu ke status lain yang berbeda levelnya). Mengenai gerak social vertical, ada gerak naik (social climbing) yang berupa naiknya individu ke status lebih tinggi atau pembentukan kelompok baru yang berstatus lebih tinggi, dan gerak turun (social sinking) yang berupa turunnya individu ke status lebih rendah atau turunnya derajat kelompok individu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 277). Patirim A Sorokin menunjukkan adanya saluran-saluran bagi para individu untuk naik status misalnya saluran pendidikan, agama, organisasi politik, ekonomi, keahlian, di mana proses gerak social vertical melalui saluran-saluran itu disebut sebagai social circulation (Soerjono Soekanto, 1990, hal  279).

Masyarakat dan Kebudayaan

Sosiolog Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta manusia (Soerjono Soekanto, 1990, hal 189). Karya menunjuk pada teknologi dan budaya materi yang dibuat dan dikembangkan manusia. Rasa menunjuk pada jiwa manusia yang menghasilkan nilai-nilai, agama, ideologi, seni. Cipta menunjuk pada ilmu pengetahuan ilmiah yang dikembangkan manusia yang rasional.

Untuk kepentingan analisis sosial, Soerjono Soekanto membedakan konsep-konsep kebudayaan (culture) sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 190).

  • Civilization adalah bagian kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang tinggi.
  • Super culture adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat.
  • Cultures adalah penjabaran dari super culture yang dikaitkan dengan kekhususan daerah, golongan, etnik, profesi, dst.
  • Sub-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang tidak bertentangan dengan kebudayaan induknya.
  • Counter-culture adalah  kebudayaan-kebudayaan khusus yang bertentangan dengan kebudayaan induknya. Ini tidak selalu negatif, terkadang justru mengindikasikan adanya inovasi.

Dari kajian Antropologi berkembang konsep tentang unsur-unsur kebudayaan. Ada unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal (cultural universals) yang menurut C. Kluckhon terdiri dari: (1) sistem peralatan, (2) sistem mata pencaharian, (3) sistem kemasyarakatan seperti sistem kekerabatan, politik, hukum, dan perkawinan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem pengetahuan, (7) sistem kepercayaan. Menurut Ralph Linton dalam Soerjono Soekanto, cultural universal dapat dibagi ke dalam cultural activity yang dapat dibagi lagi dalam trait-complex, kemudian traits, dan terkecil items (Soerjono Soekanto, 1990, hal 193). Contohnya adalah sistem mata pencaharian (cultural universal) yaitu ”pertanian” (cultural activity) yang mencakup salah satunya ”mengolah tanah” (trait complex) yang mencakup salah satunya ”alat pembajak sawah” (traits) yang terdiri dari unsur-unsur terkecil yang salah satunya adalah ”mata bajak” (items).

Kebudayaan berfungsi untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Karena itu kebudayaan merupakan pola-pola perilaku manusia (the pattern of behavior). Menurut Ralph Linton, kebudayaan merupakan petunjuk kehidupan (design for living) karena merupakan garis-garis pokok tentang perilaku (blueprint for behavior) (Soerjono Soekanto, 1990, hal 198). Dalam hal ini kebudayaan bersifat normatif karena mempunyai unsur yang bersifat memberikan penilaian-penilaian (valuational element), menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan (prescriptive element), dan kepercayaan-kepercayaan tentang kebenaran atau kebaikan (cognitive element).

Perubahan Sosial

Perubahan sosial merupakan masalah yang rumit. Berikut adalah beberapa pandangan para ahli yang didaftarkan Soerjono Soekanto tentang konsep tersebut (Soerjono Soekanto, 1990, hal 337).

  • Menurut Mac Iver, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada hubungan-hubungan sosial (social relationship) yang merubah keseimbangan (equilibrium) masyarakat.
  • Menurut Samuel Koenig, perubahan sosial adalah adalah perubahan-perubahan pada pola-pola kehidupan manusia.
  • Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada ”lembaga kemasyarakatan” (social institution, pranata sosial)  yang mempengaruhi sistem sosial secara keseluruhan.
  • Menurut Kingsley Davis, perubahan sosial adalah bagian dari perubahan kebudayaan karena sistem sosial adalah salah satu unsur dari kebudayaan.

Menurut Soerjono Soekanto, perubahan sosial mempunyai beberapa bentuk yaitu (1) perubahan lambat [evolusi] dan perubahan cepat [revolusi], (2) perubahan kecil dan perubahan besar, dan (3) perubahan yang dikehendaki [intended-change] atau yang direncanakan [planned change] dan perubahan yang tidak dikehendaki [unintended change] atau tidak direncanakan [unplanned change] (Soerjono Soekanto, 1990, hal 345-351).

Mengenai evolusi ada beberapa teori: (1) unilinear theories of evolution, mengatakan bahwa manusia dan masyarakat berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu, (2) universal theory of evolution, mengatakan bahwa perkembangan manusia dan masyarakat tidak perlu melalui tahapan-tahapan tertentu, (3) multilined theories of evolution, mengatakan bahwa perkembangan tiap masyarakat itu unik. Sedangkan revolusi merupakan perubahan cepat yang biasa didahului dengan pemberontakan (revolt, rebbelion). Revolusi adalah perubahan radikal meskipun waktunya tidak selalu cepat, misalnya ”revolusi industri”.

Mengenai perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau yang direncanakan (planned change) terdapat beberapa istilah terkait

  • Agent of change, yaitu pihak yang menghendaki dan melancarkan perubahan
  • Social enginering atau social planning adalah cara-cara mempengaruhi masyarakat supaya berubah, disebut juga ”rekayasa sosial”.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial adalah (1) bertambah atau berkurangnya penduduk, (2) penemuan-penemuan baru yaitu discovery [penemuan unsur kebudayaan baru] dan invention [proses dimana masyarakat menerima dan mengakui penemuan baru itu], (3) pertentangan [conflict], termasuk perang (4) pemberontakan atau revolusi, (5) perubahan lingkungan alam dan fisik, termasuk karena adanya bencana alam, (6) peperangan dengan masyarakat/bangsa lain, (7) adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain (Soerjono Soekanto, 1990, hal 352-360).

Mengenai pengaruh kebudayaan masyarakat lain terdapat beberapa konsep terkait sebagai berikut:

  • Difusi (diffusion) yaitu proses penyebaran kebudayaan dari inividu ke individu atau masyarakat ke masyarakat yang meliputi difusi intra masyarakat (intra society diffusion) dan difusi antar masyarakat (inter-society diffusion).
  • Akulturasi, proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing
  • Demonstration effect, hasil pengaruh masyarakat yang diterima tanpa paksaan.
  • Cultural animosity, pertemuan dua kebudayaan yang seimbang dan saling menolak.
  • Symbiotic, hubungan antar individu di mana bentuk masing-masing kebudayaan hampir-hampir tidak berubah.

Mengenai prorses-proses perubahan sosial terdapat beberapa konsep terkait sebagai berikut (Soerjono Soekanto, 1990, hal  367-370).

  • Social equilibrium, keserasian atau harmoni masyarakat.
  • Social adjustment, penyesuaian terhadap adanya unsur-unsur baru yang membawa perubahan
  • Social maladjustment, ketidakpenyesuaian sosial terhadap adanya unsur-unsur baru yang membawa perubahan.
  • Channel of change atau avenue of change, saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan misalnya pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi, dst.
  • Disorganisasi sosial (disintegrasi sosial), keadaan berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat karena adanya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan (social institution).
  • Reorganisasi sosial (reintegrasi sosial), proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan/pembaruan. Reorganisasi terjadi jika norma-norma dan nilai-nilai baru itu melembaga (institutionalized) dalam diri warga masyarakat.

Pembangunan merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang direncanakan. Sebagai perencanaan, pembangunan didisain dengan matang supaya berubah sesuai dengan tahap-tahap tertentu seperti dicontohkan dalah teori pertumbuhan Rostow (Pasaribu, 1986, hal 22-23). Tahap awal adalah tahap masyarakat tradisional (the traditional society) yang direncanakan berkembang menjadi tahap peralihan (the precondition for take off) sampai akhirnya menjadi negara industri yang maju secara ekonomi (take off society).

Modernisasi juga merupakan perubahan sosial. Menurut J.W. Schoorl, modernisasi adalah penerapan pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek masyarakat (Schrool, 1988, hal 4). Jadi, masyarakat modern, menurut definisi itu, adalah masyarakat yang berbasis IPTEK yang berbeda dengan masyarakat tradisional yang tidak ilmiah.

Kekuasaan dan Wewenang

Sosiolog Soerjono Soekanto membedakan antara kekuasaan dan wewenang (Soerjono Soekanto, 1990, hal 328). Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang yang mendapat pengakuan dari masyarakat luas.

Kekuasaan terkait dengan bentuk hubungan yang bersifat asimetris di mana ada pihak yang berkuasa dan ada pihak yang dikuasai. Sedangkan dalam hubungan sosial yang simetris, posisi hubungannya sama dan setara. Kekuasaan adalah hubungan sosial yang mengandung unsur-unsur (1) rasa takut, (2) rasa cinta, (3) kepercayaan, (4) pemujaan, yang bisa dikembangkan melalui berbagai saluran seperti: saluran militer, ekonomi, politik, tradisi, ideologi, dan lain-lain (Soerjono Soekanto, 1990, hal 302).

Kekuasaan dapat dilakukan dengan atau tanpa kekerasan. Ada kekuasaan sah dengan kekerasan dan ada yang tanpa kekerasan. Ada juga kekuasan yang tidak sah dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.

Para penguasa biasanya berusaha mempertahankan kekuasaan mereka. Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya membuat peraturan-peraturan tertentu dan menumbuhkan sistem-sistem kepercayaan tertentu yang sifatnya mendukung mereka.

Sistem kekuasaan membentuk sistem stratifikasi sosial tertentu. Secara umum itu kelas karena ada kelas penguasa dan kelas yang dikuasai. Sosiolog Soerjono Soekanto mengklasifikasi sistem stratifikasi kekuasaan itu sebagai berikut (1) tipe kasta, yaitu sistem pelapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku, (2) tipe oligarkis, meski masih ada garis pemisah yang tegas, dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat terutama pada kesempatan yang diberikan kepada warga untuk memperoleh kekuasaan, (3) tipe demokratis, di mana garis pemisah antara lapisan bersifat mobil sekali (Soerjono Soekanto, 1990, hal 307).

Mengenai wewenang, Soerjono Soekanto membedakan sebagai berikut (1) wewenang karismatis, didasarkan pada karisma yang dipercayai secara supranatural oleh anggapan masyarakat, (2) wewenang tradisional, dimiliki berdasar adat-istiadat, (3) wewenang rasional atau legal, berdasar pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat, (4) wewenang resmi, sifatnya sistematis dan diperhitungkan secara rasional, (5) wewenang tidak resmi sifatnya spontan, situasional dan berdasar saling mengenal, (6) wewenang pribadi, tergantung pada solidaritas antar anggota-anggota kelompok, (7) wewenang teritorial, berdasar pada kewilayahan (Soerjono Soekanto, 1990, hal 311-316).

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiolofi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia, 1986.

Pasaribu dan Simanjuntak. Sosiologi Pembangunan. Bandung: Tarsito, 1986.

Schoorl, J.W. Modernisasi: Penagantar Sosiologi Negara-negara Sedang Berkembang. Jakarta: Gramedia, 1988.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press, 1990.

SOAL


Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah apa yang dimaksud dengan konsep-konsep dasar dalam kajian Sosiologi dan apa mafaatnya untuk analisa sosial?

PERTANYAAN KUNCI

(1) Apakah proses sosial itu? (2) Apakah kelompok sosial itu? (3) Apakah lembaga kemasyarakatan itu? (4)Apakah stratifikasi sosial itu? (5) Apakah kebudayaan itu? (6) Apakah perubahan sosial itu? (7) Apakah kekuasaan dan wewenang itu?

Kunci Jawaban (1) Proses sosial pada dasarnya adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat jika para individu dan kelompok-kelompok di dalam masyarakat saling bertemu dan menentukan pola hubungan di antara mereka. (2) Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial (social group) adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama dan terdapat hubungan-hubungan di dalamnya. Syarat terjadinya kelompok sosial adalah adanya, kesadaran para anggota bahwa mereka adalah bagian dari kelompok itu, ada hubungan timbal balik antar anggota-anggotanya, ada faktor pemersatu, misalnya tujuan yang sama, kepentingan yang sama, ideologi yang sama, dll, memiliki struktur tertentu. (3) Lembaga kemasyarakatan atau pranata sosial atau social institution ini adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kebudupan masyarakat, di mana wujud konkritnya adalah berupa asosiasi (assosiation). (4) Menurut Patirim A Sorokin sebagaimana dikutip Soerjono Soekanto, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis) di mana itu menunjukkan perbedaan hak, kewajiban, tanggungjawab dan nilai-nilai dalam masyarakat. (5) Sosiolog Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Karya menunjuk pada teknologi dan budaya materi yang dibuat dan dikembangkan manusia. Rasa menunjuk pada jiwa manusia yang menghasilkan nilai-nilai, agama, ideologi, seni. Cipta menunjuk pada ilmu pengetahuan ilmiah yang dikembangkan manusia yang rasional. (6) Menurut Mac Iver, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada hubungan-hubungan sosial (social relationship) yang merubah keseimbangan (equilibrium) masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada ”lembaga kemasyarakatan” (social institution, pranata sosial)  yang mempengaruhi sistem sosial secara keseluruhan. (7) Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain. Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang yang mendapat pengakuan dari masyarakat luas.

TUGAS

(1) Berikanlah contoh-contoh praktis untuk setiap konsep dasar Sosiologi yang telah dipelajari, (2) Jelaskan hubungan antara konsep-konsep tersebut dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, (3)  Jelaskan manfaat adanya konsep-konsep tersebut di dalam melakukan kajian atas masyarakat.

C. MASALAH SOSIAL KEKRISTENAN

•October 21, 2009 • Leave a Comment

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar ketiga (KD 3), yaitu mahasiswa dapat menyelidiki masalah-masalah sosial dalam kehidupan kekristenan. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Menyelidiki masalah-masalah sosial kekristenan dengan konsep-konsep sosiologis. (2) Menyelidiki masalah penyimpangan-penyimpangan sosial dalam kekristenan. (3) Menyelidiki masalah konflik-konflik sosial dalam kekristenan.

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini pada dasarnya adalah penerapan dari konsep-konsep dasar Sosiologi untuk memahami masalah-masalah sosial dalam kehidupan kekristenan. Dengan konsep-konsep itu mahasiswa dibantu untuk mengkritisi masalah-masalah kekristenan yang sedang terjadi yang sering tidak dipedulikan.

MATERI

Pendahuluan

Sebagai suatu masyarakat yang sangat heterogen – terdiri dari banyak aliran, kelompok, organisasi, dst – kekristenan sebenarnya mengalami banyak masalah. Namun para pemimpin sering menutup-nutupi masalah-masalah itu. Sementara kebudayaan internal yang ada tidak mendorong orang-orang Kristen untuk bersikap kritis. Membicarakan masalah-masalah seperti itu dirasa tabu karena dianggap mempermalukan diri sendiri. Adapun konsep-konsep sosiologi ini membantu menyingkapkan dan menganalisa secara kritis masalah-masalah kekristenan.

Masalah-masalah Sosial Kekristenan

Bertolak dari konsep-konsep yang telah dipelajari (Category B), masalah-masalah kekristenan yang akan dibahas mencakup soal-soal proses sosial, kelompok sosial, lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, kebudayaan, perubahan sosial, serta kekuasaan dan wewenang. Supaya lebih praktis akan dibahas kasus-kasus di bawah ini.

Kasus 1

Berikut adalah laporan George Ottis tentang perkembangan gereja-gereja di kota Cali, Kolombia (1999, hal 36-36). Awalnya kota Cali dikenal sangat bobrok, kriminal, dan menjadi pusat perdagangan obat bius. Prihatin karena masalah itu, pendeta Julio yang menggembalakan di gereja di Cali sejak 1978 ingin menggalang kesatuan gereja-gereja untuk berdoa bersama dan bertindak bersama merubah kehidupan kota Cali. Bertahun-tahun setelah usahanya menggalang kesatuan itu, terjadi gerakan kesatuan antar gereja. Pada Mei 1995, diadakan acara doa bersama yang diikuti 25.000 orang Kristen dari berbagai gereja. Akibatnya, terjadi mujizat, di mana pemerintah secara luar biasa berhasil menangkap raja-raja obat bius di sana. Namun, pendeta Julio kemudian dibunuh oleh para penjahat. Kematian Julio ternyata justru menggerakkan para pendeta dari berbagai gereja di Cali – yang dulunya tidak bisa bersatu – kemudian bersatu. Setelah gereja-gereja bersatu dan bekerjasama, pertumbuhan kekristenan di sana pun meningkat pesat.

Kasus di atas berkaitan dengan masalah ”proses sosial” sebagai berikut

  • Persatuan gereja-gereja di Cali terjadi karena pendeta Julio yang memelopori kesatuan itu melakukan interaksi (kontak dan komunikasi) dengan kekristenan di sana. Julio melakukan kontak langsung dengan hidup di Cali. Julio juha mengkomunikasikan pesan-pesan untuk mempersatuan para pemimpin di Cali.
  • Apa yang terjadi dalam kehidupan Kristen di Cali adalah proses kerjasama (cooperation) yang nyata antar gereja-gereja yang ada. Wujudnya adalah kegiatan doa dan ibadah bersama.
  • Gereja-gereja di Cali juga melakukan proses conciliation, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan  untuk mencapa persetujuan bersama. Dalam konteks Cali, masalah bersama (musuh bersama) yang dihadapi mendorong gereja-gereja di sana untuk bersatu. Visi untuk membawa perubahan masyarakat mendorong mereka untuk bekerjasama.
  • Tetapi, proses asosiatif gereja-gereja di Cali tidak mengarah kepada asimilasi atau penyatuan dalam arti peleburan menjadi satu. Sama seperti kekristenan di berbagai tempat lain, gereja-gereja Kristen di Cali tetap terorganisir dalam berbagai aliran dan denominasi yang berbeda-beda. Namun, beda dengan dulu, sekarang terjalin kerjasama di antara kepelbagaian itu.

Kasus 2

Robert Nio Tjoe Siang alias Mang Ucup menulis sindiran tentang ”Gereja Cyber” (2004, 75-77). Sekarang gereja-gereja sudah memanfaatkan teknologi internet sehingga jemaat bisa mengikuti renungan, pelajaran Alkitab, dan saat teduh vis internet. Di gereja cyber, kita bisa ikut ibadah tanpa terganggung orang lain. Secara imajinatif digambarkan bahwa kebaktian Minggu dimulai dengan klik ”here” atau ”klik di sini”. Persembahan bisa dilakukan ala e-comerce dengan menggunakan kartu kredit. Doa dikirim via e-mail.

Kasus itu berkaitan dengan masalah proses sosial sebagai berikut:

  • Gereja adalah persekutuan orang percaya yang berarti harus ada interaksi (kontak dan komunikasi) antar anggotanya.
  • Kontak dan komunikasi bisa saja dilakukan secara sekunder dengan media. Namun menurut Alkitab, kontak antar orang percaya harus dilakukan secara primer (langsung), terlihat dari perintah supaya jangan meninggalkan persekutuan dan ibadah.

Kasus 3.

Berikut adalah laporan dari Larry Stockstill yang meneliti gereja lokal yang dikelola dengan sistem “gereja sel” (1998, hal 7). Pada 1993, saya masuk di sebuah gereja Kristen di Singapura. Gereja itu terdiri dari 400 kelompok sel dan 6.000 anggota. Ada kantor-kantor distrik yang tersebar secara geografis untuk menjaga pusat-pusat sel di mana seorang “gembala distrik” dan beberapa “gembala area” mengawasi satu wilayah geografis.

Kasus itu menunjukkan bahwa kekristenan merupakan masalah kelompok sosial

  • Gereja telah mengalami evolusi dari bentuknya yang semula hanya menekankan ibadah raya menjadi pembagian dalam kelompok-kelompok kecil (small group)
  • Kelompok sel pada dasarnya merupakan bentuk primary group yang bersifat gemeinchaft, menekankan kebersamaan, keintiman, dan kekeluargaan yang kental.
  • Dalam gereja bersistem sel ini keanggotaan sangat ditekankan (membership group). Tidak seperti gereja biasa yang jemaatnya bisa datang dan pergi. Dalam gereja sel setiap jemaat harus “tertanam” kuat.
  • Akibatnya, in-group feeling mereka sangat kuat. Ini menjadi biang fanatisme terhadap gereja mereka sendiri dan memperkuat rasa out-group sehingga – sekali pun sesama Kristen – namun karena bukan dari gerejanya, dianggap sebagai orang lain. Akibatnya lebih jauh, terjadi perpecahan antar orang-orang Kristen yang berbeda gereja.
  • Gereja dengan sistem sel berbasis wilayah sehingga merupakan sebuah community. Akibatnya, sebuah wilayah di dalam sebuah kota misalnya, bisa “diperebutkan” oleh beberapa gereja yang berbeda.

Kasus 4.

Berikut adalah catatan pengamatan lapangan oleh Dr. Aritonang tentang ibadah sebuah gereja Karismatik di AS (1996, hal 194-195). “…. Kebaktian diawali dengan serangkaian lagu pujian dan penyembahan yang dipimpin beberapa biduan, diiringi separangkan band. Setiap lagu pujian diulang 5-10 kali, sebagian bernada riang dan sebagian lagi bernada romantis penuh perasaan. Lagu-lagu dilantunkan sambil semuanya bangkit berdiri selama tidak kurang 45 menit terus-menerus. Sambil bernyanyi banyak pengunjung yang bertepuk, atau mengacungkan tangan, atau menari berputar-putar, atau melipat tangan dengan tubuh bergetar dan bibir komat-kamit, atau merintih, bagaikan kesurupan ataupun sedang mencapai puncak kenikmatan, tergantung pada jenis lagu dan pada penghayatan masing-masing. Yang tak tahan berdiri dan bergerak terus-menerus, bebas duduk kembali. Juga bebas minum-minum. Pokoknya santai dan tidak bersuasana resmi. Sementara itu beberapa pasang muda-mudi di bagian belakang ruangan berangkulan mesra sambil tetap mengikuti acara. Sementara acara “pemanasan” itu berlangsung, pendeta seniornya duduk santai di barisan paling belakang, mengenakan pakaian biasa (tidak pakai jubah atau toga)…. Sementara kotbah, pengunjung bebas meninggalkan ruangan (kalau bosan atau merasa acara terlalu panjang).Setelah berlangsung lebih 2 jam, acara ditutup dengan doa dan nyanyian. Sebelum acara berakhir, hampir setengah pengunjung sudah pulang lebih dulu.”

Masalah ibadah gereja Kristen Karismatik itu merupakan masalah agama sebagai sebuah lembaga kemasyarakatan (social institution).

  • Ibadah Kristen gaya Karismatik pada kasus di atas menunjukkan kurangnya penegakan norma-norma yang terkait dengan kedisiplinan (kesucian), terlihat dari bebasnya orang berpacaran pada saat ibadah berlangsung.
  • Tetapi di sisi lain, ibadah itu menunjukkan sebuah usaha untuk membebaskan kekristenan dari belenggu norma-norma keagamaan yang kaku. Pada agama-agama tertentu, semuanya serba diatur ketat, sampai pada tataran cara bertindak (usage), kebiasaan (folkways), dan tata kelakuan (mores). Misalnya cara makan dan cara berpakaian. Kristen karismatik berusaha melepaskan semua belenggu keagamaan itu supaya bisa lebih menghayati hal-hal kerohanian secara emosional dan ekspresif.
  • Jika ditinjau dari Alkitab, Paulus juga menekankan pentingnya norma-norma dalam beribadah seperti dikatakan Paulus sebagai berikut (1 Kor 14:26-40): ”Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi – baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi tunduk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”

Kasus 5.

Pada gereja-gereja Kristen tertentu, posisi sebagai pemimpin (pendeta, gembala) tidak bisa diperoleh begitu saja. Jika seorang pendeta mangkat, akan diteruskan oleh istrinya, dan kemudian anaknya. Sekalipun ada orang lain yang lebih berpotensi di gereja itu, tidak bisa menggeser posisi anak pendeta begitu saja. Jika ada jemaat yang ingin menjadi pendeta maka ia harus membuat gereja baru di luar gereja di tempat mana ia berjemaat.

Kasus ini merupakan kasus yang berkaitan dengan konsep stratifikasi sosial

  • Gereja tersebut memiliki sitem pelapisan sosial yang tertutup (closed social stratification) di mana sulit terjadi mobilitas sosial vertikal seperti dalam sistem kasta.
  • Status sebagai pendeta (pemimpin rohani) dianggap sebagai sebuah ascribed status yaitu status yang dimiliki secara keturunan seperti halnya menjadi raja karena anak seorang raja. Padahal di dalam Alkitab dikatakan bahwa pemimpin adalah pilihan Tuhan, diangkat oleh Tuhan sendiri.

Kasus 6.

Berikut adalah catatan Larry Stockstill tentang sebuah gereja bersistem sel (gereja sel) di Bogota (1998, hal 83-84).  Cesar dan Claudia Castellanos memulai pelayanan kecil mereka, Mision Charismatica Intenational di Bogota, Kolombia [ada 1983. Setelah beberapa tahun, gembala kaum muda mereka, Cesar Fajardo, memulai proses yang serupa dengan yang dilakukan Maiwa’azi Dan Daura, yaitu dengan memuridkan 12 remaja. Kedua belas remaja itu pada gilirannya ditugaskan untuk mencari 12 anak muda lain (umur 16-25) untuk dimuridkan dan dilepaskan ke dalam pelayanan sebagai asisten mereka. Struktur piramida hubungan pelayanan yang sangat besar itu sekarang telah mencapai tiga ”generasi dua belas”. sebagian di antaranya sedang bekerja untuk mengembangkan generasi ke empat.

Kasus itu jelas menggambarkan masalah stratifikasi sosial dalam gereja

  • Pengembangan gereja dilakukan seperti dalam bisnis MLM (multi level marketing) di mana seseorang pemimpin mempunyai beberapa downline yang terus berkembang ke bawah sehingga terbentuklah sebuah ”struktur piramida”.
  • Sistem ”struktur piramida” seperti itu menempatkan setiap orang pada level ”generasi”-nya sendiri-sendiri. Anggota baru jelas akan lebih rendah ketimbang anggota lama yang sudah lebih dulu masuk dan menjadi pemimpin.
  • Sistem pembinaan jemaat seperti itu, diperkuat dengan istilah seperti ”bapak rohani”, ”anak rohani”, ”cucu rohani”, dan seterusnya jelas membangun sebuah sistem stratifikasi yang relatif tertutup yang tidak memungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal.

Kasus 7.

Aimee Semple McPherson (1890-1944) adalah seorang pendeta wanita yang mendirikan gereja besar dan denominasi besar Foursquare. Gedung gereja megah yang dibangunnya dan diberinya nama Angelus Temple menyajikan layanan ibadah yang merupakan perpaduan kebudayaan yang kompleks (Liardon, 1998, hal 178-180). Aimee menyusun paduan suara dan grup musik dengan alat-alat musik terbuat dari kuningan. Para pemusik dan penyanyi mengenakan kostum-kostum khusus. Dekorasi ditata rapi dengan sentuhan seni yang artistik. Ia pernah mendisain kotbahnya seperti sebuah pertunjukan sirkus. Itulah sebabnya pelayanan ibadah Aimee menarik perhatian para selebritis Hollywood untuk mengikuti kebaktian-kebaktian itu. Namun beberapa pendeta lain mengkritik dan bahkan menentang metode pelayanan Aimee tersebut.

Kasus itu merupakan masalah kebudayaan

  • Kebudayaan mencakup hasil karya (teknologi, benda materi), rasa (seni), dan cipta (iptek) manusia. Ibadah yang dikembangkan di gereja itu terlihat memadukan unsur-unsur kebudayaan tersebut.
  • Namun kehadiran gereja Aimee ternyata dianggap tidak lazim, tidak sesuai dengan ”budaya induk” (budaya kekristenan) yang ada. Gereja itu dianggab sebagai sub culture dan bahkan dianggap sebagai counter culture walau sebenarnya bersifat inovatif.

Kasus 8.

Menurut catatan John Naisbitt kekristenan mengalami kemunduran dan sekaligus kebangkitan besar pada era 1990-an (1990, hal 257-258). Di satu sisi kekristenan arus utama (mainstream) mengelami kemerosotan tajam. Misalnya United Metodist Church menurun dari 11 juta anggota pada 1965 kini tinggal 9,2 juta anggota. Juga Presbyterian Church di AS kehilangan 1 juta anggotanya. Tiga denominasi Lutheran juga kehilangan lebih dari setengah juta anggotanya. Sementara itu, gereja-gereja Kristen yang bersifat fundamentalis dan spiritualis – aliran Pentakosta dan Karismatik – mengalami kebangkitan yang luar biasa. Gerakan Kristen karismatik sebelum 1990-an saja sudah mencakup 300 juta anggota di seluruh dunia.

Kemunduran Kristen arus utama dan kebangkitan aliran Pentakostal-Karismatik yang lebih fundamentalis dan spiritualistik merupakan bentuk perubahan sosial:

  • Perubahan kekristenan itu pada dasarnya merupakan perubahan pola-pola kehidupan seperti dikatakan Samuel Koenig. Menjadi Pentakosta-Karismatik merupakan perubahan pola-pola hidup rohani (pertobatan, menjalani pola hidup ”lahir baru”, ketekunan ibadah dan doa, hidup beriman, dst). Dalam gereja-gereja arus utama (Protestan) biasanya kurang ditekankan kehidupan rohani yang militan. Kekristenan Pentakosta-Karismatik jauh lebih bersifat fundamental, spiritualistik, puritan, dan militan.
  • Perubahan dari kekristenan ”tradisional” menuju Pentakostal-Karismatik sering merupakan proses revolutif yang tak jarang dibarengi dengan gerakan ”revolusi” seperti kasus ”perpindahan gereja” dan ”perpecahan gereja”.
  • Perkembangan Pentakosta-Karismatik tidak lepas dari peran para agent of change. Aliran baru ini mempunyai dan menampilkan banyak pengkotbah karismatik yang sangat giat. Mereka, tidak seperti gereja tradisional yang konvensional, giat mengadakan kampanye-kampanye penginjilan dan kebaktian-kebaktian kebangunan rohani akbar untuk menarik banyak anggota baru.
  • Pembaruan Pentakosta-Karismatik membawa disorganisasi (disintegrasi) pada kelompok-kelompok Kristen arus utama, terbukti dari merosotnya jumlah kuantitas mereka. Beberapa gereja tradisional kemudian melakukan adjustment dengan mereorganisasi diri dengan menerima nilai-nilai baru yang diajarkan oleh arus baru tersebut.

Kasus 8.

William Marion Branham (1909-1966) adalah seorang penginjil-pengkotbah kesembuhan illahi dan pemimpin Kristen yang kontroversial (Liardon, 1998, hal 74-117). Kampanye-kanpanye penginjilannya sering disertai mujizat-mujizat kesembuhan yang ajaib. Perkataan-perkataan Branham berkualitas ”nubuat” (pesan Tuhan yang bersifat supranatural). Sayangnya, pada paroh pelayanannya, Branham mengusir Gordon Lindsay – pendampingnya yang adalah seorang ahli teologia. Ia merasa bisa berjalan sendiri karena diberi kekuatan (urapan) oleh Tuhan. Namun karena tidak adanya kontrol dari Lindsay, pengajaran Branham menjadi sesat. Ia bahkan mengajarkan bahwa wanita itu bukan ciptaan Tuhan melainkan benih dari ”si ular” (setan). Wanita harus dihukum, sedangkan pria boleh berpoligami dengan bebasnya. Meskipun sudah sedemikian sesat, para pengikutnya tetap setia dan fanatik. Walau sudah meninggal pada 29 Desember 1965, jasadnya tidak segerak dikuburkan karena para pengikutnya yakin kalau Branham akan bangkit kembali menjelang Paskah 1966. Bahkan mereka yakin bahwa pada saat Branham bangkit nanti akan terjadi juga pengangkatan (rapture) orang-orang percaya ke sorga. Akhirnya, karena tidak juga bangkit, Branham dikuburkan pada 11 April 1966. Sampai 1980-an para Branhamites itu tetap selalu mengadakan ibadah Paskah khusus di mana sebagian dari mereka menantikan kebangkitan sang nabi pujaan tersebut.

Kasus Branham dan Branhamites itu merupakan masalah kekuasan dan wewenang:

  • Kekuasaan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga si penguasa mempunyai pengikut banyak. Branham bukan hanya pengkotbah namun juga pemimpin (penguasa) rohani yang mempunyai banyak pengikut setia yang militan.
  • Kekuasaan terjadi karena ada unsur rasa cinta, rasa takut, kepercayaan, dan pemujaan. Dalam kasus Branhamites, unsur-unsur itu terjadi dan berkembang secara ekstrem.
  • Wewenang yang dimiliki Branham adalah wewenang karismatis di mana para pengikutnya percaya bahwa Branham mempunyai wahyu dan orotitas supranatural dari Tuhan. Hal itu sama seperti kasus penduduk desa di Jawa percaya kepada kepala desanya yang telah menerima pulung dari langit sehingga ditetapkan Tuhan sebagai pemimpin atas mereka.

Penyimpangan-penyimpangan dalam Kekristenan

Kebudayaan adalah sistem norma yang memberi petunjuk kehidupan (design for living) karena berisi aturan-aturan tentang pola-pola perilaku masyarakat (pattern of bevaior). Sistem norma itu ada beberapa tingkatan: (1) cara [usage] yaitu suatu bentuk perbuatan, (2) kebiasaan [folksways] yaitu perbuatan yang sama yang diulang-ulang, (3) tata-kelakuan [mores] yaitu kebiasaan yang dianggap baik dan benar, (3) adat-istiadat [custom] yaitu tata cara yang jadi panutan yang kalau dilanggar diberikan sanksi tegas. Meskipun demikian banyak orang sering melanggar norma-norma itu (perilaku menyimpang, social deviation) sehingga masyarakat harus melakukan pengendalian sosial (social control) dan memiliki orang-orang secara khusus diberi tugas untuk menegakkan norma-norma itu.

Kasus 9.

Meski homoseks merupakan perilaku menyimpang, beberapa aliran gereja Kristen masa kini justru mendukung dan mengesahkan perilaku tersebut (Herlianto, 1995, hal 61-67). Pada 1972, di United Church of Christ di San Francisco seorang gay diangkat menjadi pendeta. United Methodist Church dalam Sidang Pemuda (1974) memberikan resolusi agar “homoseksualitas tidak dijadikan penghalang bagi mereka yang mau melayani”. Troy Perry adalah pendeta gay yang mempunyai pengikut (jemaat) kaum gay. Troy mengatakan, “Allah mengasihi setiap orang, termasuk kaum homoseks. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Ia juga menciptakan kaum homoseks.Karena itu homoseksualitas merupakan pemberian Allah.”

Gejala itu merupakan masalah penyimpangan social sebagai berikut

  • Bagi masyarakat Kristen secara umum, nilai-nilai dan norma-norma kesucian dijunjung tinggi. Dengan demikian orang-orang Kristen homoseks adalah orang-orang yang dianggap berperilaku menyimpang. Kalau ada kelompok Kristen homoseks, mereka dianggap sebagai counter culture yang bertentangan dengan ”budaya induk” Kristen.
  • Munculnya kaum gay Kristen menunjukkan kurangnya control social (social control) di dalam kekristenan. Hal itu terjadi karena komunitas Kristen bersifat heterogen dan tidak ada sistem kepemimpinan hirarki seperti dalam Katolik.
  • Di sisi lain, fenomena homoseksialitas dalam Kekristenan di atas menunjukkan telah terjadinya perubahan social yang merupakan perubahan pada norma-norma (lembaga kemasyarakatan). Telah muncul sistem norma baru tentang seksualitas yang kini dikenal sebagai ”Teologi Gay”. Hadirnya kebudayaan baru itu menyebabkan proses disorganisasi gereja sehingga terjadi pertentangan/pertikaian yang kadang berujung perpecahan dan munculnya aliran-aliran Kristen baru.

Konflik-konflik dalam Kekristenan

Di dalam interaksi sosial sering terjadi proses-proses yang bersifat disosiatif seperti persaingan, kontravensi, dan pertikaian/pertentangan (social conflict). Persaingan mempunyai nilai positif untuk mendorong orang berprestasi, misalnya persaingan dalam dunia pendidikan dan ekonomi. Namun tak jarang persaingan terjadi dengan tidak sehat dan cenderung menjadi kontravensi yang akhirnya menjadi konflik. Hal-hal seperti itu sering juga terjadi di dalam kekristenan.

Kasus 10

Berikut adalah kejadian di sebuah kota. Di kota itu sudah ada cukup banyak gereja. Tiba-tiba, tanpa melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap gereja-gereja dan para pemimpin Kristen yang ada di kota itu, seorang pendeta asal luar kota datang, tinggal, dan mendirikan gereja baru. Dengan kekuatan modalnya yang sangat besar, gereja baru itu langsung mempunyai fasilitas (gedung, sound system, musik, dll) yang sangat bagus. Lalu, tim dari gereja itu berusaha untuk mendapatkan pengikut (jemaat) dengan cara merebut jemaat-jemaat yang sudah menjadi anggota gereja-gereja yang sudah ada di kota itu. Tim gereja baru itu bahkan memberi fasilitas antar jemput dan makan-minum bagi mereka yang mau menjadi anggota gereja baru itu. Alhasil dalam waktu setahun saja gereja baru itu sudah mempunyai banyak pengikut (jemaat). Akibatnya, gereja-gereja lain menjadi marah karena merasa dirugikan (jemaatnya dicuri). Apalagi gereja baru itu berani membayar (menggaji) mahal para aktivis yang sudah bekerja (melayani) di gereja-gereja lain namun mau berpindah bekerja di gereja baru tersebut. Kotbah-kotbah di gereja baru itu senantiasa memprovokasi bahwa gereja baru itulah yang terbaik dan gereja-gereja lain tidak baik. Hal itu menumbukan sikap fanatik jemaat gereja baru itu sehingga tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen di luar gerejanya. Kejadian nyata ini ternyata juga terjadi di berbagai kota lain.

Secara sosiologis, kasus di atas merupakan proses yang bersifat disosiatif yang terjadi dalam interaksi masyarakat Kristen.

  • Masyarakat Kristen pada dasarnya heterogen. Pada Buku Data dan Statistik Keagamaan Kristen Protestan tahun 1992, dicatat ada 275 organisasi gereja dan 400 yayasan Kristen (Aritonang, 1996, hal 1). Heterogenitas itu menimbulkan suasana persaingan antar gereja. Apalagi jika setiap gereja berorientasi pada pertumbuhan jumlah jemaat, kemungkinan untuk saling berebut anggota sangatlah besar. Setiap gereja berlomba-lomba memberikan layanan terbaik untuk menarik pengikut baru. Persaingan mendorong setiap gereja untuk maju.
  • Persaingan menjadi tidak sehat manakala bersifat saling menjatuhkan. Apalagi ketika ”kapitalisme” diterapkan dalam pengelolaan gereja. Gereja kaya akan menggilas gereja kecil karena mereka bisa memberikan fasilitas jauh lebih baik dan menggaji para pegawai dengan gaji yang tinggi. Tidak jarang para pegawai/pekerja (pelayan) gereja-gereja lemah berpindah kerja ke gereja-gereja besar dan kaya. Kasus di atas merupakan bukti konkrit bahwa ”hukum rimba” terjadi dalam masyarakat Kristen.
  • Persaingan (competition) menjadi kontravensi manakala ada unsur-unsur negatif seperti menjelek-jelekkan, mendiskreditkan, dan manyalahkan. Gereja-gereja yang bersaing terkadang saling mendiskreditkan satu sama lain. Menganggap dirinya paling benar dan gereja lain salah atau bahkan sesat.
  • Proses akomodasi antar gereja yang bersaing atau berkontravensi dan bertikai terkadang sulit karena tidak adanya pihak-pihak yang mendamaikan (tidak ada mediator dan arbiter). Hal itu terjadi karena masing-masing gereja merasa setara atau sejajar sehingga tidak mau saling menundukkan diri.

Kasus 11

Jemaat (gereja) di kota Korintus pada jaman para rasul adalah contoh orang-orang Kristen yang dilanda perselisihan. Berikut adalah catatan rasul Paulus mengenai kehidupan di sana (surat 1 Kor 3:1-9): ”Dan, aku saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani tetapi hanya dengan manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu bukanlah makanan keras sebab kamu belum dapat menerimanya dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya karena kamu masih manusia duniawi. Sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan bahwa bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata aku dari dari golongan Paulus dan yang lain berkata Aku dari golongan Apolos bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? Jadi apakah Apolos? Apakah Paulus, pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam , Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram sama dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri karena kami adalah kawan sekerja Allah, kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”

Kasus jemaat Korintus itu menunjukkan adanya masalah sosiologis sebagai berikut.

  • Paulus mengajarkan prinsip bahwa komunitas Kristen (jemaat, gereja) merupakan sebuah sistem (kesatuan utuh yang terdiri dari beberapa unsur yang saling terkait satu sama lain). Bahkan, Paulus – pada bagian lain – mengajarkan prinsip Tubuh Kristus yang berarti bahwa komunitas Kristen merupakan sebuah sistem seperti halnya organisme biologis.
  • Terlihat bahwa Paulus menjelaskan kondisi ideal komunitas Kristen sebagai kehidupan harmonis yang antar unsur-unsurnya terjadi gerakan saling mendukung dan bekerjasama satu sama lain.
  • Tetapi di dalam jemaat Korintus, seperti ditegur Paulus, terjadi perselisihan dan iri hati yang berarti bukan lagi persaingan namun sudah menuju ke arah terjadinya kontravensi dan pertikaian yang merusak keseimbangan sistem.
  • Perselisihan itu bagi Paulus merupakan tindakan yang tidak ideal karena disebut olehnya sebagai perilaku yang tidak rohani namun duniawi. Hal itu menunjukkan bahwa ”kesatuan” (Kesatuan Tubuh Kristus) merupakan nilai-nilai dan norma-norma ideal yang harus ditaati dan diamalkan.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Aritonang, Jan S. Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Herlianto. AIDS dan Perilaku Seksual. Bandung: Kalam Hidup, 1995.

Liardon, Roberts. Mengapa Mereka Sukses dan Beberapa di Antaranya Gagal. Jakarta: Metanoia, 1998.

Naisbitt, John; Aburdene, Patricia. Megatrend 2000. Jakarta: Binarupa Aksara, 1990.

Stockstill, Larry. Gereja Sel. Jakarta: Metanoia, 1998.

Ucup, Mang. Gereja Duit versus Gereja Allah. Yogyakarta: Kairos, 2004.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah bagaimana cara menggunakan konsep-konsep Sosiologi untuk memahami masalah-masalah sosial yang terjadi?

PERTANYAAN KUNCI

(1) Berikan contoh masalah proses sosial!, (2) Berikan contoh masalah kelompok sosial!, (3) Berikan contoh masalah lembaga kemasyarakatan!, (4) Berikan contoh masalah stratifikasi sosial!, (5) Berikan contoh masalah kebudayaan!, (6) Berikan contoh masalah perubahan sosial!, (7) Berikan contoh masalah kekuasaan dan wewenang!, (8) Berikan contoh masalah penyimpangan sosial!, (9) Berikan contoh masalah konflik sosial!

Kunci Jawaban (1) Contoh proses sosial adalah proses asosiatif yang berupa kerjasama dan kesatuan antar gereja-gereja lokal di sebuah kota. Seringkali kerjasama itu sulit terjadi karena masing-masing gereja harus melakukan pendekatan untuk mempertemukan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan yang sama. Yang sering terjasi adalah proses disosiatif yaitu persaingan, kontravensi, dan konflik antar gereja-gereja. (2) Gereja lokal pada dasarnya merupakan sebuah kelompok sosial. Gereja lokal juga merupakan sebuah ”komunitas” karena merupakan kelompok yang berbasis pada wilayah tertentu. Gereja dengan sistem sel merupakan kelompok sosial dengan ”in group feeling” yang sangat kuat. (3) Ibadah Gereja merupakan sebuah contoh lembaga kemasyarakatan karena merupakan sistem norma-norma yang berpusat pada tujuan tertentu. Ada ibadah-ibadah Kristen yang dilakukan dengan penegakkan norma-norma yang ketat, misalnya pola ibadah yang bersifat liturgis dalam gereja-gereja tradisional. Namun ada ibadah-ibadah gereja yang sifatnya lebih santai tanpa aturan-aturan yang ketat seperti yang dilakukan di gereja-gereja aliran Karismatik. (4) Gereja-gereja Kristen tertentu mempunyai stratifikasi sosial yang sangat tegas di mana sistem kepemimpinannya bersifat hirarkis piramidal. Bahkan ada gereja yang sistemnya ”closed social stratification” di mana tidak memungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal, yang bisa menjadi pendeta misalnya, hanyalah keturunan (anak) dari pendeta yang berkuasa (ascribed status system). (5) Gereja pada dasarnya merupakan sebuah sistem kebudayaan di mana di dalamnya ada berbagai unsur seperti teknologi/peralatan (gedung, alat, musik, sound system, dll), seni (pujian, lagu, musik), sistem kepercayaan (doktrin, ajaran, teologi), bahasa (komunikasi, penggunaan bahasa dalam ibadah), sistem mata pencaharian (ada pendeta, pegawai, karyawan), sistem sosial (ada kelompok sel, ada panitia, ada pertemuan, dll), dan sistem pengetahuan (teologi). (6) Contoh perubahan sosial adalah perkembangan yang terjadi dalam tren kekristenan saat itu di mana aliran arus utama yang berciri Protestan berubah/berkembang menjadi bercorak Pentakostal/Karismatik yang bersifat fundamentalistik-spiritualistik. Perubahan itu mencakup perubahan pola-pola hidup, khususnya praktek kehidupan beragama. (7) Contoh masalah kekuasan dan wewenang adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang pendeta untuk mempengaruhi jemaat atau pengikutnya. Seringkali kepemimpinan Kristen bersifat wewenang karismatik di mana pengikutnya percaya bahwa sang pemimpin itu diberi otoritas supranatural dari Tuhan. Karena itu terjadilah proses kultus individu yang dipraktekkan secara emosional. (8) Contoh penyimpangan sosial dalam kekristenan adalah pengembangan ajaran dan praktek hidup yang tidak suci (misalnya homoseksualitas). Dalam ajaran Kristen jelas ditegaskan bahwa kesucian merupakan pola hidup yang utama. Praktek kehidupan yang tidak suci terjadi karena kurangnya kontrol sosial atas perkembangan ajaran dan praktek kepemimpinan yang berkembang sekarang. (9) Hubungan-hubungan disosiatif yang sering terjadi antar gereja-gereja lokal terkadang merupakan bentuk konflik yang parah. Pertentangan terjadi sehingga permusuhan antar pendeta dan gereja tidak terelakkan. Bahkan ada gereja lokal yang besar mengalami perpecahan sehingga terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang kecil.

TUGAS

(1) Buatlah analisis tentang masalah apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan gereja lokal Anda. (2) Buatlah analisis tentang masalah-masalah apa saja yang krusial yang sedang melanda hubungan antar beberapa gereja lokal di kota Anda.

D. GEREJA & PENGINJILAN

•October 21, 2009 • Leave a Comment

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar pertama (KD 4), yaitu mahasiswa dapat memerinci masalah-masalah sosial apa yang dihadapi gereja di masyarakat. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Memerinci masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh gereja lokal. (2) Memerinci masalah-masalah sosial dalam proses penginjilan

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini mengarah pada penyelidikan sosiologis yang terkait dengan masalah gereja dan penginjilan yang dengan demikian terkait dengan pelajaran ekklesiologi dan misiologia. Penekanan dalam pelajaran ini adalah pengkajian aspek sosiologisnya sedangkan aspek teologinya tentu lebih banyak dipelajari dalam kedua bidang teologis sistematis tersebut.

MATERI

Pendahuluan

Masalah gereja dan penginjilan tidak hanya berdimensi spritual atau rohani tetapi juga berdimensi sosial (sosiologis) karena berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Pelayanan gereja dan penginjilan seringkali menemui kegagalan dan bahkan kekonyolan karena tidak memperhitungkan aspek-aspek sosiologis.

Masalah Sosial yang Dihadapi Gereja

Istilah gereja menurutt Earl Radmacher sebagaimana dikutip White menunjuk pada pengertian teknis dan pengertian kiasan (White, 1983, hal 90). Dalam pengertian teknis, gereja berarti kumpulan orang-orang Kristen setempat (komunitas Kristen di wilayah tertentu). Sedangkan dalam pengertian kiasan, gereja berarti keseluruhan orang-orang Kristen (gereja am). Istilah gereja (ekklesia) yang digunakan dalam surat Paulus di Efesus menunjuk pada gereja am tersebut (Ef 1:22,23; 3:10, 21; 5:23, 24, 25, 27, 29, 30). Menurut White, 90 dari 114 kata ekklesia dalam Alkitab Perjanjian Baru menunjuk pada orang-orang Kristen setempat (komunitas Kristen, jemaat lokal, gereja lokal) (White, 1983, hal 94).

Gereja lokal yang dilaporkan dalam Alkitab bisa berjumlah besar maupun kecil. Menurut White, ada gereja lokal yang hanya sebesar sebuah keluarga (rumah tangga) (White, 1983, hal 95). Pesat rasul Paulus dalam surat Roma 16:5 (”Salam juga kepada jemaat di rumah mereka”) menunjukkan bahwa gereja lokal yang ada di sana hanyalah merupakan sebuah pertemuan ibadah keluarga.

Menurut Chris Marantika, gereja lokal mempunyai tiga fungsi mendasar. Pertama fungsi rohani, yaitu ibadah, pemuaan, pujian, dan doa. Kedua, fungsi ke dalam yaitu persekutuan, pendidikan, pembinaan, dan pendisiplinan para anggota. Ketiga, fungsi ke masyarakat, yaitu penginjilan, pelayanan, pengajaran, dan peneguran. Menurut Don Hoke sebagaimana dikutip Marantika, gereja lokal harus mempunyai fokus untuk memberitakan Injil.

Secara sosiologis, gereja lokal merupakan sebuah kelompok sosial (social group) atau komunitas (community). Dilihat dari kehidupan dan organisasinya, bisa merupakan sebuah kelompok primer yang kecil yang bersifat gemeinchaft atau kelompok sekunder yang besar yang hubungan-hubungan di antara para anggotanya tidak begitu erat berdasar kekeluargaan.

Sebagai sebuah kelompok sosial atau komunitas, gereja lokal akan berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat. Dengan demikian pasti akan ada proses-proses sosial yang terjadi, baik yang asosiatif maupun disosiatif. Untuk memahaminya bisa dipelajari kasus-kasus sebagai berikut.

Kasus 1

Umat Kristiani (Kristen dan Katolik) Yogyakarta selayaknya bersyukur karena selama ini, sejak tahun 2003 silam, diperkenankan untuk merayakan Natal bersama di Pagelaran Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Sementara umat Kristiani di tempat-tempat lain di Indonesia merayakan Natal dengan was-was karena trauma teror bom dan kerusuhan, umat Kristiani di Yogyakarta justru menerima kesempatan istimewa…. Dalam pidato jumenengan pada tanggal 7 Maret 1989 yang berjudul “Tahta bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat”, Sri Sultan HB X menyatakan untuk senantiasa hangrengkuh siapa pun, merangkul semua pihak. Sejauh ini, HB X telah menunjukkan konsistensinya, khususnya dalam memberi perhatian kepada berbagai kelompok agama.  Pada tanggal 13 Februari 1999, HB X memberikan sekitar 200 hektar tanah milik Kraton di kawasan Kotagede-Piyungan untuk dijadikan Perkampungan Islam Internasional (International Islamic Village). Dedikasi itu disambut penuh antusias oleh 29 Duta Besar dari negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam). Jika kemudian HB X memberi kesempatan istimewa bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal di teras istana Kraton (Pagelaran), hal itu menunjukkan sikapnya sebagai seorang raja yang adil. (Haryadi Baskoro, Ketika Natal Dirayakan di Kraton – artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 26 Desember 2007)

Peristiwa Natal di Yogyakarta tersebut dapat dijelaskan secara sosologis sebagai berikut:

  • Masyarakat Yogyakarta merupakan masyarakat heterogen (majemuk) dengan beragam agama dan suku bangsa. Meski demikian, sistem nilai di sini menjaga interaksi sosial supaya senantiasa akomodatif. Kerjasama antar suku-ras-agama semakin terpelihara karena semakin diperkuatnya visi the city of  tolerant. Nilai-nilai kebersamaan juga telah terbangun sejak jaman dulu. Berikut adalah cuplikan artikel opini Sudomo Sunaryo (artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, 21 Mei 2009). ”Sejak berdirinya, Kasultanan Yogyakarta merupakan sebuah komunitas yang heterogen atau plural (Subkhan, 2007). Mulai tahun 1900-an muncul nama-nama kampung yang berdasarkan etnis para warganya. Kampung Kranggan didominasi etnis Cina. Kampung Sayidan didiami orang-orang Arab. Kampung Menduran merupakan kawasan orang-orang Madura. Kampung Bugisan ditinggali oleh orang-orang Bugis. Nama-nama kampung di Yogya juga menunjukkan keberagaman profesi masyarakatnya. Kampung-kampung di wilayah Kraton (jeron beteng) dinamai berbeda-beda sesuai profesi masyarakatnya. Misalnya, kampung Mantrigawen (warganya adalah abdi dalem pegurus rumah tangga Kraton), kampung Siliran (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyalakan lampu penerangan), kampung Patehan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyediakan minuman teh), kampung Nagan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan), dan kampung Kauman (warganya adalah abdi dalem yang bertugas dalam bidang keagamaan). Sekalipun sangat beragam, Yogyakarta terkenal dengan toleransi dan keharmonisannya. Karena itu Yogya dijuluki sebagai “the city of tolerance” dan “the city of harmony”. Kedamaian seperti itu sudah terjadi sejak dulu.  Menurut catatan Subkhan (2007), pada jaman HB II pernah ada seorang keturunan Tionghoa menjabat Bupati Kota Yogyakarta. Namanya adalah Raden Tumenggung Setyadiningrat alias Tan Jin Sing. Di Yogya tidak pernah terjadi konflik Jawa-Cina sebagaimana terjadi di kota-kota lain.”
  • Di masyarakat Yogyakarta terdapat kepemimpinan yang berkewenangan karismatis yang dihormati dan ditaati oleh segenap rakyat. Berikut adalah cuplikan artikel Haryadi Baskoro (artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 26 Desember 2007). ”Kesempatan istimewa yang diberikan bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal bersama di Kraton menunjukkan kearifan Sultan sebagai seorang pemimpin. Sejak Kasultanan Yogyakarta berdiri pada tahun 1755 (Perjanjian Giyanti), Sultan HB I dan penerusnya mempunyai gelar Senapati ing Ngalaga Ngabdul Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah. Artinya, Sultan adalah seorang pemuka dan pemimpin agama. Kalau kemudian Sultan HB X sebagai pewaris tradisi Mataram Islam mengijinkan umat non-Islam beribadah di Kraton, hal itu sangat luar biasa.”

Kasus 2.

Di beberapa wilayah di Indonesia telah terjadi konflik berbau SARA (suku-ras-agama). Gereja-gereja mengalami tekanan. Gedung-gedung gereja dirusak, dibakar, dihancurkan. Banyak pula orang Kristen dianiaya dan bahkan dibunuh. Namun, tidak sedikit pula orang Kristen yang berbuat tidak benar dengan melancarkan pembalasan – bahkan ada yang mendahuli (memancing) konflik. Akibatnya, perpecahan dan peperagan antar kelompok agama pun terjadilah. Bukan hanya rumah-rumah ibadah Kristen yang rusak, rumah-rumah ibadah lain juga hancur. Kehancuran terjadi di semua pihak. Kehidupan yang semula damai dan harmonis dalam semangat persatuan Indonesia pun hancur lebur!

Penjelasan sosiologis atas kasus itu adalah sebagai berikut:

  • Konflik SARA pada dasarnya adalah proses sosial yang bersifat disosiatif yang mungkin dimulai dari proses kontravensi yang berkembang menjadi pertikaian/pertentangan. Untuk mengatasi kondisi itu diperlukan langkah-langkah akomodasi seperti conciliation, arbitration, dan mediation.
  • Konflik-konflik SARA juga sering terjadi karena adanya pemimpin berkewenangan karismatis yang memancing emosi umat untuk bertindak fundamentalistik. Karena itu setiap pemimpin agama harus bisa menanamkan nilai-nilai kedamaian dan cinta kasih melalui kewenangan karismatis mereka itu.
  • Sosiologi telah mengembangkan analisis mendalam mengenai masalah konflik sosial. Wehr dan Bartos misalnya, telah mengembangkan teknik pemetaan konflik sosial sebagai berikut (Novri Susan, 2009): (1) Specify the context: menelusuri informasi mengenai sejarah konflik dan bentuk fisik dan tata organisasi yang berkonflik, (2) Identify the parties: menemukan siapakah yang menjadi pihak-pihak yang berkonflik; pihak utama yang berkonflik adalah mereka yang menggunakan perilaku dan tindakan menekan (koersif) dan memiliki arah kepentingan dari hasil konflik, (3) Separate causes from consequences: memisahkan apa yang menjadi sebab akar konflik dengan akibat-akibat sampingan dari konflik itu, contoh: konflik suami istri: akar konfliknya adalah masalah ekonomi dan akibat sampingan konfliknya adalah saling menyalahkan, (4) Separate goals from interests: memisahkan antara goal dan kepentingan (interest), gol konflik = sasaran selama proses konflik, sifatnya spesifik, sedangkan kepentingan (interest)nya adalah konsekuensi secara keseluruhan yang diinginkan dari konflik oleh seluruh pihak terlibat, (5)  Understand the dynamics: memahami perkembangan-perkembangan konflik, (6) Search for positive function: menemukan bentuk-bentuk perilaku yang memungkinkan konflik bisa mengarah ke penyelesaian, (7) Understand the regulation potential: masalah bagaimana aturan legal (misalnya undang-undang) bisa menyelesaikan masalah konflik.
  • Model pemetaan sosiologi konflik yang dikembangkan oleh Amr Abdalla dari United Nations-University for Peace adalah Model ”SIPABIO” yang merupakan singkatan dari (Novri Susan, 2009): (1) SOURCE (sumber konflik), prinsipnya, sumber konflik yang berbeda akan menyebabkan tipe konflik yang berbeda pula, jadi harus ditemukan dulu apa sumber konfliknya (akar masalah konflik), (2) ISSUES (isu-isu), yaitu menunjuk pada saling keterkaitan tujuan-tujuan yang tidak sejalan di antara pihak-pihak yang bertikai, (3) PARTIES (pihak-pihak yang bertikai), pihak yang berkonflik adalah kelompok yang berpartisipasi dalam konflik, baik pihak konflik utama yang langsung berhubungan dengan kepentingan, pihak sekunder uah tidak secara langsung dengan kepentingan, dan pihak tersier yang tidak berhubungan dengan kepentingan konflik, (4) ATTITUDES/FEELING (sikap/perasaan), yaitu perasaan dan persepsi yang mempengaruhi pola perilaku konflik (bisa sikap positif bisa sikap negatif), (5) BEHAVIOR (perilaku), yaitu aspek tindak sosial dari pihak-pihak yang berkonflik, sifat perilaku itu bisa coercive action atau noncoercive action, (6) INTERVENTION (campur tangan pihak lain), yaitu tindakan sosial dari pihak netral hang ditujukan untuk membantu hubungan konflik menemukan penyelesaian, (7) OUTCOME (hasil akhir), yaitu dampak dari berbagai tindakan pihak-pihak berkonflik dalam bentuk situasi.
  • Manajemen konflik yang diajarkan dalam Alkitab pada dasarnya adalah ”manajemen kasih”. Tuhan Yesus mengajarkan supaya orang Kristen mengasihi musuh-musuhnya, kata-Nya, ”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Rasul Paulus juga menegaskan, ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku (hak Tuhan). Akulah (Tuhanlah) yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah dia minum. Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara di atas kepalanya (membuatnya malu). Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rom 12:17-21).

Masalah Sosial yang Dihadapi dalam Penginjilan

Misiolog Arie de Kuiper menjelaskan bahwa penginjilan mencakup masalah-masalah utama yaitu subyek penginjilan, obyek penginjilan, tujuan penginjilan, dan cara penginjilan (1996, hal 75). Mengenai subyek penginjilan, Kuiper menegaskan bahwa Tuhanlah yang mengutus (memberi mandat) dan gereja (komunitas orang Kristen) adalah pelaksana tugas penginjilan itu. Obyek penginjilan adalah manusia (masyarakat) yang belum menjadi Kristen. Tujuannya adalah supaya manusia-manusia itu mau menjadi Kristen sehingga menjadi umat Kristen. Dengan demikian penginjilan adalah proses pengembangan umat melalui ajakan untuk menjadi pengikut – suatu ciri alamiah dari setiap agama yang ada.

Tetapi di dalam teologia Kristen, menjadi Kristen diyakini sebagai suatu proses yang bersifat illahi. Artinya, bukan karena rekayasa, dorongan, apalagi paksaan manusiawi. Menjadi Kristen (percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat) merupakan hasil karya dan dorongan dari Roh Kudus (Tuhan sendiri). Adapun tugas penginjilan yang dilakukan oleh gereja (komunitas Kristen) sifatnya hanya memberitahukan jalan (menunjukkan kebenaran) tanpa memberi paksaan (kristenisasi).

Data dari Alkitab memang menunjukkan bahwa menjadi Kriten bukanlah rekayasa manusia. Bukan paksaan manusia. Sebagai contoh adalah pertobatan Paulus. Dulunya, Paulus adalah penganiaya umat Kristen. Namun, ketika hendak menganiaya orang Kristen, Tuhan Yesus menyatakan diri dalam bentuk sinar dan suara teguran yang akhirnya mempertobatkan dirinya sampai menjadi seorang rasul dan pemimpin Kristen (Kis 9).

Adapun sosiologi berbeda dengan teologia. Sosiologi adalah sains yang bersifat ilmiah sehingga tidak membahas masalah-masalah yang bersifat supranatural. Gejala-gejala yang bersifat supranatural dianalisa secara rasional. Demkian halnya dengan proses penginjilan yang menurut Iman Kristen adalah proses illahi, di mana sosiolog hanya dipahami sebagai proses sosial semata.

Penginjilan secara sosiologis adalah proses merekrut orang untuk menjadi anggota gereja (komunitas Kristen) dengan cara mengarahkannya untuk memahami dan menerima ajaran Kristen. Dengan demikian penginjilan merupakan proses interaksi sosial. Gereja (orang Kristen) adalah komunikator dalam proses penginjilan dan orang non Kristen adalah komunikan. Penginjil melakukan kontak dengan para komunikan itu, baik secara primer maupun sekunder. Setelah kontak itu, penginjil mengkomunikasikan pesan pengajaran Kristen. Responnya berupa feedback, yaitu penerimaan atau penolakan. Secara sosiologis, penginjilan Kristen adalah bentuk akomodasi yaitu pendekan yang bersifat damai tanpa ada unsur kekerasan dan paksaan. Untuk memahami bisa dilihat kasus di bawah ini.

Kasus 3

Billy Graham adalah penginjil  besar dengan prestasi hebat (Majalah BAHANA edisi April 1996). Ia telah mengkotbahkan Injil kepada 80-an juta orang dan hampir 3 juta orang meresponnya dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Dia telah berbicara kepada banyak orang lewat radio, televisi, dan film. Ia sudah mulai menyiarkan acara televisi Hour of Decision sejak 1957. Pada 1995, ketika sudah berusia 77 tahun, Billy berkotbah di kampanye penginjilan akbar di Puerto Rico dan dipancarkan dengan jaringan 30 satelit ke lebih dari 185 negara dan diterjemahkan dalam  116 bahasa. Billy adalah pengkotbah Kristen pertama yang berhasil berkotbah di depan umum di negeri komunis Cina setelah Perang Dunia II, Budapest (1989), dan Moskow Rusia (1992). Di Cina, ia telah mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Beijing (1988) dan Pyongyang (1992). Billy mempunyai hubungan karib dengan para pemimpin dunia. Ketika Eisenhower terpilih, ia membantu perencanaan inagurasi presiden AS  tersebut. Kecuali itu, melati waktu demi waktu,  Billy karib dengan 8 presiden AS  yang lainnya. Billy graham menjadi tokoh terkenal di masyarakat. Sejak tahun 1950-an ia telah masuk daftar tetap dari orang-orang Amerika yang paling dikagumi. Penelitian majalah Ladies’ Home Journal menempatkan dia sebagai pribadi nomor dua setelah Allah dalam kategori “pencapaian dalam agama”.

Kesuksesan pelayanan penginjilan Billy Graham dapat dijelaskan secara sosiologis sebagai berikut

  • Penginjilan adalah proses interaksi sosial di mana di dalamnya terjadi proses kontak dan proses komunikasi. Billy adalah penginjil yang piawai untuk melakukan kontak dengan berbagai masyarakat. Dia bisa masuk ke Beijing dan Rusia, masyarakat/bangsa yang tertutup itu.
  • Kontak yang dilakukannya bersifat kontak primer dan kontak sekunder. Billy bahkan menggunakan satelit untuk melancarkan kontak kepada sebanyak mungkin orang/masyarakat.
  • Billy juga pandai melancarkan komunikasi, yaitu membawakan pesan injil itu sendiri. Ia memakai berbagai bahasa untuk mebagikan pesan Injil  Ia sendiri dikenal sebagai seorang pembicara mangkus yang pandai menarik massa.
  • Billy adalah seorang pemimpin dengan kewenangan karismatis yang unggul. Karena itulah ia mempunyai akses untuk berhubungan karib dengan para presiden dan para pemimpin sekuler.
  • Pengaruh Billy di masyarakat semakin kuat karena ia membangun tim yang merupakan asosiasi yang ditangani secara profesional (Billy Graham Evangelistic Assosiation). Sekalipun merupakan kelompok besar, tim itu terdiri dari orang-orang yang berkomitmen yang menjalin hubungan gemeinchaft satu sama lain.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Kuiper, Arie de. Missiologia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Marantika, Chris. Theologia Pertumbuhan Gereja. Diktat Kuliah.

Susan, Novri. Sosiologi Konflik: Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana, 2009.

White, John. Gereja dan Yayasan Penginjilan. Malang: Gandum Mas, 1983.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah bagaimana cara memahami persoalan gereja dan penginjilan sebagai persoalan sosiologis?

PERTANYAAN KUNCI

(1) Jelaskan pengertian gereja secara sosiologis, (2) Jelaskan pengertian penginjilan secara sosiologis.

Kunci Jawaban (1) Secara sosiologis, gereja lokal merupakan sebuah kelompok sosial (social group) atau komunitas (community). Dilihat dari kehidupan dan organisasinya, bisa merupakan sebuah kelompok primer yang kecil yang bersifat gemeinchaft atau kelompok sekunder yang besar yang hubungan-hubungan di antara para anggotanya tidak begitu erat berdasar kekeluargaan. Sebagai sebuah kelompok sosial atau komunitas, gereja lokal akan berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat. Dengan demikian pasti akan ada proses-proses sosial yang terjadi, baik yang asosiatif maupun disosiatif. (2) Penginjilan secara sosiologis adalah proses merekrut orang untuk menjadi anggota gereja (komunitas Kristen) dengan cara mengarahkannya untuk memahami dan menerima ajaran Kristen. Dengan demikian penginjilan merupakan proses interaksi sosial. Gereja (orang Kristen) adalah komunikator dalam proses penginjilan dan orang non Kristen adalah komunikan. Penginjil melakukan kontak dengan para komunikan itu, baik secara primer maupun sekunder. Setelah kontak itu, penginjil mengkomunikasikan pesan pengajaran Kristen. Responnya berupa feedback, yaitu penerimaan atau penolakan. Secara sosiologis, penginjilan Kristen adalah bentuk akomodasi yaitu pendekan yang bersifat damai tanpa ada unsur kekerasan dan paksaan.

TUGAS

(1) Daftarkan lebih banyak masalah sosial yang dihadapi dan dialami oleh gereja Kristen di tengah masyarakat, (2) Daftarkan lebih banyak masalah sosial yang dihadapi dan dialami dalam proses penginjilan Kristen, (3) Telitilah sebuah kasus masalah sosial yang saat ini sedang dihadapi oleh gereja lokal di tempat mana mahasiswa beribadah

E. PELAYANAN & KEPEMIMPINAN KRISTEN

•October 21, 2009 • Leave a Comment

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar pertama (KD 5), yaitu mahasiswa dapat memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan pelayanan dan kepemimpinan Kristen (1) Memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan pelayanan Kristen (2) Memerinci aspek-aspek sosiologis dalam pengembangan kepemimpinan Kristen

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini membimbing kepada penajaman analisa sosiologis atas kegiatan-kegiatan pelayanan dan kepemimpinan Kristen. Sama seperti pada bab sebelumnya, pelajaran ini merupakan tinjauan atas aspek-aspek sosiologis dari kegiatan kekristenan, dalam hal ini kegiatan pelayanan dan kepemimpinan. Sedangkan aspek teologinya merupakan kajian pada mata perkuliahan teologi.

MATERI

Pendahuluan

Pelayanan Kristen pada dasarnya terus berkembang dengan keberagamannya. Dalam bab ini hanya akan dibahas tentang pelayanan pujian-penyembahan (ibadah) dan pelayanan pendidikan (pemuridan) di dalam gereja. Sedangkan kepemimpinan Kristen yang dibahas adalah kepemimpinan yang terkait dengan urusan internal (ke dalam lingkup masyarakat Kristen, gereja) dan urusan eksternal (ke luar, ke masyarakat luas).

Pelayanan Kristen

Untuk mendefinisikan konsep pelayanan Kristen perlu dikaitkan dengan fungsi gereja. Menurut Chris Marantika, fungsi gereja mencakup tiga hal. Pertama fungsi rohani, yaitu ibadah, pemuaan, pujian, dan doa. Kedua, fungsi ke dalam yaitu persekutuan, pendidikan, pembinaan, dan pendisiplinan para anggota. Ketiga, fungsi ke masyarakat, yaitu penginjilan, pelayanan, pengajaran, dan peneguran.

Menurut Peter Wagner, pelayanan Kristen mencakup kegiatan rohani yang sangat luas karena mencakup kemampuan-kemampuan yang diberikan Tuhan supaya orang-orang Kristen (anggota gereja) bisa memberi kontribusi bagi pembangunan kehidupan rohani jemaat (2000, hal 11). Wagner mengidentifikasi minimal ada 27 karunia rohani yang berarti bisa mengembangkan minimalnya 27 jenis pelayanan (belum termasuk pelayanan-pelayanan yang bersifat gabungan, kombinasi, atau modifikasi). Beberapa bentuk pelayanan itu antara lain pelayanan mengajar, pelayanan nubuat, pelayanan memberi nasihat (konseling dan sejenisnya), pelayanan membagi berkat (bantuan sosial), pelayanan pendidikan (pengetahuan), pelayanan penyembuhan illahi, pelayanan doa mujizat, pelayanan kerasulah, pelayanan pemberian pertolongan, pelayanan administrasi (kepengurusan, organisasi), pelayanan penggembalaan (pembinaan umat), pelayanan menjadi misionaris, pelayanan doa syafaat, pelayanan pengusiran setan (pelepasan), dan sebagainya.

Dalam aktifitas kegerejaan, pelayanan Kristen lazim disebut sebagai ministry (ministries). Ministry diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan keagamaan yang dalam konteks Kristen merupakan bentuk pelayanan yang diberikan gereja. Menurut Concise Oxford English Dictionary, ministry is the work, vocation, or office of a minister of religion. spiritual service to others provided by the Christian Church. Karena itu berkembanglah berbagai istilah seperti worship ministry (pelayanan ibadah/penyembahan), teaching ministry (pelayanan pengajaran), prayer ministry (pelayanan doa), deliverance ministry (pelayanan pelepasan/pengusiran setan), pastoral ministry (pelayanan penggembalaan/pembinaan umat/jemaat). Bahkan sekarang ada istilah creative ministry (pelayanan kreatif yang biasanya menunjuk pada pelayanan anak-anak muda yang bersifat kreatif).

Meskipun pelayanan-pelayanan itu berhubungan dengan hal-hal rohani yang bersifat ”vertikal” (berkaitan dengan hal ketuhanan), pastilah mempunyai dimensi sosial (horizontal, hubungan antar manusia). Hal itu terjadi karena setiap pelayanan tersebut berkaitan dengan pembinaan dan penggalanga aktifitas umat (jemaat).

Dengan demikian, setiap pelayanan Kristen mempunyai aspek sosiologis dan berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Hal itu yang di satu terkadang kurang diperhatikan oleh orang-orang Kristen. Mereka hanya memikirkan aspek kerohaniannya saja. Namun di sisi lain aspek-aspek sosial dari pelayanan itulah yang sering dimanfaatkan orang-orang Kristen untuk mencapai tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan tertentu yang ”tidak rohani”. Untuk pengkajian lebih detil bisa dipelajari kasus-kasus sebagai berikut.

Kasus 1

Ibadah Kristen telah mengalami perubahan demi perubahan. Pada gereja-gereja Kristen aliran Protestan, ibadah dijalankan secara liturgis dan bersifat seremonial. Sedangkan dalam gereja-gereja aliran Pentakostal-Karismatik, ibadah bersifat lebih santai dengan lagu-lagu rohani bernuansa populer yang membawa emosi jemaat. Dalam konsep Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), pelayanan pujian-penyembahan dalam ibadah didisain bagaikan sebuah atraksi panggung (seni pertunjukan) lengkap dengan pemimpin utama (song leader, worship leader), para penyanyi, pemain tamborin, penari latar (dancer), pembawa bendera-bendera (flag) dan tim musik lengkap. Masing-masing gereja dan aliran Kristen mempunyai alasan teologis Alkitabiah sendiri-sendiri untuk melegitimasi pola atau desain pelayanan pujian-penyembahan mereka. Robert Nio Tjoe Siang memberikan komentar agak miring mengenai trend pelayanan pujian-penyembahan gereja-gereja Kristen masa kini (2004, hal 50-53). Menurut pengamatan Robert, saat ini gereja tidak bisa dibedakan dengan cafe. Mulai dari rap, rock, disco, soul, sampai dangdut, semuanya ada. Kita tidak lagi bisa membedakan antara rock music show dengan acara KKR. Apalagi banyak sekali artis atau penyanyi sekuler yang terjun dalam pelayanan pujian-penyembahan meskipun tidak memenuhi kualifikasi kerohanian seperti kesucian hidup dan komitmen di dalam pelayanan.

Kasus perkembangan pelayanan pujian-penyembahan seperti di atas dapat dijelaskan secara sosiologis sebagai berikut:

  • Pengembangan pelayanan pujian-penyembahan yang bernuansa pop culture seperti itu berkaitan dengan usahan gereja masa kini untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Injil ke masyarakat modern dan juga ke kalangan generasi muda. Supaya terjadi in tune maka ibadah Kristen didisain sesuai selera masyarakat (komunikan, penerima pesan) sehingga direspon dengan positif. Bahkan ada beberapa penyanyi ibadah Kristen yang menampilkan gaya panggung (showmanship, stage act) persis seperti gaya sekuler (memakai anting, menorehkan tatto, dan berpakaian anak muda). Tujuannya adalah menarik perhatian dengan cara menyesuaikan dengan selera yang ada.
  • Di sisi lain, kasus di atas bisa jadi menunjukkan telah terjadinya pergeseran nilai-nilai dan norma-norma Kristen. Ibadah yang dulu dimaknai sebagai sesuatu yang sakral (maka berkembang istilah ”sakramen”) kini dimaknai sebagai sesuatu yang profan. Nilai dan norma kesucian tidak lagi diutamakan. Bahkan artis dan musisi yang tidak berkualifikasi rohani pun (misalnya hidup puritan) diperbolehkan ikut mengambil bagian dalam pelayanan.
  • Penampilan fisik seringkali menjadi simbol status (status symbol) kelas tertentu. Musik populer, entertainment, dan penampilan pupuler lengkap dengan segala ”budaya materi” pendukungnya dianggap sebagai simbol status kelas menengah ke atas. Mungkin, kasus pelayanan di atas berkaitan dengan usaha mendongkrak dan mencitrakan kekristenan sedemikian rupa sehingga diminati masyarakat yang ingin menaikkan citra dan selera dirinya.
  • Gaya pelayanan di atas semula merupakan sub kultur karena lahir dari aliran baru (Pentakosta-Karismatik) yang bukan merupakan arus utama. Tetapi sekarang, sejalan dengan merebaknya aliran baru itu, gaya pelayanan ibadah seperti itu mulai mendominasi dan bahkan menjadi arus utama yang besar.
  • Kurangnya kontrol sosial juga menyebabkan merebaknya gaya pelayanan yang berbau entertainment dan profan seperti itu. Para pemimpin dan gereja kurang memberi masukan-masukan kritis yang bersifat evaluatif.
  • Kasus di atas juga merupakan masalah perubahan sosial. Bisa jadi itu merupakan proses ”westernisasi” atau difusi dan akulturasi budaya Barat. Padahal, pelayanan pujian penyembahan sebenarnya bisa saja dikemas dalam budata ”eastern” misalnya dengan musik-musik tradisional khas Indonesia. Proses westernisasi itu juga dipercepat oleh peran para agents of change seperti para musisi, para pencipta lagu rohani populer, para penggerak pelaanan itu sendiri, dan para bisnisman yang memanfaatkan peluang bisnis lewat pelayanan ini.

Kasus 2

Pemuridan merupakan salah satu bentuk pelayanan Kristen yang penting. Ada gereja-gereja yang kurang memperhatikan pelayanan ini. Namun ada banyak gereja yang mengembanglan pelayanan pemuridan ini dengan begitu baik. Gereja membuat seminar-seminar yang bersifat pengajaran, dengan mengangkat topik-topik terkini yang praktis. Jemaat juga diajar dalam pembinaan melalui kelompok-kelompok kecil yang disebut kelompok sel (cell group). Setiap kelompok sel itu ada pemimpin yang sekaligus pengajar. Tugas pemimpin itu bukan hanya mengajar namun juga membimbing orang-orang di dalam kelompoknya supaya mengalami perkembangan kerohanian. Untuk mempercepat proses pemuridan, gereja lokal menerbitkan bahan-bahan ajar yang lengkap dan menarik. Ada juga semacam pendidikan khusus yang lazim disebut SOM (Sekolah Orientasi Melayani).

Secara sosiologis, pelayanan pemuridan itu dapat dipahami sebagai berikut

  • Pemuridan pada dasarnya merupakan proses pendidikan yang merupakan proses penanaman nilai-nilai atau norma-norma (proses sosialisasi dan enkulturasi). Pendidikan merupakan proses pewarisan kebudayaan. Dalam hal ini adalah penanaman dan pewarisan doktrin-doktrin agama Kristen.
  • Metode pendidikan itu dilakukan di dalam kelompok sosial (komunitas gereja). Ada beberapa gereja yang melakukan pemuridan itu dalam kelompok-kelompok kecil (small group). Ini lebih intensif karena suasana di dalamnya bersifat gemeinschaft sehingga penanaman nilai-nilai itu tidak terasa sebagai sebuah pemaksaan.
  • Karena pendidikan itu dilakukan dalam kelompok maka peran pemimpin (penguasa) sangat penting. Jika ada pemimpin yang dianggap memiliki kewenangan karismatis maka para anggota akan memiliki ketaatan yang sifatnya lebih emosional. Seringkali yang terjadi adalah proses imitasi di mana para anggota mengikuti ajaran dan gaya hidup persis seperti pemimpinnya. Proses itu bertambah kuat manakala si pemimpin melakukan intimidasi.
  • Pemuridan yang merupakan proses transfer pengajaran berkaitan dengan sistem pengetahuan. Pelajaran agama Kristen pada dasarnya merupakan sistem pengetahuan yang terus berkembang. Proses percampuran dengan pengetahuan-pengetahuan lain di luar pengetahuan teologi Kristen bukan tidak mungkin terjadi sehingga ajaran yang ada sekarang seringkali merupakan pencampuradukan antara berbagai pengetahuan yang ada. Karena itu ada sebagian aliran Kristen yang secara kaku membatasi ajarannya, yaitu hanya bersumber pada Alkitab. Sementara yang lain bebas menarik masuk pengetahuan-pengetahuan sekuler untuk memperkaya wawasan.

Kepemimpinan Kristen

Alkitab memberikan porsi tersendiri bagi pengajaran tentang kepemimpinan. Tuhan Yesus memberikan ajaran-ajaran-Nya yang khas tentang kepemimpinan itu. Misalnya Ia mengatakan bahwa siapa yang hendak menjadi pemimpin haruslah ia menjadi pelayan atau hamba (Mat 20:26). Rasul Paulus mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu bukan hanya harus berkapasitas namun bisa menjadi teladan dan pembina sebagai seorang “bapa rohani” (1 Kor 4:15-16).

Menurut LeRoy Eims, kepemimpinan Kristen terlihat dari kekhasannya dalam bersikap terhadap orang lain (2001, hal 73, 113). Pertama, ia haruslah seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, memimpin dengan hati dan sikap melayani/sebagai hamba (Mat 20:25-28). Kedua, memiliki kepedulian social yang tinggi, istimewa terhadap kehidupan orang-orang yang menderita (Mrk 8:1-3). Ketiga, memberi dampak positif kepada para pengikut dan orang-orang lain dengan menunjukkan kapasitas, integritas, dan semangat juang yang tinggi.

Jerry C. Woffrod juga menekankan bahwa kepemimpinan Kristen sebagaimana mengacu pada Yesus Kristu sebagai modelnya, adalah kepemimpinan yang berdampak kepada kehidupan orang-orang lain (2001, hal 14-27). Pertama, kepemimpinan Yesus membawa perubahan kehidupan banyak orang, menjadikan kehidupan manusia lebih baik. Yesus adalah Sang Agen Pembaharu yang selalu menentang status quo. Kedua, Yesus adalah Pribadi pemimpin yang kapasitas-Nya diakui para pengikut-Nya. Ketiga, pemimpin yang mengayomi sebagai seorang Gembala. Keempat, Yesus adalah pemimpin yang melayani banyak orang. Kelima, Yesus adalah pemimpin yang menjadi model, teladan bagi banyak orang. Dengan kelima kapasitas itulah Yesus adalah Pemimpin yang mengubahkan kehidupan masyarakat.

Secara sosiologis masalah kepemimpinan berkaitan dengan masalah kekuasaan dan wewenang. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, kepemimpinan akan efektif jika memiliki basis social (social basis) yang kuat (Soerjono Soekanto, 1990, hal 325). Tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah (1) memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi para pengikutnya, (2) mengawasi, mengendalikan, menyalurkan perilaku para pengikutnya, (3) bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpinnya itu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 326). Adapun metode memimpin bisa beragam, misalnya memimpin secara otoriter atau secara demokratis. Pemimpin otoriter selalu mengembil keputusan dan menentukan kebijakan secara sepihak. Sedangkan pemimpin yang demokratis mengutamakan musyawarah.

Kasus 3

Para pemimpin Kristen tertentu sangat menekankan prinsip “penundukan diri” di dalam kehidupan gerejanya. Ia sering mendasarkan prinsip itu pada contoh-contoh di dalam Alkitab. Misalnya contoh dari tokoh Daud, yang tetap tunduk dan menghormati raja Saul sekalipun raja itu jahat. Pemimpin Kristen ini juga menolak bentuk-bentuk kritik yang dilontarkan kepada dirinya. Alasannya adalah karena sikap mengkritik itu merupakan bentuk pemberontakan. Bahkan sikap senang mengkritik itu merupakan sikap yang bersifat satanis (disebut sebagai “roh kritik”).

Kasus itu dapat dipahami secara sosiologis sebagai berikut

  • Kepemimpinan semacam itu merupakan jenis kepemimpinan yang orotiter yang ciri-cirinya (1) menentukan segala kegiatan kelompoknya secara sepihak, (2) tidak mengajak kelompoknya untuk ikut serta merumuskan tujuan-tujuan bersama, (3) pemimpin itu terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut proses interaksi dalam kelompok itu (Soerjono Soekanto, 1990, hal 327).
  • Pemimpin sering menggunakan pengajaran, nilai-norma tertentu, atau ideology tertentu untuk melegitimasi wewenangnya. Pemimpin agama terkadang menggunakan ajaran-ajaran agama tertentu untuk melakukan pembenaran diri dan pembenaran atas kepemimpinannya.
  • Hal lain yang sering dipakai untuk melegitimasi kekuasaan dan wewenang seorang pemimpin agama adalah mencitrakan diri sebagai orang yang diberi wewenang karismatis. Misalnya dengan mengatakan bahwa dirinya mendapat wahyu kusus dari Tuhan atau dirinya memiliki karunia supranatural secara khusus.
  • Pemimpin sering menggunakan metode-metode intimidatif untuk menakut-nakuti pengikutnya sedemikian rupa sehingga para pengikutnya itu hanya bisa taat begitu saja.

Kasus 4

Berikut adalah cuplikan dari buku “Panggilan menjadi Agen-agan Transformasi” (Haryadi Baskoro, 2009, hal 29). Seorang pendeta Kristen hanya dibekali pelajaran teologi di kampus atau seminarinya. Ia kurang belajar bidang-bidang lain. Sehingga, ketika ada masalah politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain yang terjadi di masyarakat, ia tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia tidak bisa memberi pemikiran-pemikiran originalnya. Ia juga tergagap-gagap untuk mengkomunikasikan pesan Firman Tuhan kepada masyarakat. Tidak tahu bagaimana cara membawa teologi ke ranah publik. Sebaliknya, kaum awam Kristen yang bekerja di dunia sekuler kurang dibekali kemampuan teologi praktis untuk bisa menjadi saksi Kristus di marketplace. Akibatnya, mereka bekerja hanya untuk mencari uang. Kekristenan hanya dijadikan sarana untuk mendapatkan pertolongan Tuhan sehingga pekerjaannya sukses (teologi kemakmuran). Mereka tidak diajarkan bagaimana menjadi agen pembaharu Kristen di dunia kerja. Kaum muda Kristen tidak mempunyai semacam idealisme untuk bangsa dan negara. Pelajaran-pelajaran Alkitab dan seminar-seminar kepemudaaan Kristen cenderung berkisar pada pembahasan masalah siklus kehidupan. Misalnya bagaimana pacaran yang baik, bagaimana mempersiapkan pernikahan, bagaimana menjadi pria sejati dan wanita bijak. Itu sudah sangat bagus karena meningkatkan kualitas kerohanian. Tetapi, tidak cukup hanya itu. Kaum muda Kristen harus dimotivasi dan dibekali untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan sehingga dapat misalnya, berdampak di parlemen, berdampak di dunia pendidikan, berdampak di dunia hukum, dan seterusnya. Dan, hal itu membutuhkan pembinaan multi kompetensi yang bukan melulu kompetensi rohani. Dalam hal multi kompetensi, orang Kristen perlu belajar dari Katolik. Perhatikan saja misalnya Romo Mangunwijaya. Dia bukan hanya seorang pastur (rohaniawan), tetapi dikenal luas sebagai arsitek, budayawan, novelis, dan pejuang sosial. Karya-karya dan aksi-aksinya menyentuh kehidupan kaum papa, mengentaskan nasib mereka dan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Romo Mangun bisa melancarkan dampak seperti itu karena ia memiliki multi kompetensi, bukan hanya kompetensi rohani dan tologia.

Masalah tersebut dapat dipahami secara sosiologis sebagai berikut:

  • Kepemimpinan yang dijalankan belum tuntas karena salah satu tugas utama pemimpin adalah mewakili kelompok yang dipimpinnya ke dunia di luar kelompok itu. Jika para pendeta hanya bisa menjadi “jago kandang” sebenarnya ia belum menjalankan tugas tersebut.
  • Pemimpin serusnya menjalankan tugas sebagai agen pembaharu masyarakat yang mana untuk tugas itu diperlukan beberapa kompetensi karena harus bisa berkontak dan berkomunikasi dengan masyarakat luas.
  • Orang yang bisa memimpin kelompok sendiri belum tentu mangkus untuk berdampak ke dunia yang lebih luas. Apalagi jika orang-orang yang dipimpinnya itu berada dibawah kendali penuh di tangannya yang otoriter. Melalui proses “pembodohan” para pemimpin bisa mengendalikan orang-orang yang dipimpinnya. Namun untuk berdampak keluar, di tengah masyarakat yang cerdas, kritis, dan demokratis, seorang pemimpin harus memiliki multi kompetensi dan ketrampilan memimpin yang lebih berkualitas.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Baskoro, Haryadi. Panggilan menjadi Agen-agen Transformasi. Yogyakarta: Pena Persada, 2009.

Eims, LeRoy. Jadilah Pemimpin Sejati. Batam Centre, Gospel Press, 2001.

Wagner, Peter. Manfaat Karunia-karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja. Malang:Gandum Mas, 2000.

Wofford, Jerry C. Kepemimpinan Kristen yang Mengubahkan. Yogyakarta: ANDI, 2001.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini  adalah bagaimana cara memahami masalah pelayanan Kristen dan kepemimpinan Kristen dari sudut pandang sosiologis.

PERTANYAAN KUNCI

(1) Jelaskan pengertian pelayanan Kristen secara sosiologis. (2) Jelaskan kepemimpinan Kristen secara sosiologis

Kunci Jawaban

(1) Pelayanan Kristen merupakan pelaksanaan fungsi gereja (komunitas Kristen) sebagai sebuah kelompok sosial. Pelayanan itu mencakup kegiatan-kegiatan rohani yang bersifat ”vertikal”, pembinaan umat atau jemaat, dan pelayanan yang bersifat kemasyarakatan. Meskipun pelayanan-pelayanan itu berhubungan dengan hal-hal rohani yang bersifat ”vertikal” (berkaitan dengan hal ketuhanan), pastilah mempunyai dimensi sosial (horizontal, hubungan antar manusia). Hal itu terjadi karena setiap pelayanan tersebut berkaitan dengan pembinaan dan penggalanga aktifitas umat (jemaat). (2) Secara sosiologis masalah kepemimpinan berkaitan dengan masalah kekuasaan dan wewenang. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, kepemimpinan akan efektif jika memiliki basis social (social basis) yang kuat (1990, hal 325). Tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah: memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi para pengikutnya; mengawasi, mengendalikan, menyalurkan perilaku para pengikutnya; bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpinnya itu.

TUGAS

(1) Daftarkan lebih banyak aspek-aspek sosial yang dihadapi dan dialami dalam pelayanan Kristen (2) Daftarkan lebih banyak aspek-aspek sosial yang dihadapi dan dialami dalam kepemimpinan Kristen. (3) Rancangkanlah sebuah pelayanan Kristen (pelayanan gereja) yang berdampak bagi masyarakat luas (non Kristen). (4) Buatlah model kepemimpinan pendeta Kristen yang berdampak luas kepada masyarakat umum

Hello world!

•September 14, 2009 • 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.