D. GEREJA & PENGINJILAN

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

Kompetensi Dasar yang handak dicapai pada bab ini adalah Kompetensi Dasar pertama (KD 4), yaitu mahasiswa dapat memerinci masalah-masalah sosial apa yang dihadapi gereja di masyarakat. Indikator-indikator tercapainya kompetensi itu adalah: (1) Memerinci masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh gereja lokal. (2) Memerinci masalah-masalah sosial dalam proses penginjilan

DESKRIPSI SINGKAT

Bab ini mengarah pada penyelidikan sosiologis yang terkait dengan masalah gereja dan penginjilan yang dengan demikian terkait dengan pelajaran ekklesiologi dan misiologia. Penekanan dalam pelajaran ini adalah pengkajian aspek sosiologisnya sedangkan aspek teologinya tentu lebih banyak dipelajari dalam kedua bidang teologis sistematis tersebut.

MATERI

Pendahuluan

Masalah gereja dan penginjilan tidak hanya berdimensi spritual atau rohani tetapi juga berdimensi sosial (sosiologis) karena berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Pelayanan gereja dan penginjilan seringkali menemui kegagalan dan bahkan kekonyolan karena tidak memperhitungkan aspek-aspek sosiologis.

Masalah Sosial yang Dihadapi Gereja

Istilah gereja menurutt Earl Radmacher sebagaimana dikutip White menunjuk pada pengertian teknis dan pengertian kiasan (White, 1983, hal 90). Dalam pengertian teknis, gereja berarti kumpulan orang-orang Kristen setempat (komunitas Kristen di wilayah tertentu). Sedangkan dalam pengertian kiasan, gereja berarti keseluruhan orang-orang Kristen (gereja am). Istilah gereja (ekklesia) yang digunakan dalam surat Paulus di Efesus menunjuk pada gereja am tersebut (Ef 1:22,23; 3:10, 21; 5:23, 24, 25, 27, 29, 30). Menurut White, 90 dari 114 kata ekklesia dalam Alkitab Perjanjian Baru menunjuk pada orang-orang Kristen setempat (komunitas Kristen, jemaat lokal, gereja lokal) (White, 1983, hal 94).

Gereja lokal yang dilaporkan dalam Alkitab bisa berjumlah besar maupun kecil. Menurut White, ada gereja lokal yang hanya sebesar sebuah keluarga (rumah tangga) (White, 1983, hal 95). Pesat rasul Paulus dalam surat Roma 16:5 (”Salam juga kepada jemaat di rumah mereka”) menunjukkan bahwa gereja lokal yang ada di sana hanyalah merupakan sebuah pertemuan ibadah keluarga.

Menurut Chris Marantika, gereja lokal mempunyai tiga fungsi mendasar. Pertama fungsi rohani, yaitu ibadah, pemuaan, pujian, dan doa. Kedua, fungsi ke dalam yaitu persekutuan, pendidikan, pembinaan, dan pendisiplinan para anggota. Ketiga, fungsi ke masyarakat, yaitu penginjilan, pelayanan, pengajaran, dan peneguran. Menurut Don Hoke sebagaimana dikutip Marantika, gereja lokal harus mempunyai fokus untuk memberitakan Injil.

Secara sosiologis, gereja lokal merupakan sebuah kelompok sosial (social group) atau komunitas (community). Dilihat dari kehidupan dan organisasinya, bisa merupakan sebuah kelompok primer yang kecil yang bersifat gemeinchaft atau kelompok sekunder yang besar yang hubungan-hubungan di antara para anggotanya tidak begitu erat berdasar kekeluargaan.

Sebagai sebuah kelompok sosial atau komunitas, gereja lokal akan berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat. Dengan demikian pasti akan ada proses-proses sosial yang terjadi, baik yang asosiatif maupun disosiatif. Untuk memahaminya bisa dipelajari kasus-kasus sebagai berikut.

Kasus 1

Umat Kristiani (Kristen dan Katolik) Yogyakarta selayaknya bersyukur karena selama ini, sejak tahun 2003 silam, diperkenankan untuk merayakan Natal bersama di Pagelaran Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Sementara umat Kristiani di tempat-tempat lain di Indonesia merayakan Natal dengan was-was karena trauma teror bom dan kerusuhan, umat Kristiani di Yogyakarta justru menerima kesempatan istimewa…. Dalam pidato jumenengan pada tanggal 7 Maret 1989 yang berjudul “Tahta bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat”, Sri Sultan HB X menyatakan untuk senantiasa hangrengkuh siapa pun, merangkul semua pihak. Sejauh ini, HB X telah menunjukkan konsistensinya, khususnya dalam memberi perhatian kepada berbagai kelompok agama.  Pada tanggal 13 Februari 1999, HB X memberikan sekitar 200 hektar tanah milik Kraton di kawasan Kotagede-Piyungan untuk dijadikan Perkampungan Islam Internasional (International Islamic Village). Dedikasi itu disambut penuh antusias oleh 29 Duta Besar dari negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam). Jika kemudian HB X memberi kesempatan istimewa bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal di teras istana Kraton (Pagelaran), hal itu menunjukkan sikapnya sebagai seorang raja yang adil. (Haryadi Baskoro, Ketika Natal Dirayakan di Kraton – artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 26 Desember 2007)

Peristiwa Natal di Yogyakarta tersebut dapat dijelaskan secara sosologis sebagai berikut:

  • Masyarakat Yogyakarta merupakan masyarakat heterogen (majemuk) dengan beragam agama dan suku bangsa. Meski demikian, sistem nilai di sini menjaga interaksi sosial supaya senantiasa akomodatif. Kerjasama antar suku-ras-agama semakin terpelihara karena semakin diperkuatnya visi the city of  tolerant. Nilai-nilai kebersamaan juga telah terbangun sejak jaman dulu. Berikut adalah cuplikan artikel opini Sudomo Sunaryo (artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, 21 Mei 2009). ”Sejak berdirinya, Kasultanan Yogyakarta merupakan sebuah komunitas yang heterogen atau plural (Subkhan, 2007). Mulai tahun 1900-an muncul nama-nama kampung yang berdasarkan etnis para warganya. Kampung Kranggan didominasi etnis Cina. Kampung Sayidan didiami orang-orang Arab. Kampung Menduran merupakan kawasan orang-orang Madura. Kampung Bugisan ditinggali oleh orang-orang Bugis. Nama-nama kampung di Yogya juga menunjukkan keberagaman profesi masyarakatnya. Kampung-kampung di wilayah Kraton (jeron beteng) dinamai berbeda-beda sesuai profesi masyarakatnya. Misalnya, kampung Mantrigawen (warganya adalah abdi dalem pegurus rumah tangga Kraton), kampung Siliran (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyalakan lampu penerangan), kampung Patehan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menyediakan minuman teh), kampung Nagan (warganya adalah abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan), dan kampung Kauman (warganya adalah abdi dalem yang bertugas dalam bidang keagamaan). Sekalipun sangat beragam, Yogyakarta terkenal dengan toleransi dan keharmonisannya. Karena itu Yogya dijuluki sebagai “the city of tolerance” dan “the city of harmony”. Kedamaian seperti itu sudah terjadi sejak dulu.  Menurut catatan Subkhan (2007), pada jaman HB II pernah ada seorang keturunan Tionghoa menjabat Bupati Kota Yogyakarta. Namanya adalah Raden Tumenggung Setyadiningrat alias Tan Jin Sing. Di Yogya tidak pernah terjadi konflik Jawa-Cina sebagaimana terjadi di kota-kota lain.”
  • Di masyarakat Yogyakarta terdapat kepemimpinan yang berkewenangan karismatis yang dihormati dan ditaati oleh segenap rakyat. Berikut adalah cuplikan artikel Haryadi Baskoro (artikel opini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 26 Desember 2007). ”Kesempatan istimewa yang diberikan bagi umat Kristiani untuk merayakan Natal bersama di Kraton menunjukkan kearifan Sultan sebagai seorang pemimpin. Sejak Kasultanan Yogyakarta berdiri pada tahun 1755 (Perjanjian Giyanti), Sultan HB I dan penerusnya mempunyai gelar Senapati ing Ngalaga Ngabdul Rahman Sayidin Panata Gama Kalifatullah. Artinya, Sultan adalah seorang pemuka dan pemimpin agama. Kalau kemudian Sultan HB X sebagai pewaris tradisi Mataram Islam mengijinkan umat non-Islam beribadah di Kraton, hal itu sangat luar biasa.”

Kasus 2.

Di beberapa wilayah di Indonesia telah terjadi konflik berbau SARA (suku-ras-agama). Gereja-gereja mengalami tekanan. Gedung-gedung gereja dirusak, dibakar, dihancurkan. Banyak pula orang Kristen dianiaya dan bahkan dibunuh. Namun, tidak sedikit pula orang Kristen yang berbuat tidak benar dengan melancarkan pembalasan – bahkan ada yang mendahuli (memancing) konflik. Akibatnya, perpecahan dan peperagan antar kelompok agama pun terjadilah. Bukan hanya rumah-rumah ibadah Kristen yang rusak, rumah-rumah ibadah lain juga hancur. Kehancuran terjadi di semua pihak. Kehidupan yang semula damai dan harmonis dalam semangat persatuan Indonesia pun hancur lebur!

Penjelasan sosiologis atas kasus itu adalah sebagai berikut:

  • Konflik SARA pada dasarnya adalah proses sosial yang bersifat disosiatif yang mungkin dimulai dari proses kontravensi yang berkembang menjadi pertikaian/pertentangan. Untuk mengatasi kondisi itu diperlukan langkah-langkah akomodasi seperti conciliation, arbitration, dan mediation.
  • Konflik-konflik SARA juga sering terjadi karena adanya pemimpin berkewenangan karismatis yang memancing emosi umat untuk bertindak fundamentalistik. Karena itu setiap pemimpin agama harus bisa menanamkan nilai-nilai kedamaian dan cinta kasih melalui kewenangan karismatis mereka itu.
  • Sosiologi telah mengembangkan analisis mendalam mengenai masalah konflik sosial. Wehr dan Bartos misalnya, telah mengembangkan teknik pemetaan konflik sosial sebagai berikut (Novri Susan, 2009): (1) Specify the context: menelusuri informasi mengenai sejarah konflik dan bentuk fisik dan tata organisasi yang berkonflik, (2) Identify the parties: menemukan siapakah yang menjadi pihak-pihak yang berkonflik; pihak utama yang berkonflik adalah mereka yang menggunakan perilaku dan tindakan menekan (koersif) dan memiliki arah kepentingan dari hasil konflik, (3) Separate causes from consequences: memisahkan apa yang menjadi sebab akar konflik dengan akibat-akibat sampingan dari konflik itu, contoh: konflik suami istri: akar konfliknya adalah masalah ekonomi dan akibat sampingan konfliknya adalah saling menyalahkan, (4) Separate goals from interests: memisahkan antara goal dan kepentingan (interest), gol konflik = sasaran selama proses konflik, sifatnya spesifik, sedangkan kepentingan (interest)nya adalah konsekuensi secara keseluruhan yang diinginkan dari konflik oleh seluruh pihak terlibat, (5)  Understand the dynamics: memahami perkembangan-perkembangan konflik, (6) Search for positive function: menemukan bentuk-bentuk perilaku yang memungkinkan konflik bisa mengarah ke penyelesaian, (7) Understand the regulation potential: masalah bagaimana aturan legal (misalnya undang-undang) bisa menyelesaikan masalah konflik.
  • Model pemetaan sosiologi konflik yang dikembangkan oleh Amr Abdalla dari United Nations-University for Peace adalah Model ”SIPABIO” yang merupakan singkatan dari (Novri Susan, 2009): (1) SOURCE (sumber konflik), prinsipnya, sumber konflik yang berbeda akan menyebabkan tipe konflik yang berbeda pula, jadi harus ditemukan dulu apa sumber konfliknya (akar masalah konflik), (2) ISSUES (isu-isu), yaitu menunjuk pada saling keterkaitan tujuan-tujuan yang tidak sejalan di antara pihak-pihak yang bertikai, (3) PARTIES (pihak-pihak yang bertikai), pihak yang berkonflik adalah kelompok yang berpartisipasi dalam konflik, baik pihak konflik utama yang langsung berhubungan dengan kepentingan, pihak sekunder uah tidak secara langsung dengan kepentingan, dan pihak tersier yang tidak berhubungan dengan kepentingan konflik, (4) ATTITUDES/FEELING (sikap/perasaan), yaitu perasaan dan persepsi yang mempengaruhi pola perilaku konflik (bisa sikap positif bisa sikap negatif), (5) BEHAVIOR (perilaku), yaitu aspek tindak sosial dari pihak-pihak yang berkonflik, sifat perilaku itu bisa coercive action atau noncoercive action, (6) INTERVENTION (campur tangan pihak lain), yaitu tindakan sosial dari pihak netral hang ditujukan untuk membantu hubungan konflik menemukan penyelesaian, (7) OUTCOME (hasil akhir), yaitu dampak dari berbagai tindakan pihak-pihak berkonflik dalam bentuk situasi.
  • Manajemen konflik yang diajarkan dalam Alkitab pada dasarnya adalah ”manajemen kasih”. Tuhan Yesus mengajarkan supaya orang Kristen mengasihi musuh-musuhnya, kata-Nya, ”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Rasul Paulus juga menegaskan, ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku (hak Tuhan). Akulah (Tuhanlah) yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah dia minum. Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara di atas kepalanya (membuatnya malu). Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rom 12:17-21).

Masalah Sosial yang Dihadapi dalam Penginjilan

Misiolog Arie de Kuiper menjelaskan bahwa penginjilan mencakup masalah-masalah utama yaitu subyek penginjilan, obyek penginjilan, tujuan penginjilan, dan cara penginjilan (1996, hal 75). Mengenai subyek penginjilan, Kuiper menegaskan bahwa Tuhanlah yang mengutus (memberi mandat) dan gereja (komunitas orang Kristen) adalah pelaksana tugas penginjilan itu. Obyek penginjilan adalah manusia (masyarakat) yang belum menjadi Kristen. Tujuannya adalah supaya manusia-manusia itu mau menjadi Kristen sehingga menjadi umat Kristen. Dengan demikian penginjilan adalah proses pengembangan umat melalui ajakan untuk menjadi pengikut – suatu ciri alamiah dari setiap agama yang ada.

Tetapi di dalam teologia Kristen, menjadi Kristen diyakini sebagai suatu proses yang bersifat illahi. Artinya, bukan karena rekayasa, dorongan, apalagi paksaan manusiawi. Menjadi Kristen (percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat) merupakan hasil karya dan dorongan dari Roh Kudus (Tuhan sendiri). Adapun tugas penginjilan yang dilakukan oleh gereja (komunitas Kristen) sifatnya hanya memberitahukan jalan (menunjukkan kebenaran) tanpa memberi paksaan (kristenisasi).

Data dari Alkitab memang menunjukkan bahwa menjadi Kriten bukanlah rekayasa manusia. Bukan paksaan manusia. Sebagai contoh adalah pertobatan Paulus. Dulunya, Paulus adalah penganiaya umat Kristen. Namun, ketika hendak menganiaya orang Kristen, Tuhan Yesus menyatakan diri dalam bentuk sinar dan suara teguran yang akhirnya mempertobatkan dirinya sampai menjadi seorang rasul dan pemimpin Kristen (Kis 9).

Adapun sosiologi berbeda dengan teologia. Sosiologi adalah sains yang bersifat ilmiah sehingga tidak membahas masalah-masalah yang bersifat supranatural. Gejala-gejala yang bersifat supranatural dianalisa secara rasional. Demkian halnya dengan proses penginjilan yang menurut Iman Kristen adalah proses illahi, di mana sosiolog hanya dipahami sebagai proses sosial semata.

Penginjilan secara sosiologis adalah proses merekrut orang untuk menjadi anggota gereja (komunitas Kristen) dengan cara mengarahkannya untuk memahami dan menerima ajaran Kristen. Dengan demikian penginjilan merupakan proses interaksi sosial. Gereja (orang Kristen) adalah komunikator dalam proses penginjilan dan orang non Kristen adalah komunikan. Penginjil melakukan kontak dengan para komunikan itu, baik secara primer maupun sekunder. Setelah kontak itu, penginjil mengkomunikasikan pesan pengajaran Kristen. Responnya berupa feedback, yaitu penerimaan atau penolakan. Secara sosiologis, penginjilan Kristen adalah bentuk akomodasi yaitu pendekan yang bersifat damai tanpa ada unsur kekerasan dan paksaan. Untuk memahami bisa dilihat kasus di bawah ini.

Kasus 3

Billy Graham adalah penginjil  besar dengan prestasi hebat (Majalah BAHANA edisi April 1996). Ia telah mengkotbahkan Injil kepada 80-an juta orang dan hampir 3 juta orang meresponnya dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Dia telah berbicara kepada banyak orang lewat radio, televisi, dan film. Ia sudah mulai menyiarkan acara televisi Hour of Decision sejak 1957. Pada 1995, ketika sudah berusia 77 tahun, Billy berkotbah di kampanye penginjilan akbar di Puerto Rico dan dipancarkan dengan jaringan 30 satelit ke lebih dari 185 negara dan diterjemahkan dalam  116 bahasa. Billy adalah pengkotbah Kristen pertama yang berhasil berkotbah di depan umum di negeri komunis Cina setelah Perang Dunia II, Budapest (1989), dan Moskow Rusia (1992). Di Cina, ia telah mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Beijing (1988) dan Pyongyang (1992). Billy mempunyai hubungan karib dengan para pemimpin dunia. Ketika Eisenhower terpilih, ia membantu perencanaan inagurasi presiden AS  tersebut. Kecuali itu, melati waktu demi waktu,  Billy karib dengan 8 presiden AS  yang lainnya. Billy graham menjadi tokoh terkenal di masyarakat. Sejak tahun 1950-an ia telah masuk daftar tetap dari orang-orang Amerika yang paling dikagumi. Penelitian majalah Ladies’ Home Journal menempatkan dia sebagai pribadi nomor dua setelah Allah dalam kategori “pencapaian dalam agama”.

Kesuksesan pelayanan penginjilan Billy Graham dapat dijelaskan secara sosiologis sebagai berikut

  • Penginjilan adalah proses interaksi sosial di mana di dalamnya terjadi proses kontak dan proses komunikasi. Billy adalah penginjil yang piawai untuk melakukan kontak dengan berbagai masyarakat. Dia bisa masuk ke Beijing dan Rusia, masyarakat/bangsa yang tertutup itu.
  • Kontak yang dilakukannya bersifat kontak primer dan kontak sekunder. Billy bahkan menggunakan satelit untuk melancarkan kontak kepada sebanyak mungkin orang/masyarakat.
  • Billy juga pandai melancarkan komunikasi, yaitu membawakan pesan injil itu sendiri. Ia memakai berbagai bahasa untuk mebagikan pesan Injil  Ia sendiri dikenal sebagai seorang pembicara mangkus yang pandai menarik massa.
  • Billy adalah seorang pemimpin dengan kewenangan karismatis yang unggul. Karena itulah ia mempunyai akses untuk berhubungan karib dengan para presiden dan para pemimpin sekuler.
  • Pengaruh Billy di masyarakat semakin kuat karena ia membangun tim yang merupakan asosiasi yang ditangani secara profesional (Billy Graham Evangelistic Assosiation). Sekalipun merupakan kelompok besar, tim itu terdiri dari orang-orang yang berkomitmen yang menjalin hubungan gemeinchaft satu sama lain.

DAFTAR BACAAN TAMBAHAN

Beberapa buku lain yang dapat menjadi acuan mahasiswa untuk lebih dapat mencapai kompetensi yang hendak dicapai dalam mata kuliah ini selain buku-buku teks yang sudah disebut dalam kontrak perkuliahan adalah sebagai berikut:

Kuiper, Arie de. Missiologia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Marantika, Chris. Theologia Pertumbuhan Gereja. Diktat Kuliah.

Susan, Novri. Sosiologi Konflik: Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana, 2009.

White, John. Gereja dan Yayasan Penginjilan. Malang: Gandum Mas, 1983.

SOAL

Pertanyaan kunci untuk bab ini adalah bagaimana cara memahami persoalan gereja dan penginjilan sebagai persoalan sosiologis?

PERTANYAAN KUNCI

(1) Jelaskan pengertian gereja secara sosiologis, (2) Jelaskan pengertian penginjilan secara sosiologis.

Kunci Jawaban (1) Secara sosiologis, gereja lokal merupakan sebuah kelompok sosial (social group) atau komunitas (community). Dilihat dari kehidupan dan organisasinya, bisa merupakan sebuah kelompok primer yang kecil yang bersifat gemeinchaft atau kelompok sekunder yang besar yang hubungan-hubungan di antara para anggotanya tidak begitu erat berdasar kekeluargaan. Sebagai sebuah kelompok sosial atau komunitas, gereja lokal akan berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat. Dengan demikian pasti akan ada proses-proses sosial yang terjadi, baik yang asosiatif maupun disosiatif. (2) Penginjilan secara sosiologis adalah proses merekrut orang untuk menjadi anggota gereja (komunitas Kristen) dengan cara mengarahkannya untuk memahami dan menerima ajaran Kristen. Dengan demikian penginjilan merupakan proses interaksi sosial. Gereja (orang Kristen) adalah komunikator dalam proses penginjilan dan orang non Kristen adalah komunikan. Penginjil melakukan kontak dengan para komunikan itu, baik secara primer maupun sekunder. Setelah kontak itu, penginjil mengkomunikasikan pesan pengajaran Kristen. Responnya berupa feedback, yaitu penerimaan atau penolakan. Secara sosiologis, penginjilan Kristen adalah bentuk akomodasi yaitu pendekan yang bersifat damai tanpa ada unsur kekerasan dan paksaan.

TUGAS

(1) Daftarkan lebih banyak masalah sosial yang dihadapi dan dialami oleh gereja Kristen di tengah masyarakat, (2) Daftarkan lebih banyak masalah sosial yang dihadapi dan dialami dalam proses penginjilan Kristen, (3) Telitilah sebuah kasus masalah sosial yang saat ini sedang dihadapi oleh gereja lokal di tempat mana mahasiswa beribadah

~ by mujizatajaib on October 21, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: